Wednesday, March 05, 2014

Taklik Talak (Muallaq) dan Cara Rujuk


Taklik Talak (Muallaq) dan Cara Rujuk

TAKLIK TALAK DAN CARA RUJUK

Bismillahirro'hmaanirrohiim.

Assalamu'alaikum ustadz,
Saya ada beberapa pertanyaan terkait talak mu'allaq, rujuk, dan was was
Pertanyaan Pertama:

Ceritanya seingat saya dan istri seperti ini ustadz,

2 tahun yang lalu istri saya ada kontrak kerja sama suatu perusahaan, disana ada ketentuan kalau berhenti berkerja sebelum diangkat menjadi pegawai tetap dia bakal kena denda + Rp 15 Jt, nah waktu dulyu itu saya pernah bertengkar sama dia gara gara masalah kerjaan kemudian bahwa saya menjatuhkan talaq mu'allaq (istri saya juga bersumpah dgn nama Allah dan insyaAllah yakin 100% dia ingat kejadiannya sampai dia ingat baju yg saya pakai..ekpressi muka saya pas mengucapkan..dia bilang kejadian itu spt nya bakal terkenang selama hidup dia).

TOPIK KONSULTASI
  1. Taklik Talak (Muallaq) dan Cara Rujuk
  2. Talak dan Was-was
  3. ’Mentalak Istri Karena Terpaksa
  4. ’Talak Terpaksa Demi Keselamatan Istri atau Anak

Saya ancam talak nya seperti ini ngomongnya ke istri saya kurang lebihnya "Niat saya Kalau kamu tidak berhenti kerja pas kontrak kamu habis, saya akan memceraikan kamu, sambil saya menunjuk kemukanya dgn marah bgt).
Kemudian habis itu saya pergi naik motor ninggalan dia, pas saya d jalan dia sms sama nelpon saya, Cuman gak saya respon...sampai marah saya agak mereda sekitar 1jam an setelah saya pergi... telp dia saya angkat dan saya balik...cuman pas balik itu saya msh kondisi yg cukup marah, kemudian saya bilang ke dia kurang lebihnya seperti ini "Ok aku gak pergi, cuman bukan berarti ancaman talak saya yang td kucabut/aku lupa yah, aku tadi bener bener serius ngomongnya ke kamu, kalau kamu masih tidak berhenti kerja pas kontraknya habis, kamu bakalan saya cerai" .

Kontrak dia habis ditandai dengan diangkatnya dia sebagai pegawai tetap yakni tgl 01 Nopember 2013, cuman dia tetap bekerja dan saya izinkan, krn sebelumnya saya ada cabut kata kata ancaman saya jauh jauh bulan sebelum kontraknya habis, tapi setelah saya konsultasi sama beberap ustadz ternyata talak saya tetap jatuh krn itu tidak bisa ditarik.


Nah pak ustadz di kasus ini berapa cerai saya yg jatuh, apakah talak 1 atau 2 pada saat tgl 01 Nop 2013?
karena saya dulu saya ancamnya 2 kali cuman ancaman yg ke 2 yg setelah saya balik lg kerumah itu cuma menegaskan atau menguatkan ke istri saya bahwa saya bener bener serius lho pas ngomong diawal tadi, jangan kamu pikir cuman isapan jempol belaka (Niat saya cuman buat menguatkan/menegaskan aja ke istri saya sbg bukti bahwa saya benar2 serius, bukan maksudnya menjatuhkan talak 2),
saya was was karena saya ada baca sedikit ketentuan menjatuhkan talak dalam 1 majelis itu lho pak ustadz, saya jahil masalah agama

Pertanyaan ke 2: rujuk untuk talak mua'llaq diatas

Ini untuk kasus talak mu'allaq saya yg diatas pak ustadz yah yg jatuh tgl 01 Nopember 2013
Ceritanya:

Pada tanggal selasa malam tgl 21 januari 2014 (saat ini saya masih belum tau bahwa ada talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 Nopember 2013 krn saya pikir sudah saya tarik kata2 saya sebelumnya), saya dan istri saya bertengkar lg dimana ujung ujungnya saya menawarkan kepada istri saya, apabila dia minta cerai saya ikhlas menceraikan dia, alhamdulillah dia nya tidak mengiyakan dan dia bilang kalau "dia terserah saya aja kalau memang saya mau pisah/menceraikan dia, silahkan saya urus ke pengadilan agama, saya tidak mau pisah dengan istri saya, saya cuman disini nawarin aja.

Namun karena saya khawatir bahwa tawaran talak yg tgl 21 jan 2014 ini jatuh talak krn kejahilan masalah agama, maka pada saat ini saya bilang kepada istri saya bahwa saya rujuk dia dan dia mengiyakan (saya dan istri masih sama sama jahil dalam bidang agama pak ustadz, takut kalau tawaran talak saya ini ternyata menyebabkan jatuh talak).

