Syiah Islam

Syiah atau Shia (Arab, الشيعة) adalah aliran terbesar kedua setelah Sunni atau Ahlussunnah Wal Jamaah (disingkat ASWAJA) dalam Islam. Aliran Syiah ditimbulkan oleh ketidakpuasan sebagian kalangan atas suksesi kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Bagi kalangan ini, penerus estafet kepemimpinan Islam pasca Nabi hendaknya keturunan Nabi
Syiah Islam
ALIRAN SYIAH, AJARAN DAN BERBAGAI ALIRAN DI DALAMNYA

Syiah atau Shia atau Shi'ah (Arab, الشيعة) adalah aliran terbesar kedua setelah Sunni atau Ahlussunnah Wal Jamaah (disingkat ASWAJA) dalam Islam. Aliran Syiah disebabkan atau ditimbulkan oleh ketidakpuasan sebagian kalangan atas suksesi kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Bagi kalangan ini, penerus estafet kepemimpinan Islam pasca Nabi hendaknya keturunan Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib. Bukan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.

DAFTAR ISI
  1. Sejarah Aliran Syiah
  2. Ciri Khas Aliran Syiah
  3. Faksi dalam Aliran Syiah
    1. Syiah Imamiyah / Itsna Asyariyah (12)
    2. Syiah Ismailiyah
    3. Syiah Zaidiyah
  4. Pandangan Ulama Sunni Tentang Syiah
    1. Pandapat bahwa Syiah Tidak Sesat
    2. Pandangan bahwa Syiah Sesat dan Menyesatkan
  5. Perbedaan Syiah dan Sunni menurut MUI Pusat
  6. CARA KONSULTASI AGAMA

SEJARAH ALIRAN SYIAH

Syiah secara bahasa bermakna golongan, firqoh, jama'ah, atau pengikut.
Dalam terminologi sosilogis, Syiah adalah golongan terbesar kedua setelah Sunni. Golongan ini disebut juga dengan Syiah Ali atau pengikut/pendukung Ali bin Abu Talib khalifah ke-4 Islam, sekaligus sepupu dan menantu Nabi Muhammad. Cikal bikal aliran Syiah timbul setelah terjadinya perbedaan dalam masalah penerus kepemimpinan setelah wafatnya Nabi khususnya dan sistem suksesi kepemimpinan dalam Islam secara umum. Artinya perbedaan itu lebih bersifat politis daripada ideologis.

Namun, pada perkembangan berikutnya, perbedaan itu semakin melebar dan meliputi ranah ideologis dan hukum fiqih. Dengan tidak mengakuinya mereka pada 3 (tiga) khalifah pertama Islam yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman, maka mereka juga tidak mengakui hadits-hadits yang berasal dari mereka dan pendukungnya. Karena itu, Persamaan Sunni dan Syiah hanya satu: mereka berpegang pada satu kitab suci yaitu Quran. Sedang kitab-kitab hadits utama seperti sahih Bukhari, Muslim, Anu Daud, dll tidak dijadikan sandaran kalangan Syiah.

Saat ini populasi kaum Syiah sekitar 154 sampai 200 juta orang atau sekitar 13% dari jumplah total umat Islam. Yang terbanyak adalah aliran Syiah Imamiyah/Itsna Asyariyah kemudian disusul oleh Syiah Ismailiyah dan Zaidiyah.

CIRI KHAS ALIRAN SYIAH

Ciri khas atau fitur utama dari aliran Syiah dapat disimpulkan dalam poin-poin berikut:

- Penerus Nabi adalah yang sebenarnya adalah keturunan Nabi yaitu Ali bin Abi Thalib yang lalu diteruskan oleh putranya yaitu Hasan bin Ali.
- Tidak percaya dan mengecam kepemimpinan Khulafa'ur Rosyidin yang selain Ali yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman.
- Berpegang teguh pada Quran yang sama dengan Sunni. Tapi, penafsiran dari Quran itu sendiri diserahkan penuh pada ulama-ulama mereka.
- Doktrin Imamah
- Ulama Syiah dianggap pengganti Nabi dalam arti memiliki otoritas untuk memberi fatwa dan penafsiran Quran yang tidak harus sesuai dengan teks eksplisit ayat Quran.

