Konsultasi Syariah Islam

Konsultasi syariah hanya akan dilayani apabila dikirim via email ke: alkhoirot@gmail.com

Subscribe Us

Suka artikel kami? Dapatkan update terbaru langsung ke email Anda!

ATAU
Feed KSIA

Tuesday, September 27, 2016

Hukum Menutup Aib Dosa
HUKUM MENUTUP MEMBUKA AIB DOSA DIRI SENDIRI

Assalamualaikum ustadz, saya sedang bingung karena sahabat saya (seorang istri) yg terus menerus curhat mengenai penyesalannya karena telah selingkuh dari suaminya. Dia dirayu terus menerus hingga akhirnya berzina dengan laki-laki lain. Namun suaminya tidak mengetahui bahwa sang istri selingkuh.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. HUKUM MENUTUP MEMBUKA AIB DOSA DIRI SENDIRI
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

Si istri merasa bersalah, bertaubat, dan sangat takut Allah murka dan tidak mengampuni dosanya sehingga dia tidak bisa masuk surga. Karena dia berpikir, dia sebagai istri telah durhaka. Namun di sisi lain, tidak mungkin memberi tahu suami tentang perselingkuhan yg lampau karena kalaupun suami memaafkan, hanya akan memperburuk keadaan dan membuat hubungannya dengan suami ke depannya menjadi tidak enak.

Si istri (sahabat saya) terus terusan curhat kepada saya, menanyakan apakah dosanya akan diampuni. Namun karena saya bukan org yg cakap dalam ilmu agama, saya sendiri bingung menjawabnya. Sehingga saya berinisiatif membantu dengan bertanya kepada ustad. Pertanyaan saya

1. Bagaimanakah istri yg berzina tanpa diketahui suami (namun sudah bertaubat) di hadapan Allah? Apakah dosanya bisa diampuni? Kalo ya, bagaimana caranya agar diampuni?

2. Seandainya istri berselingkuh tanpa sepengetahuan suami, namun tidak sampai berjima', Apakah dosanya bisa diampuni? Apakah jika tidak sampai berjima' juga harus memberitahu suami dan meminta maaf?

3. Apakah harus memberitahu suami dan meminta maaf atas perselingkuhan yg lalu, sedangkan kalaupun suami memaafkan, hanya akan membuat hubungan ke depannya menjadi tidak enak.

Demikian pertanyaan saya ustad, mohon jawabannya. Terimakasih banyak. Assalamualaikum


JAWABAN

1. Semua dosa bisa diampuni asalkan dia melakukan taubat nasuha. Yaitu, memohon ampun pada Allah atas dosa yang dilakukan di masa lalu, berjanji tidak melakukannya lagi, dan banyak melakukan amal ibadah. Dalam QS As-Syuro :25 Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Artinya: Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Baca detail: Cara Taubat Nasuha

2. Bisa diampuni selagi taubatnya masih dalam keadaan sehat dan ajal belum sampai di tenggorokan. Tidak perlu memberitahu suami. Yang dia lakukan adalah aib pribadi, oleh karena itu menjadi urusan dia dengan Allah. Tidak perlu bahkan tidak boleh membuka aib itu walaupun pada suaminya. Nabi bersabda dalam hadits riwayat Ahmad:

إن الله يقبل توبة العبد ما لم يغرغر

Artinya: Allah akan menerima taubat hambanya selagi nafas belum sampai di tenggorokan (belum mati).

Sebenarnya menceritakan pada Anda juga sebuah kesalahan karena itu berarti membuka aib dosa pada orang lain.

3. Tidak perlu memberi tahu suami. Nabi bersabda dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari:

كُلُّ أَمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

Artinya: Seluruh umatku diampuni kecuali al-mujahirun (orang yang terang-terangan berbuat dosa), dan termasuk bentuk Mujaharoh (terang-terangan dalam berbuat dosa) adalah seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi hari dosanya telah ditutup oleh Allah, dia berkata: "Wahai fulan semalam aku telah melakukan seperti ini dan ini (menceritakan dosanya)." Allah telah menutupi dosanya di malam hari, tetapi dia membuka kembali dosa yang telah ditutup oleh Allah tersebut.
Read More...

Sunday, September 25, 2016

Makna Dua Kalimat Syahadat
MAKSUD AKU BERSAKSI DALAM KALIMAH SYAHADAT

1.a Apa maksud dari kata AKU BERSAKSI?
makna apa saja yang terkandung dalam kata "bersaksi", pada 2 kalimat syahadat.
Supaya bisa masuk islam dari murtad. Makna BERSAKSI itu apa?
Makna Cari di internet malah makin bingung, tidak ada yang ada rujukannya. Kitabnya. Takut salah. Saya bingung .