Jadi pada kasus ini setelah saya konsultasi dengan beberapa ustadz, alhamdulillah tidak ada talak yang jatuh kata beliau beliau, terus setelah saya tau hal dimaksud saya infokan istri saya dan infokan juga bahwa rujuk kemaren itu bukan berarti saya talak dia, cuman krn takut kalau jatuh talak atas tawaran talak saya yg dia serahkan kembali kepada saya yg kemudian oleh saya juga tidak menceraikan dia krn saya memang cuma tawarkan talak kepada istri saya .

Pada tanggal 29 januari 2014, setelah saya dapat info dari beberapa ustadz bahwa talak saya mu’allak saya dari pertanyaan pertama jatuh yakni apabila dia tidak berhenti kerja pada saat kontrak dia berakhir maka dia saya talak, nah kontrak kerja istri saya berakhir yg informasinya setelah saya konfirmasi ke bos nya tmt 01 Nopember 2013, di tgl ini istri saya sudah tidak terhitung karyawan kontrak dan sudah diangkat menjadi pegawai tetap dan namun istri saya pun taunya diangkat sbg pegawai tetap bukan tgl 01 nop 2013 melainkan tgl 6 Nop 2013 krn SK nya baru hari itu diserahkan,

Pada pagi hari itu juga tgl 29 januari 2014 pagi saya langsung menelpon istri saya (saya di makassar dan istri saya di banjarmasin) bahwa saya rujuk kembali dia terkait talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 nopember 2013 (kondisi istri saya masih haidh yang ketiga cuman ada sedikit yg buat ragu cuman dia bilang masih ada plek coklat, krn saat itu sebelum haidh ketiga ini dia ada minum pil kb sehingga dalam 1 bulan ada 2 peroide haidh dan utk haidh ketiganya ini, hari awal haidh darahnya seperti darah luka baru beberapa hari kemudian seperti darah haidh masih plek lendir kecoklatan) dan info istri saya seingat dia sejak 1 Nopember 2013 sampai dengan 29 januari 2014 ini dia baru haidh yg ketiga kali, sore menjelang maghrib pada tgl 29 januari 2014 dia mandi suci, krn cuman sisa lender katanya.
Nah pak ustadz yang semoga senatiasa dirahmati Allah, yang ingin saya tanyakan disini adalah sbb:

a. Apakah tawaran talak saya diatas jatuh atau tidak, yg istri saya jawabnya ke saya seperti ini: "kalau aku terserah kamu aja yank ae, kalau kamu yg mau cerai sama saya, silahkan kamu yg urus ke pengadilan. Dan saya tidak mau cerai istri saya pak ustadz, cuman nawarin aja krn dia menderita bgt hidup sama saya dan saya gak tega

b. Rujuk saya yg mana yg sah untuk talak mu’allaq yg jatuh tgl 01 Nopember 2013 apakah yang:
Rujuk saya secara lisan yg tgl 21 jan 2014 (rujuk karena kekhawatiran saya kalau ternyata tawaran talak saya yg tidak diiyakan istri td merupakan jatuh talak, yang ternyata alhamdulillah tidak jatuh talak utk kejadian pada tanggal 21 jan 2014), walaupun saya sendiri tidak mengetahui ternyata ada saya talak yang jatuh atas istri tgl 01 Nopember 2013 dan tidak ada niat untuk merujuk talak muallak dimaksud (krn saya beranggapan tidak ada talak saya yg jatuh atas istri saya), dan di tgl 21 Januari 2014 ini insyaAllah istri masih menjalani suci dari haidh yg kedua, krn info dari seorang ustadz bahwa secara syar'i Rujuk saya tetap sah dan dapat menutupi talak saya yg jatuh tgl 01 Nopember 2013 (walaupun saya tidak ada menitakan untuk rujuk untuk talak yg 01 Nop 2013 krn saya tidak tau ternyata sejak tanggal itu jatuh talak saya atas istri saya

ATAUKAH
Rujuk yg tanggal 29 Januari 2014 itu lah rujuk yang sah atas talak mu’allak saya yang jatuh pada tanggal 01 Nopember 2013. Tgl 29 Januari 2014 ini istri saya posisi haidh yg ketiga Cuma dia masih bingung membedakan darahnya krn jeda haidh kedua dengan haidh ketiga terlalu cepat, mungkin krn pengaruh obat KB, saya khawatir tgl 29 Jan itu dia sudah suci krn dia masih belum bisa membedakan darah haidh sama istidaroh

Informasi siklus haidh: 1 Nopember 2013 insyaAllah istri saya suci, kata istri saya
Periode masa haidh pertama: saya lewati aja pak ustadz yah
Periode masa haidh ke dua : dari Akhir desember 2013 s.d kira kira 11 jan 2014 haidh lg

