Maksud Hadits Bersama Orang yang Dicintai

Maksud Hadits Bersama Orang yang Dicintai apa maksud hadits "al-mar-u ma'a man ahabba"? 2. apakah jika kita mencintai / ngefans / mengidolakan artis rocker (baik rocker muslim maupun rocker kafir) maka kelak di akhirat kita akan dikumpulkan dengan rocker tsb, jika ia masuk surga maka kita juga akan masuk surga, tapi jika ia masuk neraka maka kita juga akan masuk neraka?
Maksud Hadits Bersama Orang yang Dicintai
MAKSUD HADITS BERKUMPUL BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

Assalamu'alaikum Ustadz.
1. apa maksud hadits "al-mar-u ma'a man ahabba"?
2. apakah jika kita mencintai / ngefans / mengidolakan artis rocker (baik rocker muslim maupun rocker kafir) maka kelak di akhirat kita akan dikumpulkan dengan rocker tsb, jika ia masuk surga maka kita juga akan masuk surga, tapi jika ia masuk neraka maka kita juga akan masuk neraka?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. MAKSUD HADITS BERSAMA ORANG YANG DICINTAI
    1. MENCINTAI ADA TIGA JENIS
    2. MENCINTAI KARENA AGAMA
    3. MENCINTAI DAN MENIRU PERBUATAN ORANG YANG DICINTAI
    4. MENCINTAI KARENA FAKTOR DUNIAWI NON-AGAMA
  2. SIAPA IBNUL QOYYIM AL-JAUZIYAH
  3. CARA KONSULTASI AGAMA

3. saya suka musik rock dan berpenampilan seperti rocker dengan memakai baju bergambar tengkorak, teman saya (seorang santri) memperingatkan saya dengan hadits "man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum" katanya barangsiapa meniru-niru suatu kaum maka ia termasuk didalam golongan mereka, kalau rocker masuk neraka maka sayapun juga akan masuk neraka, benarkah? padahal saya cuma menyukai musik rock dan berpenampilan seperti rocker tapi hal-hal negatif yang biasanya dilakukan rocker berusaha saya jauhi, seperti halnya "free sex, drugs, and alcohol"
syukran ustadz.

JAWABAN

HADITS TENTANG SESEORANG BERSAMA ORANG YANG DICINTAI

1. Hadits tersebut adalah hadits sahih riwayat Bukhari (#6169) dan Muslim (#2640) dari Ibnu Masud Nabi bersabda:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، كَيْفَ تَقُولُ فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Dari Ibnu Mas'ud ia berkata: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: "Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?" Rasulullah bersabda: "Seorang itu beserta orang yang dicintainya.

Dalam hadits riwayat Anas, Nabi bersabda:

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Artinya: Engkau bersama orang (atau golongan) yang engkau cintai.

Dalam sebuah hadits sahih (menurut Al-Mundziri) riwayat Tabrani dari Ali, Nabi bersabda:

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

Artinya: Seseorang tidak akan mencintai suatu kaum kecuali akan dikumpulkan bersama mereka.


MENCINTAI ADA TIGA JENIS

Mencintai seseorang, golongan atau kelompok tertentu dapat dibagi menjadi tiga jenis:


MENCINTAI KARENA AGAMA

Pertama, cinta ideologis dan keyakinan agama. Yakni, mencintai atau menyukai seseorang atau kelompok tertentu karena faktor ideologi dan keyakinan. Misalnya, mencintai ulama karena kesalihan dan ketaatannya pada ajaran agama. Atau, cinta pada Karl Marx karena menyukai ideologi atheis-nya. Maka, cinta seperti ini dapat membawanya berkumpul dengan orang yang dicintainya kelak di akhirat. Yang cinta Rasul dan ulama akan bersama Rasul dan para ulama di surga. Sedang yang cinta Karl Marx akan bersamanya kelak di neraka.