FAKSI DALAM SYIAH

Sebagaimana dalam aliran Sunni, ajaran Syiah juga terdiri dari beberapa faksi atau sub-kelompok sebagai berikut:

SYIAH IMAMIYAH ITSNA ASYARIYAH

Syiah (Shiah) Imamiyah Itsna Atsariyah adalah aliran Syiah terbesar saat ini. Mereka umumnya berada di Iran (90%), Irak (65%), Bahrain (70%), Lebanon 65%), Azerbaijan (85%).

Syiah Imamiyah Itsna Asyariah (Imam Dua Belas) disebut juga dengan Syiah Imami atau Syiah Ja'fari (dari nama Imam ke-6, Ja'far al-Shadiq). Istilah Imam Dua Belas ini berasal dari doktrin bahwa kelompok ini percaya bahwa ke-duabelas Imam mereka adalah pemimpin yang suci dan mendapat otoritas langsung dari Allah. Poin terakhir ini yang membedakan Syiah dengan Sunni. Bagi Sunni, pemimpin setelah Nabi adalah manusia biasa yang tidak memiliki hubungan kontak langsung dengan Tuhan. Dalam Sunni pemimpin ideal dipilih karena kualitas kepemimpinannya bukan keturunannya.

Ke-12 Imam yang dimaksud dalam Syiah Imamiyah adalah (1) Ali bin Thalib, (2)Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Zainal Abidin, (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja'far al-Sadiq, (7) Musa al-Kadzim, (8) Ali al-Rida, (9) Muhammad al-Taqi, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-Askari, (12) Muhammad al-Mahdi.

Kitab fiqih yang dipakai adalah Fiqih Ja'fariyah.

Rukun Syiah Imamiyah ada 10 yaitu shalat, puasa, haji, zakat, jihad, mengajak kebaikan (amar makruf), mencegah kemunkaran (nahi munkar), zakat 20% atau 1/5 setelah dipotong biaya rumah tangga dan niaga, mencintai mereka yang berada di jalan Tuhan dan menjauh dari mereka yang menentang Tuhan.

SYIAH ISMAILIYAH

Syiah Isma'iliyah adalah pecahan dari Syiah Imamiyah. Nama Ismailiyah berasal dari penerimaan kelompok ini pada Isma'il bin Ja'far sebagai Imam suci penerus Ja'far al-Sadiq. Selain itu, Syiah Ismailiyah berbeda dengan Syiah Imamiyah karena perbedaan salah satu imam di mana Syiah Ismailiyah menganggap ismail bin Ja'far sebagai Imam, bukan Musa Al-Kadzim seperti kepercayaan Syiah Imamiyah.

Rukun akidah Syiah Ismailiyah ada 7 yaitu Syahadah (seperti Syahadatnya Sunni plus penyebutan Ali), Wilayah, Shalat, Zakat, Puasa, Haji, Jihad.

Pengikut Syiah Ismailiyah umumnya berada di Iran dan India, Pakistan, Bangladesh.

SYIAH ZAIDIYAH

Syiah Zaidiyah adalah aliran Syiah kedua terbesar setelah Syiah Imamiyah. Nama Zaidiyah berasal dari nama Zaid bin Ali. Zaidiyah percaya pada 5 (lima) Imam karena itu disebut juga dengan Syiah Lima. Tapi ada juga Zaidi Wasitis yang percaya pada Imam Dua Belas.