12 s.d 13 jan 2014 siang suci dari haidh, disini istri saya menkomsumsi pil kb
Periode masa haidh ke tiga: 14 s.d 29 januari 2014 sore haidh lg dgn kondisi diawal awal haidh darah yg seperti luka dan disambung dengan darah yg menurut istri saya itu mirip darah haidh sampai tgl 29 januari sore, 29 januari 2014 pagi istri saya saya rujuk dia bilang masih ada plek coklat(karena saya br tau cara rujuk yg benar), 29 januari 2014 menjelang maghrib dia mandi suci krn katanya cuman sisa lendir

c. Apakah saksi wajib ada pada saat rujuk, krn saya rujuknya gak ada saksi

Pertanyaan ketiga:


Saya mau tanya terkait rujuk ini juga saya was was, waktu dulu banget saya pernah mentalak 1 istri saya kejadiannya kurang lebih 3 tahun yg lalu..seingat saya dgn rujuknya dengan bilang ke istri kira2 seperti ini “kamu masih istri ku yg sah” atau “kita masih suami istri” atau “yank, kamu masih istriku” atau ingat yank yah, kita masih suami istri yang sah" (saya ada bebera kali mengucapkannya pak ustadz, cuman krn istri saya tidak ada respon dan diam saja, trus saya bilang lagi kedia “iya khan” krn saya pikir dia tidak mau, kemudian dia ngangguk, cuman saya ada was2 takutnya rujuk saya salah redaksionlanya menjadi spt ini “kamu masih istri aq khan” atau “kita masih suami istri sah khan”. Saya lebih yakin yg redaksional awal ngomong rujuknya, cuman saya takut dan was was kalau kalau redaksionalnya yang kedua, krn yg kedua terkesan bertanya bukan pernyataan kalau bertanya ada bilang bukan rujuk (saya sudah berusaha mengingatnya pak ustadz, krn kejadian ini sudah lama) dan seperti yg pernah saya bilang ke pak ustadz saya jahil masalah ini, disini rujuknya juga gak ada saksi, cuman setelah rujuk kami berjima, seingat saya pun pas berjima saya juga bilang bahwa kami masih suami istri yank sah dan dalam hati saya bilang ke Allah bahwa dia masih istri saya Ya Allah. kalau saya salah ingat gimana Ustadz yah..sikap apa yg harus saya ambil

Demikian pertanyaan dari saya, mohon jawabannya sesuai syar'i pak ustadz yg semoga senantiasa dirahmati Allah SWT,
Wassalaamu’alaikum wr wb


JAWABAN TAKLIK TALAK DAN CARA RUJUK

JAWABAN SOAL PERTAMA

Taklik talak (talak muallaq) hukumnya terjadi dan sah talaknya apabila syarat atau kondisi terpenuhi. Keabsahan taklik talak merupakan ijmak (kesepakatan) ulama dari keempat madzhab yaitu Syafi'i, Hanafi, Maliki dan Hanbali. As-Syairazi, dari ulama madzhab Syafi'i, dalam kitab Al-Muhadzab (teksnya terdapat pada Al-Majmuk hlm. 17/152) menyatakan
إذا عُلِّق الطلاقُ بشرط لا يستحيل ؛ كدخول الدار ، ومجيء الشهر ، تعلّق به ، فإذا وجد الشرط وقع، وإذا لم يوجد لم يقع

Artinya: Apabila talak digantungkan dengan syarat yang tidak mustahil; seperti masuk rumah atau tibanya bulan, ... maka apbila syarat itu ada maka terjadilah talak. Apabila syarat tidak ada, maka talak tidak terjadi.

Pendapat ini terdapat juga pada kitab-kitab ulama Madzhab Syafi'i yang lain. Lihat misalnya Khatib As-Syarbini dalam Mughnil Muhtaj hlm. 3/313.

Adapun jumlah talak yang terjadi adalah talak 1 (satu) karena dalam taklik talak, perceraian baru terjadi saat syarat terpenuhi sedangkan syarat atau kondisi yang terjadi hanya satu kali. Ini berbeda dengan talak biasa yang mana talak langsung jatuh saat mengucapkan kata talak sehingga ketika ucapan talak yang kedua diucapkan, maka terjadi talak 2.


JAWABAN KEDUA

a. Tawaran cerai dari suami pada istri tidak terjadi. Karena cerai yang terjadi harus berupa kalimat berita yang aktif seprti ucapan suami: "Kamu saya cerai."

b. Rujuk tanggal 21 Januari 2014 sudah sah untuk menjadi akad rujuk bagi taklik talak anda walaupun dalam pikiran anda bukan untuk itu. Faktanya adalah istri tertalak karena talak mu'allaq, maka untuk kembali harus mengucapkan kata rujuk.

c. Rujuk sah tanpa saksi. Adanya saksi tidak wajib tapi hanya sunnah menurut madzhab Syafi'i dengan mendasarkan argumen pada Quran Surah At-Talaq ayat 2. Pendapat yang mewajibkan saksi ada di kalangan madzhab Maliki dan sebagian madzhab Hanbali (Keterangan lihat kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah hlm. 22/113 dan 114)