1b. Jika dibalik, BERSAKSI AKU TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLOH, DAN BERSAKSI AKU NABI MUHAMMAD UTUSAN ALLOH. apakah sah bagi orang murtad yang mau masuk islam bersahadat seperti itu?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. MAKSUD AKU BERSAKSI DALAM KALIMAH SYAHADAT
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

1c. Untuk orang murtad yang ingin masuk islam, Ketika mengucapkan AKU BERSAKSI,
A. apakah harus mengingat apa yang akan dibersaksikannya? (Tidak ada tuhan selain Alloh)
B. Jika tidak mengingat apa yang akan dibersaksikannya (ketika mengucap AKU BRSAKSI) apakah tidak sah bersaksinya? Jadi baru hanya ucapan aku bersaksi.

C. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad utusan c.1. Alloh. Kata AKU BERSAKSI maksudnya itu kemana?
c.2. Apakah memberitahu bahwa dia akan bersaksi?
c.3. Apakah memberitahu bahwa dia akan membertahukan sesuatu?
Atau ke 2 nya sama saja?

D. Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad utusan Allah. Tidak memakai "yang patut disembah" di sahadat yang pertama.
Jika bersahadat seperti ini bagi yang ingin masuk islam apakah sah?

2.a.Menurut yang saya baca dari artikel alkhoirot, Sah sahadat bagi orang murtad dengn menggunakan bahasa indonesia/bahasa selain arab, tanpa mengucapkan terlebih dahulu sahadat dengan bahasa arab. Apakah benar yang saya pahami?

b.1. mengucapkan 2 kalimat syahadat menggunakan bahasa indonesia ( selain arab)itu kan menurut pengarang kitab syamil, dan yang lainnya. Sah/sohih.
Menurut imam nawawi. Kan itu bukan dari hadist rosululloh langsung, itu menurut imam nawawi, imam nawawi menurut kitab syamil, dan pengarang kitab lainnya.
Apakah itu bisa dijadikan rujukan? Apakah itu bisa dipakai?

b.2. Misalkan "saya bersahadat, tapi menggunakan bahasa indonesia saja, tidak mengucapkan arabnya, Jika salah bagaimana?

b.3. Siapa saja ulama yang bisa dijadikan rujukan? Semua ulama kah?
(Apakah hanya imam yang 4? syafi'i, hanafi, maliki, hambali.)

3. Kan saya sering bertanya kepada pa ustad melalui layanan ini, dan terkadang pa ustad tidak memberikan reperensinya untuk semua jawaban. Hanya sebagian.
Saya hanya bisa berhusnudon pada p ustad disanah.
Apakah itu tidak apa-apa? Saya yakin, pa ustad memberikan jawaban tidak asal asalan. Karena jawaban pak ustad, untuk saya jalankan dalam ksehidupan.

4. Jika bingung, atau dalam keraguan. Murtad, tidak, murtad tidak.
Misalkan saya mengambil hukum asal, muslim, Namun pada kenyataannya, yang sebenarnya saya salah. Saya murtad.
Yang manakah yang diambil oleh Alloh? Saya yang mengambil hukum asal(muslim)atau yang sebenarnya(murtad)?

5.jika saya telah memponis diri murtad, berselang beberapa menit sebelum bersahadat (karena diam atau berpikir), jika pada akhirnya berkeyakinan tidak murtad, karena tidak berbuat yang murtad. Kan Saya tidak murtad (tidak perlu bersyahadat) Jika memponis diri murtad, jika tidak berbuat hal yang murtad, tidak otomatis jadi murtad (dijawaban yang sudah diberikan).

Misalkan..
jika telah memponis murtad, lalu mengucapkan syahadat, baru selesai sahadat yang pertama, yang ke 2 belum. Lalu berkeyakinan tidak kupur.
A. Apakah jadi kupur beneran jika telah mengucapkan syahadat (baru satu syahadat)?
B.Apakah jadi kufur beneran jika telah mengucapkan syahadat (sempurna)?

6.kaarena ada kasus seperti ini kemarin: Saya telah memponis diri murtad, lalu bersahadat, karena sahadatnya tidak masuk masuk, trus diulangi, bulak balik, prustasi. karena prustasi, saya berpikir lagi, eh saya salah, saya tidak murtad,saya salah tadi telah memponis diri murtad.
A. Apakah dengan kasus seperti ini (karena prustasi tidak masuk-masuk mengucapkan sahadatnya) saya telah murtad beneran? Karena sudah berusaha bersahadat.