Mayoritas pengikut Syiah Zaidiyah berada di Yaman. Sekitar 45% penduduk Yaman pemeluk Zaidiyah.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KETIGA ALIRAN SYIAH

Persamaan antara ketiga aliran Syiah di atas adalah mereka percaya pada 4 (empat) Imam yang pertama walaupun Zaidiyah menganggap bahwa Imam kelima adalah Zaid ibn Ali. Selain itu, menurut Zaidiyah semua keturunan Hasan bin Ali atau Husein bin Ali dapat menjadi Imam apabila memenuhi sejumlah persyaratan.

PANDANGAN ULAMA SUNNI TENTANG AJARAN SYIAH

Ada dua pendapat di kalangan ulama Islam tentang apakah apakah ajaran Syiah termasuk sesat atau tidak. Sebagian besar ulama menyatakan Syiah adalah muslim dan tidak sesat sebagian yang lain seperti MUI Jatim memfatwakan bahwa Syiah adalah sesat dan menyesatkan.


PENDAPAT BAHWA SYIAH ADALAH MUSLIM DAN TIDAK SESAT

Mayoritas Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Sunni), tidak menganggap Syi’ah itu sesat. Mereka adalah bagian dari umat Islam.

Di antara yg berpendapat demikian adalah: Yusuf Qaradhawi, Mufti Mesir Ali Jum’at, Syekh Al Azhar Tantawi, Habib Rizieq Syihab, Din Syamsuddin, Hasyim Muzadi, Quraisy Syihab, Said Agil Siradj, dll.

PENDAPAT BAHWA SYIAH ADALAH AJARAN SESAT

Ulama Wahabi Salafi Arab Saudi menyebut Syiah Itsna Asyariyah sebagai Syiah Rafidlah/Rafidhah dan sesat bahkan kafir. Berikut fatwa-fatwa Ulama Wahabi Salafi tentang Syiah

- Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
- Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (Lihat, http://goo.gl/Xs0ar)
- Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin
- ِAdil Al-Kalbani, Imam masjid Makkah Al-Mukkarromah menganggap orang Syiah sebagai kafir (lihat, http://goo.gl/XlnFz).
- Al-Arifi dalam khutbah Jum'at-nya menilai Syiah sebagai mengandung elemen agama Majusi (Zoroaster) (lihat, http://goo.gl/5Lo8z)

- MUI Jawa Timur menganggap bahwa ajaran Syiah adalah ajaran sesat.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur telah mengeluarkan Keputusan Fatwa tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah. Keputusan itu ditetapkan di Surabaya, 21 Januari 2012, ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Prov Jatim, KH. Abdusshomad Buchori dan Sekum Drs. H Imam Tabroni, MM.

MUI Jawa Timur mengukuhkan dan menetapkan keputusan MUI-MUI daerah yang menyatakan bahwa ajaran Syi’ah (khususnya Imamiyah Itsna Asyariyah atau yang menggunakan nama samaran Madzhab Ahlul Bait dan semisalnya) serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah adalah SESAT DAN MENYESATKAN.

Sementara, MUI Pusat tidak menganggap Syiah sebagai sesat namun harus diwaspadai karena gerakan dakwahnya di kalangan Sunni yang agresif dapat memicu konflik.


MUI TENTANG PERBEDAAN SYIAH-SUNNI

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada bulan Maret 1984, MUI atau Majelis Ulama Indonesia dalam rekomendasinya mengatakan bahwa perbedaan Sunni dan Syiah adalah sebagai berikut:

1) Syiah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak membeda-bedakan—asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu Musthalah Hadist.

2) Syiah memandang "imam" itu maksum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).

3) Syiah tidak mengakui ijma' tanpa adanya "imam", sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui ijma' tanpa mensyaratkan ikut sertanya "imam".

4) Syiah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan ke-imamahan-an adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan kepentingan umat.

5) Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan. Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jamaah mengakui keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib).

ARTIKEL TERKAIT: Ahlussunnah Wal Jamaah (Sunni)
LihatTutupKomentar