JAWABAN KETIGA

Cara rujuk yang disepakati ulama fiqih adalah dengan kata-kata misalnya kata suami pada istri: "Aku rujuk padamu." dan kata-kata lain yang senada. Namun, dalam soal cara rujuk ulama madzhab fiqih yang empat cukup fleksibel. Menurut mereka rujuk dapat dilakukan tanpa kata-kata, tapi cukup dengan perbuatan dengan rincian sbb:

Pendapat madzhab Hanafi:
rujuk pada istri cukup dilakukan dengan cara menyentuh istri. Baik disertai niat rujuk atau tidak. Seperti diterangkan dalam kitab Radd al-Mukhtar hlm. 11/440. Teks Arabnya:

وبالفعل مع الكراهة بكل ما يوجب حرمة المصاهرة كمس ولو منها اختلاسا أو نائماً أو مكرها أو مجنوناً إن صدقها هو

Artinya: (Rujuk dapat dilakukan) dengan perbuatan tapi hukumnya makruh. ... seperti dengan menyentuh istri..

Pendapat madzhab Hanbali:
Rujuk pada istri dapat dilakukan dengan cara hubungan intim suami-istri. Seperti diterangkan dalam kitab Kasyful Qina' hlm.11/65 :
وتحصل الرجعة بوطئها بلا إشهاد، نوى الرجعة أو لم ينو به الرجعة

Artinya: Rujuk sah dengan cara berhubungan intim antara suami istri dan tanpa perlu saksi. Baik dengan niat rujuk atau tidak.

Pendapat madzhab Maliki:
Rujuk dengan menyentuh atau hubungan intim (jimak) adalah sah asal disertai dengan niat rujuk. Dalam kitab As-Syarh Al-Kabir dijelaskan

ولا تصح رجعة بدون النية ولو بأقوى الأفعال كوطء

Artinya: Tidak sah rujuk tanpa niat walaupun dengan perbuatan yang paling kuat seperti wati' (hubungan intim).

Kesimpulan: ucapan rujuk anda sudah sah. Bahkan tanpa ucapan pun sudah sah dengan adanya hubungan intim yang dilakukan. Yang prinsip adalah: rujuk itu dilakukan dalam masa iddah. Adapun kalau rujuk dilakukan setelah habis masa iddah, maka harus dengan akad nikah baru.

Baca juga: Perceraian dalam Islam

______________________________


TALAK DAN WAS-WAS

Saya ada beberapa pertanyaan terkait talak dan was was

1. Pertanyaan Pertama:

Terkait Talak, Ceritanya seingat saya seperti ini ustadz,

3 tahun yg lalu istri saya berantem sama saya, disini sayanya selaku pihak yg dimarahi istri krn saya selalu mementingkan keluarga saya kata dia, padahal memang di keluarga saya ada permasalahan makanya saya fokus kemasalah itu shg perhatian buat istri saya sangat kurang walaupun saya pikir istri saya tetap ngerti, ternyata tidak kenyataannya, nah pas marah sambil ngamuk stri saya ujung ujungnya minta cerai sama sama, saya awalnya tidak mau menceraikan dia krn dalam kondisi defend dan tidak emosi, cuman krn dia terus mendesak akhirnya saya pasrah dan iyakan permintaan dia dengan ngomong seperti ini kurang lebihnya "Baiklah aku penuhi permintaan kamu untuk bercerai dari aku (sambil saya nya nangis, sedih banget) cuman kamu hrs ingat ini atas permintaan kamu dan bukan kemauan saya, saya sayang sama kamu, dan mungkin aku tidak akan menikah lg dgn wanita manapun, krn hanya kamu yg aku sayang, maafkan atas dosa dan salah ku yg teramat banyak padamu, sekarang kamu sudah senang kan"

Nah setelah itu istri saya diam sambil nangis, trus saya mengemasi barang saya untuk pergi dari rumah, istri saya tanya: "kamu mau kemana? Trus saya bilang ke istri : "saya harus pergi, kamu sudah saya ceraikan, kalau kita tetap bersama itu bisa zina, kemudian istri saya memohon agar saya tidak pergi dan sampai akhirnya kami rujuk.

Nah pertanyaan saya disini berapa talak yg jatuh apakah 1 atau 2, krn saya pas mau pergi dari rumah saya saya bilang keistri " "saya harus pergi, kamu sudah saya ceraikan, kalau kita tetap bersama itu bisa zina" konteks ucapan disini cuma untuk menjelaskan keistri saya alasan saya mau pergi dari rumah yakni gara gara diawal sebelumnya saya sudah menyetujui permintaan cerai istri saya maka status kami adalah cerai, karena itu saya harus pergi dari rumah krn saya takut zina nantinya dan tidak niat saya untuk menjatuhkan talak yg ke 2

Pertanyaan kedua:

Terkait was was/ragu/lupa/kita salah ingat, apakah seorang suami sudah mentalak istrinya atau tidak baik itu secara shorih maupun kinayah atau juga sudah merujuk dengan benar, baik untuk kejadian di masa lampau atau sekarang, krn yg disebabkan kejahilan masalah ilmu agama, ketakutannya utamanya disini adalah disisi Allah tetap dikenai pertanggung jawaban. Nah kalau ternyata disisi Allah”tidak jatuh talak” alhamdulillah, cuman kalau ternyata jatuh talak disisi Allah ini yg menjadi ketakutan utama, sama halnya dengan rujuk apakah sah atau tidak rujuknya. Bagaimana tuntunan syariat mengenai hal ini pak ustadz