Dalam konteks inilah relevansi penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/555:

قَوْلُهُ : (إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ) أَيْ: مُلْحَقٌ بِهِمْ حَتَّى تَكُونَ مِنْ زُمْرَتِهِمْ وبهذا يندفعُ إيراد أنَّ منازلهم متفاوتةٌ، فكيف تصحُّ المعيةُ؟! فيُقالُ إنَّ المعيةَ تحصلُ بمجرد الاجتماع في شيءٍ ما، ولا تلزمُ في جميع الأشياء، فإذا اتَّفقَ أنَّ الجميعَ دخلوا الجنةَ صدَقَتِ المعيةُ، وإنْ تفاوتَتِ الدرجاتُ)

Artinya: Kalimat "Engkau bersama orang yang kamu cintai" maksudnya dipertemukan dengan mereka sehingga kamu menjadi golongan mereka...

Ibnu Battal dalam Syarah Sahih Al-Bukhari, hlm. 9/333, menyatakan sebagai penjelasan maksud hadits di atas sbb:

بيان هذا المعنى أنه لما كان المحب للصالحين إنما أحبهم من أجل طاعتهم لله ، وكانت المحبة عملا من أعمال القلوب ، واعتقادًا لها ، أثاب الله معتقد ذلك ثواب الصالحين ، إذ النية هي الأصل ، والعمل تابع لها ، والله يؤتي فضله من يشاء

Artinya: Penjelasan dari makna ini adalah ketika seorang mencintai orang-orang salih, di mana dia mencintai mereka karena ketaatan mereka pada Allah sedang cinta itu merupakan perbuatan hati dan kayakinan hati maka Allah memberi pahala padanya sebagaimana pahala orang-orang salih yang dicintainya. Karena, niat itu adalah yang asal sedang amal itu mengikuti niat.


MENCINTAI DAN MENIRU PERBUATAN ORANG YANG DICINTAI

Kedua, cinta yang menyebabkan seseorang meniru dan meneladani perbuatan orang yang dicintainya. Misalnya, orang yang cinta seorang alim atau para ulama dan meneladani perbuatan mereka, maka dia akan masuk surga bersama para ulama. Sedangkan orang yanga cinta orang fasiq atau kafir lalu meniru perbuatan mereka yang maksiat maka dia akan disiksa sebagaimana mereka.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, hlm. 2/160, menyatakan:

قال الحسن : يا ابن آدم ! لا يغرنك قول من يقول : ( المرء مع من أحب ) فإنك لن تلحق الأبرار إلا بأعمالهم ، فإن اليهود والنصارى يحبون أنبياءهم وليسوا معهم ، "

Artinya: Al-Hasan berkata: Wahai manusia, janganlah terpedaya dengan ucapan: "Seseorang bersama orang yang dia cintai" karena engkau tidak akan bertemu dengan orang-orang baik kecuali dengan amal perbuatan. Karena orang Yahudi dan Nasrani mencintai para Nabi mereka tetapi mereka tidak bersama para Nabinya.


MENCINTAI KARENA FAKTOR DUNIAWI NON-AGAMA

Ketiga, cinta duniawi. Mencintai sesama manusia karena ada ikatan batin yang bersifat duniawi seperti kekerabatan, keuntungan materi, perkawinan atau sebab-sebab duniawi lainnya. Misalnya anak muslim mencintai ibunya yang kafir atau anak muslim menyukai musik yang dinyanyikan non-muslim maka itu tidak menjadi sebab mereka akan dikumpulkan di akhirat. Jadi, kecintaan dan kesukaan yang bersifat duniawi dan tidak mempengaruhi orang itu untuk berbuat baik atau buruk maka tidak akan berakibat orang itu dikumpulkan bersama orang yang dicintai kelak di akhirat. Jadi, cinta jenis ketiga ini tidak masuk dalam makna hadits di atas.