B. Apakah dengan sudah mengucapkan sahadat dengan diyakini maknanya(syarat masuk islam), yang tadinya memponis murtad,statusnya jadi murtad beneran?

C. Apakah dengan sedang/sudah mengucapkan syahadat(syarat masuk islam),yang tadinya ragu murtad atau memponis murtad jadi murtad beneran?

7. Pernah kejadian seperti ini..
Saya sebelum solat dalam keadaan murtad,lalu bersyahadat( masuk islam), lalu wudhu
, setelah wudu, saya tiba tiba lupa,saya sudah bersyahadat atau belum.
A.Bagaimanakah cara mengambil hukum asalnya?

B.Kan tadi setelah wudhu, saya lupa, sudah bersahadat atau belum. Bila bingung nya lama,(sudah bersyahadat atau belum_sudah bersyahadat atau belum_sudah bersyahadat atau belum). Setelah 3 menit baru ingat, saya tadi sudah bersahadat.
Pertanyaannya.
Apakah dengan lama bingung sudah bersahadat atau belum, saya kembali menjadi murtad dan harus bersahadat kembali?

C. Bagaima jika bingung sudah membaca sahadat atau belum nya ketika solat,lama bingungnya. Saya baca dikitab safinah, yang membatalkan solat. Watarodudu fi kot iha. Apakah membatalkan solat dengan ragu/ bingungnya lama?

9. Bagaima jika bingung nya seperti ini?. takut melecehkan sunnat atau tidak, karena telah melaksanakan sunnat tapi tidak benar, sembrono. murtad tidak murtad tidak murtad tidak. Lama bingungnya. Saya baca dikitab safinah, yang membatalkan solat. Watarodudu fi kot iha. Kan solat itu sah, jika orang nya islam. Saya bingung lama, mutad tidak murtad tidak.
9.a. Apakah tidak termasuk watarodudu fi kot iha?
9.b. Apakah saya salah menempatkan watarodudu fi kot iha..?

10. Di kampung saya ada mitos seperti ini: jika burung anu bersuara, biasanya masarakat menyangka akan ada orang mati. Jadi masyarakat menyangaka itu adalah pertanda/tanda dari Alloh akan ada yang meninggal.
A. Bagaimana hukumnya hal seperti itu? Apakah menyebabkan murtad?
B. Apa yang menyebabkan murtadnya?jika murtad

11. Jika ada kucing berantem malam hari di sekitar rumah, suka diusir, karena masyarakat menyangka, Jika dibiarkan takut akam terjadi hal yang buruk.
Bagaimna hukumnya seperti itu?
Menyebabkab murtad kah? Apa yang menyebabkan murtadnya, jika murtad

12. Saya sering berpikir aneh aneh karena kebodohan saya. Misalkan. Kenapa Alloh tidak memberikan taufiq kepada saya? Kenapa Alloh tidak mencegah saya ketika berbuat salah? Saya bisa menerima taufiq dan hidayah karena Alloh menakdirkan menerima. Sebagai contoh. Atas kebingungan saya.Kenapa alloh tidak memberikan taupik untuk mengucapkan 2 kalimah sahadat kepada paman/ kake nabi Muhammad yang meninggal dalam keadaan tidak islam?(menurut cerita). Kan.. Dimaukan mengucapkan 2 kalimat sahadat oleh Alloh. Ditidak bisa/ mau mengucapkan 2 kalimah sahadat oleh Allah. Karena saya yakin tidak ada yang bisa melawan kehendak Alloh. Tidak mungkin paman/kake nabi bisa menolak jika Alloh memberikan taufiq kepada paman/kake nabi untuk mengucapkan 2 kalimah sahadat. Saya minta maaf kepada alloh karena kebodohan saya..ketidak mengertian saya.
12.a. Atau bagaimnakah sebenarnya taufiq dan hidayah Alloh itu? Apakah harus diusahakan?
12.b. Bukankah yang memaukan untuk mengusahakan mendapat taufiq dan hidayah juga Alloh?
12.c. Apakah nanti diakhirat orang orang kafir tidak akan protes, karena tidak diberikan taufik dan hidayah oleh Alloh? Kan yang pindah agama dari kristen jadi islam juga, jadi mualaf karena diberi taufik dan hidayah oleh Alloh... Tidak mungkin mereka bisa jadi mualaf, jika Alloh tidak menghendaki.