Demikian pertanyaan dari saya, mudahan pak ustadz berkenan menjawaban sesuai ketentuan syar'i
Wassalaamu’alaikum wr wb

JAWABAN

Jawaban pertanyaan ke-1. Yang terjadi adalah talak 1 (satu). Karena ucapan yang kedua adalah kalimat berita di mana anda bercerita pada istri tentang masalah talak yang pertama. Jadi, ucapan talak yang kedua tidak ada efek hukumnya karena itu sama dengan bercerita tentang talak. Zakariya Al-Anshari, salah satu ulama berpengaruh madzhab Syafi'i, dalam kitab Al-Ghurar Al-Bahiyyah fi Al-Bahjah Al-Wardiyyah IV/246 menyatakan:

قوله: وقصد. أي قصد لفظه لمعناه أي قصد لفظه ومعناه؛ إذ المعتبر قصدهما ليخرج حكاية طلاق الغير، وتصوير الفقيه، والنداء بطالق لمن اسمها طالق

Artinya: ... yang dianggap (dalam talak) adalah kesengajaan dalam kata dan makna. Tidak termasuk dari talak adalah bercerita tentang talak orang lain, dan penjelasan talak seorang ahli fiqih, dan panggilan dengan kata "Taliq" (orang yang dicerai) bagi wanita yang kebetulan bernama Taliq.

Jawaban pertanyaan ke-2. Kalau memang masalah antara anda dan istri adalah seperti yang anda ceritakan pada kami, tidak ada yang kurang atau disembunyikan, maka masalahnya sudah jelas dan tidak perlu ada rasa was-was dan ragu bahwa anda dan istri masih sah menjadi suami-istri dan talak yang anda jatuhkan pada istri totalnya adalah dua kali talak. Cara rujuknya pun sudah benar dan sah sehingga tidak ada keraguan sama sekali atas keabsahan hubungan anda berdua.

Namun perlu diingat, bahwa jatah menjatuhkan talak anda pada istri sudah habis. Kalau anda menjatuhkan talak lagi pada istri, maka akan terjadi talak 3 (tiga) di mana tidak ada lagi peluang bagi anda untuk rujuk pada istri sampai istri anda menikah dengan suami lain. Dalam QS Al-Baqarah 2:230 Allah berfirman: "Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah."

Oleh karena itu, harap berhati-hati dalam berkomunikasi dan hindari betul konflik yang melibatkan kata-kata dan tulisan. Untuk tambahan wawsan hidup berumah tangga, silahkan baca buku terbitan kami di sini: http://www.fatihsyuhud.net/rumah-tangga/

Prinsip dasar tentang talak lihat di sini.

-----------------


HUKUM TALAK KARENA TERPAKSA

Assalamu'alaikum

Kalau boleh ditanggapi segera, krn ada info tambahan yg saya baru diingatkan Allah SWT malam ini..
td saya ada minta konsultasi SEGERA..cuman boleh tidak dananya pakai yg sudah saya transfer rp 100 rb dari bank syariah mandiri a.n welvi ke rekening tujuan di bca no rek 3170 4020 64 a.n Chusnia K Saadah tertanggal 3 maret 2014, krn saya dana lg kurang.

Saya welvi dari Banjarmasin..
Mohon bantuannya ustadz yah

Yg utk kasus talak saya yg paling awal 3 tahun yg lalu pak ustadz, ternyata saya mengiyakan permintaan talak istri saya beberapa kali pak ustadz.....yg beberapa kali itu terjadi ditengah pertengkaran pak ustadz .. "dimana waktu istri saya ngamuk ngamuk minta cerai sama saya yg cerainya gak saya gubris dan tanggapi...krn saya memang tidak mau mencerai dia krn dia nya lagi emosi aja dlm benak saya..akhirnya dia bilang kalau saya tidak mau menceraikan dia..dia mau ngurus sendiri...dia mau gugat cerai saya..dia melempar buku nikah kemuka saya..mukul saya..sambil ngamuk ngamuk...kemudian istri mau langsung meninggalkan rumah pas menjelang maghrib mau urus cerai sendiri ke Pengadilan pakai jalan kaki lagi dianya pak ustadz..krn yg ada cuman motor saya dan dia gak bisa make, dia sudah kayak orang kesetanan pokoknya...saya coba nahan dia..cuman dia kayak orang gila tetap mau keluar...dia juga mukul mukul saya....jd kami bergumul..