Al-Zarqani dalam Syarah Al-Zarqani ala Al-Mawahib Al-Laduniyah bil Minah Al-Muhammadiyah, hlm. 5/304, menyatakan:

قال الحسن البصري : من أحبَّ قومًا اتبع آثارهم ، واعلم أنك لن تلحق بالأخيار حتى تتبع آثارهم ، فتأخذ بهديهم ، وتقتدي بسنتهم ، وتصبح وتمسي على مناهجهم ، حرصًا أن تكون منهم

Artinya: Al-Hasan Al-Bashri berkata: Barangsiapa yang mencintai suatu kaum maka ia akan mengikuti perilakunya. Ketahuilah, bahwasanya engkau tidak akan dipertemukan dengan orang-orang pilihan kecuali kalau mengikuti perilaku mereka, meneladani perbuatan mereka pagi dan sore karena keinginan untuk menjadi seperti mereka.

KESIMPULAN

Menyukai orang yang taat itu sudah mendapat pahala, menyukai mereka dan meniru perbuatan mereka akan membuat kita dikumpulkan di surga bersama mereka. Begitu juga, menyukai dan meniru perbuatan orang kafir dan fasiq yang terlarang akan membuat kita mendapat dosa. Adapun kesukaan yang bersifat duniawi tapi pada batas-batas tertentu yang tidak sampai membuat kita meniru perbuatan yang haram, maka itu tidak termasuk dalam makna hadits di atas.

***

2. Kalau kecintaan pada pemain musik rock itu tidak membuat anda meniru perbuatan dosanya, maka tidak masalah. Baca detail: Hukum Mengidolakan Artis

3. Itu tergantung dari seberapa kuat kekagumana anda itu berpengaruh pada perbuatan anda. Baca detil: Hukum Mengidolakan Artis

Soal memakai baju / kaos tengkorak dan semacamnya, lihat di sini.

Baca juga:
- Batasan Tasyabuh dengan Orang kafir
- Hukum Memakai Kaos Bergambar Salib

_____________________


SIAPA IBNUL QOYYIM AL-JAUZIYAH

Assalamu'alaikum Ustadz.
1 siapakah ibnul qayyim al-jauziyyah, apakah beliau ulama wahabi?
2. jika memang beliau ulama wahabi, apa pendapat pak ustadz tentang kitab karangan beliau "al bidayah wan nihayah", apakah kitab ini sesat atau tidak?
3. apakah semua kitab karangan ataupun pendapat/pemikiran dari ibnul qayyim al-jauzi adalah sesat, atau ada yang benar yang boleh kita ikuti?
syukran.
wassalamu'alaikum wr.wb

JAWABAN

1. Bukan ulama Wahabi. Ia murid Ibnu Taimiyah. Ia dan Ibnu Taimiyah hidup jauh sebelum berdirinya Wahabi. Ia lahir pada tahun 1292 M/691 H dan wafat pada 1350 M/ / 751 H (abad ke-14). Sedangkan Muhammad bin Abdul Wahab baru lahir pada 1703 M/1115 H dan wafat pada 1792 M/ 1206 H (abad ke-18). Namun dalam soal aqidah, teori Ibnu Taimiyah (dan disepakati oleh Ibnul Qayyim) ditiru oleh kelompok Wahabi terutama dalam soal akidah tiga tauhid (uluhiyah, rububiyah dan asma was sifat).

2. Kitab Al-Bidayah wan Nihayah adalah buku sejarah yang ditulis oleh Ibnu Katsir. Jadi bukan karangan Ibnul Qayyim.

3. Yang kurang bagus yang terkait dengan akidah atau tauhid karena berbau mujassimah (memfisikkan Allah) dan tiga konsep tauhid yang berbeda dengan faham Ahlussunnah Wal Jamaah. Sedangkan buku tentang fikih tidak masalah karena memakai madzhab Hanbali.

Buku tauhid atau aqidah karya Ibnul Qayyim antara lain: Zadul Maad (زاد المعاد), Ighatsah Al-Lahfan (إغاثة اللهفان), Al-Shawaiq Al-Mursalah (الصواعق المرسلة), Ijtimak Al-Juyusy Al-Islamiyah (اجتماع الجيوش الإسلامية).

LihatTutupKomentar