saya masukin dia kedalam rumah...cuman pas didalam rumah dia ngancam kalau pintu keluarnya di kunci dia akan bunuh diri....say jadinya serba salah dan serba bingung...dia ngamuk banget..sambil teriak teriak...habis itu dia mau keluar rumah lagi...saya tahan lagi dia ..bermulul lagi kami berdua....sambil dia nagis teriak teriak dia bilang pokoknya saya harus iyakan dulu permintaan cerainya baru mau berhenti... .saya pegang dia saya bilangin cuman kayaknya tetap gak dia gubris omongan saya.....

lepaskan..lepaskan dia bilang...dia bilang iyakan dulu bilangnya...dia mukul saya..sadar sadar saya bilang...kalau kamu jalan sendiri maghrib maghrib gini bisa celaka saya apakah di perkosa atau yang lainnya...dia bilang biar aja diperkosa atau mati sekalian juga gak apa (yg mati sekalaian ini seingat say pak ustadz) sambil terus meronta, menangis, dan mengamuk tidak karuan kayak orang kerupan... ..dan hal hal yg membahayakan lainnya.

cuman dia masih kayak orang stress dan minta saya iyakan dulu..pokonya iyakan dulu katanya...sambil mukul mukul saya pak ustadz...kayak orang gila sudah pokoknya pak ustadz, ..kemudian saya juga bingung gmn lagi ini caranya buat bikin dia tenang...krn saya masukin ke dlm rumah dianya keluar lagi..saya mau kunci dirumah takutnya dia mau bunuh diri katanya ..dia sudah gak sadar lagi keliatannya..saya izinkan keluar rumah juga ada potensi bahaya yang mengancam krn dia tidak mau saya temani...takutnya dia ngambil jalan pintas dan bunuh diri dalm pikiran saya...pokoknya sudah tidak dapat saya kendalikan lagi istri sayanya pak ustadz...dipikirannya hanyalah cerai dan cerai dari saya..mungkin sudah kayak liat hantu kalau liat saya..waktu itu dan dibenaknya wajib hukumnya mendapat kata iya dari saya....

shg saya dgn kalut dan SEINGAT SAYA, SAYA PANDANGI WAJAH ISTRI YG YG LAGI MARAH DIHADAPAN SAYA DENGAN PENUH CINTA, TERBAYANG DIBENAK SAYA HANYA 2 PILIHAN YG ADA YAKNI SAYA TIDAK CERAIKAN DIA, CUMAN DIANYA MATI ATAU SAYA CERAIKAN DIA DAN DIANYA HIDUP...HATI SAYA PAS LIAT 2 PILIHAN INI DENGAN IKHLAS SAYA PILIH DIA CERAI SAMA SAYA TAPI DIANYA HIDUP, DARI PADA DIA TIDAK CERAI DENGAN SAYA CUMAN DIANYA MATI, KRN SAYA SANGAT MENYAYANGINYA DAN SIAP BERKORBAN APA SAJA WALAUPUN ITU KEBAHAGIAAN SAYA SENDIRI WALAU TERASA BERAT. SEHINGGA AKHIRNYA DENGAN BERAT HATI saya mengiyakan..iyaaa!!..iyaaa..!! .saya bilang..aku setuju menceraikan kamu.nanti bareng sama saya saja ke ngurus cerainya..kamu masuk rumah dulu..kalau kamu sendiri bisa kenapa napa nanti dijalan...

lebih baik saya mengiyakan pak ustadz dari pada istri saya kenapa napa krn saya sayang bgt sama istri saya dan IYA disiini waktu itu benar benar jalan saya terakhir saya untuk menenangkannya ..tidak ada jalan lain dipikiran saya...saya harus meng iyakan walaupun saya tidak mau dan tidak niat ...kalau tidak saya iyakan juga pada saat itu saya benar benar khawatir ancaman istri saya benar benar terjadi apakah keluar jalan sendirian yg beresiko diperkosa krn perumahan di tempat saya sepi atau dianya yg malah bunuh diri apakah dirumah kalau tetap saya tahan atau pun juga di jalan..dia bunuh diri atau diperkosa krn dia tidak mau saya temani...dan hal hal yg membahayakan lainnya....

saya juga ikut ikutan bingung dan kalut dipikiran saya gak ada jalan lain ini selain mengiyakan permintaan talak istri saya...walaupun saya sebenarnya tidak mau dan tidak ada niat sebagaimana diawal pertengkaran yg saya gak meggubris permintaan talaknya...Jadi saya IYAKAN disini semata mata karena dipaksa istri saya yg mungkin sudah kayak orang kesetanan itu...daripada terjadi sesuatu yg mungkin lebih buruk untuk istri saya...walaupun saya tidak mau dan tidak niat cuman keselamatan istri saya yg lebih utama bagi saya..baru setelah saya terpaksa bilang iya..iya itu..istri saya mulai dapat dikontrol dan kesadarnnya sdh mulai kembali...baru saya suruh tenang dan masuk kedalam rumah..

cuman habis itu dia masih ngamuk dan bilang dia maunya diurusnya hari ini juga cerai..saya bilang khan nanti pengadilan agamanya khan tutup kalau hari libur ambil saya cukup emosi...Nah pak ustad untuk status talak saya yg benar benar dipaksa oleh istri ini dan harus bilang iya ini tidak bisa tidak..apakah tetap jatuh atau tidak.....krn memang sedang dalam kondisi benar benar terpaksa oleh istri saya...gak ada jalan lain dibenak saya pada waktu itu..krn kondisi istri saya sudah kayak orang gila..

Apakah mengiyakan talak disini membuat jatuh talak??? APALAGI DENGAN DATA TAMBAHAN SAYA YG TERBARU PAK USTADZ YG SAYA CAPSLOCK HURUFNYA..APAKAH JAWABANNYA TETAP TIDAK JATUH ATAU TETAP JATUH TALAK

KRN KALAU INI JATUH BERARTI SAYA SUDAH TALAK TIGA.mudahan saya sabar dalam menghadapi segala konsekuensi risikonya dengan rahmat Allah SWT.

Kalau ini memang tidak jatuh dan tidak menjadikan total talak saya 3........saya sudah menginformasikan kepada istri saya bahwa yakin bahwa total talak saya yg jatuh sudah 3.krn setiap talak yg diucapkan oleh suami atau permintaan talak dari istri yg di iyakan oleh semua jatuh talak...bagaimanapun keadaannya..dan saya juga ngomong sambil menangis sedih bgt bahwa saya mohon maaf dan ampun atas kesalahan selama kami berumah tangga dan kealahan keluarga saya sama dia...dan kalau dia mau menikah sama orang lain semoga mendapatkan yg lebih baik dari saya.


JAWABAN

Seorang suami yang menjatuhkan talak pada istrinya karena terpaksa hukumnya tidak sah dan tidak terjadi talak menurut jumhur ulama madzhab yang empat (Syafi'i, Maliki, Hanbali) kecuali ulama madzhab Hanafi yang menyatakan sebaliknya.

Jadi, anda tetap dapat hidup bersama istri anda. Namun sekali lagi kami ingatkan agar ke depannya berhati-hati agar peristiwa apapun yang mengarah konflik betul-betul dihindari agar kehiudpan rumah tangga dapat tetap harmonis sampai akhir hayat. Amin. Sebagai referensi, silahkan baca buku kami Merajut Rumah Tangga Bahagia di link berikut: http://www.fatihsyuhud.net/bahagia/

Uraian detail dan referensi pandangan ulama madzhab empat tentang tidak sahnya talak terpaksa dapat dilihat di link berikut (bagi siapapun yang ingin jawaban detail): fatihsyuhud.org/2013/05/syurut-talaq-madzhab-arbaah.html#6 (bahasa Arab)

Adapun dalil Quran dan hadits yang dipakai para ulama fiqih dalam soal ini adalah sbb:

1. QS An-Nahl ayat 106 "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. "

Kalau mengaku kafir saja tidak apa-apa kalau terpaksa, maka apalagi mentalak. Artinya, pengakuan atau ucapan yang keluar saat terpaksa itu tidak dianggap dalam syariah.

2. Hadits Nabi riwayat Ibnu Majah dalam Kitab Talak hadits no. 2044 Nabi bersabda:
إن الله تجاوز عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Artinya: Allah memaafkan dari umatku (tiga hal): kesalahan, lupa, terpaksa.

3. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Abu Dawud dalam Kitab Talak, hadits no. 2193 sbb:

"لا طلاق ولا عتاق في إغلاق

Artinya: Talak tidak terjadi dalam keadaan terpaksa.


TALAK TERPAKSA DEMI KESELAMATAN ISTRI ATAU ANAK

Assalaamu'alaikum pak ustad...

saya dapat jawaban dari ustdaz lain bahwa talak saya tetap jatuh..dgn alasan yg mengancam adalah istri dan yg bahaya adalah jiwa istri yg minta talak. bukan jiwa si pentalaknt..harusnya dalam talak dipaksa dalam kaidah fiqih yg bahaya adalah harus jiwa si pentalak baru bisa dikategorikan sebagai talak paksaan..kalau tidak dianggap jiwa sipentalak maka sama dengan bercanda dan itu jatuh talak nya

JAWABAN

Talak terpaksa yang dianggap adalah apabila berada di bawah ancaman siapapun yang dapat menyakiti dirinya (suami) atau anaknya atau istrinya. Karena anak dan istri adalh bagian dari suami yang dapat menyakiti suami. Berikut ulasan dari Jad al-Haq Ali Jad Al-Haq, seorang Syekh Al-Azhar Mesir dan mufti negara Mesir, dalam kitab Fatawa Daril Ifta' Al-Mishriyah hlm. 2/71 mengutip pendapat madzhab Syafi'i sbb:

واختلف أصحاب هذا الرأى فى مدى الإكراه وشروطه ففى فقه المالكية إن الإكراه على إيقاع الطلاق بالقول لا يلزم به شىء لا قضاء ولا ديانة بشرط أن لا ينوى حل عقد الزواج باطنا .

ثم إن الإكراه الذى لا يقع به الطلاق هو أنه يغلب على ظن المكره أنه إن لم يفعل الطلاق يلحقه أذى مؤلم من قتل أو ضرب كثيرا أو قليلا، أو سجن وإن لم يكن طويلا، أو يغلب على ظنه أنه إن لم يطلق يقتل ولده أو يلحقه أذى ومثل الولد الوالد . ففى هذه الأحوال إذا طلق لا يقع الطلاق .

ومثل التهديد بما سلف التهديد بإتلاف المال أو أخذه ولو كان يسيرا على المعتمد من المذهب حاشية الدسوقى على الشرح الكبير ج - 2 ص 415 وما بعدها .

وفى الفقه الشافعى ان الإكراه يحصل بالتخويف فى نظر المكره كالتهديد بالضرب الشديد أو الحبس أو إتلاف المال .
وتختلف الشدة باختلاف طبقات الناس وأحوالهم .

فالوجيه أى صاحب المنزلة بين أهله الذى يهدد بالتشهير به أو الاستهزاء به أمام الملأ يعتبر ذلك فى حقه إكراها، والشتم فى حق رجل ذى مروءة إكراه .

ومثل ذلك التهديد بقتل الولد أو الفجور به أو الزنا بامرأة إذ لا شك فى أنه إيذاء يلحقه أشد من الضرب أو الشتم .
ومثل ذلك التهديد بقتل أبيه أو أحد عصبته وإن علا أو سفل ،أو إيذاء بجرح، وكذلك التهديد بقتل قريبه من ذوى أرحامه أو جرحه أو الفجور به كل ذلك يعتبر إكراها وقال الفقهاء الشافعيون إن طلاق المكره لا يقع بشروط أن يقع التهديد بالإيذاء من شخص قادر على تنفيذ ما هدد به عاجلا .
وأن يعجز المكره عن دفع التهديد والإيذاء من شخص قادر على تنفيذ ما هدد به عاجلا .
وأن يعجز المكره عن دفع التهديد وأن يظن المكره أنه إن امتنع عن الطلاق يقع الإيذاء الذى هدد به .
وأن لا يكون الإكراه بحق . وأن لا يظهر من المكره نوع اختيار .
وأن لا ينوى الطلاق ( تحفة المحتاج وحواشيها بشرح المنهاج ج - 8 ص 36، 37 فى كتاب الطلاق ) .

Artinya: Ulama berbeda pendapat tentang talak paksa dan syaratnya. Dalam madzhab Maliki, paksaan menyatakan talak secara verbal tidak sah dengan syarat suami tidak berniat dalam hati.

Paksaan yang membuat talak tidak sah adalah apabila orang yang dipaksa (yakni suami) merasa yakin kalau tidak melakukan apa yang dipaksakan akan mengalami hal yang menyakitkan seperti pembunuhan, pemukulan baik sedikit atau banyak atau penahanan walaupun sebentar. Atau suami yakin apabila tidak mentalak maka anaknya akan dibunuh atau disakiti. Sama dengan anak adalah bapak. Dalam kondisi ini, maka talak tidak terjadi.

Termasuk ancaman yang dianggap paksaan adalah ancaman pengrusakan harta atau perampasan walaupun sedikit menurut pendapat yang mu'tamad dari madzhab ini (Lihat Hasyiyah Dasuqi alas Syarhil Kabir, hlm. 2/415).

Dalam madzhab Syafi'i, paksaan itu dianggap secara syariah apabila membuat takut hati yang dipaksa seperti ancaman pemukulan, panahanan, pengrusakan harta. Level ancaman berbeda menurut tingkat dan keadaan setiap orang.

Orang yang terhormat secara sosial yang diancam akan dihina di depan orang banyak maka hal itu dianggap paksaan. Memaki bagi orang yang bermartabat (terhormat) dianggap paksaan.

Termasuk dari paksaan adalah ancaman pembunuhan anak atau berbuat buruk padanya atau berzina dengan istrinya karena hal itu termasuk menyakitkan yang lebih parah dari pemukulan atau makian. Termasuk dari paksaan adalah ancaman pembunuhan pada bapak atau salah satu kerabat dekat jalur ke atas atau ke bawah atau ancaman menyakiti dengan melukai. Begitu juga ancaman membunuh atau melukai kerabat dzawil arham (keluarga dari ibu) semua itu dianggap paksaan. Ulama madzhab Syafi'i mengatakan bahwa talaknya orang yang dipaksa (atau terpaksa) itu tidak terjadi dengan syarat ancaman itu timbul dari orang yang mampu melaksanakan ancamannya segera. Dan orang yang dipaksa tidak mampu menolak ancaman itu.

Dan yang dipaksa tidak mampu menolak ancaman itu dan menduga bahwa apabila menolak mentalak maka ancaman akan terjadi.

Paksaan itu bukan perkara hak. Pihak yang dipaksa tidak memiliki pilihan. Dan yang dipaksa tidak berniat talak. (Lihat: Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, hlm. 8/36-37 "Kitab Talak")



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..