JAWABAN MAKNA BERSAKSI DALAM DUA SYAHADAT

Pertama, perlu anda sadari bahwa anda sedang menderita penyakit was-was yang cukup akut. Penyakit was-was hanya dapat diobati dengan (a) kesadaran bahwa was-was itu adalah penyakit yang harus disembuhkan; (b) penyakit was-was itu adalah godaan syaitan; (c) jangan mudah memvonis diri sendiri dengan murtad atau kufur kecuali setelah membaca informasi akurat dari penjelasan ulama yang kredibel (d) setelah menyadari hal ini, maka untuk pengobatannya adalah dengan cara mengikuti pendapat dan ijtihad ulama yang memudahkan dalam setiap perkara yang diwaswasi. Mempercayakan diri pada pandangan para ulaama adalah perintah Al-Quran sebagaimana disebut dalam QS An-Nahl 16:43 dan All-Anbiya 21:7 Allah berfirman:
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

Pendapat ulama mujtahid yang berbeda-beda itu semuanya dianggap benar oleh Allah. Asal ulama tersebut memang dikenal memiliki kemampuan dan kompetensi ilmu agama yang mencukupi sebagai mujtahid. Oleh karena itu, perbedaan ulama menjadi rahmat bagi kita yang pendapatnya bisa kita pakai sesuai dengan kondisi yang sedang kita hadapi, yang sekiranya memberi solusi pada diri kita. Nabi bersabda dalam sebuah hadits riwayat muttafaq alaih (Bukhari Muslim) dan Ahmad

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

Artinya: Apabila seorang hakim membuat keputusan apabila dia berijtihad dan benar maka dia mendapat dua pahala apabila salah maka ia mendapat satu pahala. Baca detail: Ijtihad dalam Islam

Dari ayat dan hadits di atas, maka ulama membuat kaidah (lihat Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni, hlm. 1/29):

اتفاق العلماء حجة قاطعة و اختلافهم رحمة واسعة

Artinya: Ijmak ulama adalah dalil yang pasti, sedangkan perbedaan ulama adalah rahmat yang luas.

(e) Perlu diketahui bahwa pertanyaan dalam masalah agama tidak semua dapat dijawab dengan dalil Quran dan hadits. Karena, (i) Ayat Al-Quran yang berkaitan hukum itu terbatas, hanya sekitar 500 ayat dari total 6600 ayat, begitu juga hadits hukum hanya sekitar 4000 hadits dari puluhan ribu hadits. Maka, di sinilah peran ulama diperlukan untuk menjadi ahli hukum Islam yang dapat memahami spirit dari Quran dan hadits. Sebagai implementasi dari QS An-Nahl 16:43 dan All-Anbiya 21:7 di atas. Jadi, jangan ragukan jawaban para ulama, dan jangan mengharapkan semua jawaban harus berdasarkan Quran dan hadits. Karena keinginan seperti itu justru berlawanan dengan perintah Quran itu sendiri (QS An-Nahl 16:43 dan All-Anbiya 21:7).
Baca detail:
- Ayat-ayat Hukum (Ayat Ahkam) dalam Al Quran
- Jumlah Ayat Hukum
- Hadits Ahkam (hadits-hadits terkait hukum Islam)

KEDUA: Berikut jawaban dari pertanyaan Anda:

1.b. Sama saja maksudnya. Tidak ada perubahan makna dalam kalimat tersebut.

1.c.a. Tidak perlu.Yang penting saat mengucapkan kalimat itu dia dalam keadaan sadar (tidak sedang mabuk atau gila).
1.c.b. Seperti diterangkan dalam 1.a. yang penting adalah anda sadar saat mengucapkan itu. Sadar dalam arti bukan sedang mimpi, tidak gila, tidak mabuk.
1.c.c.1. Ya bersaksi.
1.c.c.2. Sedang bersaksi. Kata "أشهد" adalah fi'il mudhorik yang menunjukkan masa sekarang (present tense).
1.c.c.3. Sedang bersaksi dan mengakui.

1.d. Sudah sah. Adapun makna "yang patut disembah" merupakan makna penafsiran dari ulama. Yang zhahir dan yang disyaratkan adalah yang sesuai dengan makna harfiah.

Catatan: Pertanyaan anda di atas terlalu mengada-ngada dan malah akan mempersulit diri anda sendiri. Sudah dijelaskan bahwa persaksian dengan dua kalimat syahadat dan memahami makna harfiahnya itu sudah cukup untuk masuk Islam. Maka, hendaknya tidak bertanya-tanya lagi tentang hukum-hukm yang tidak perlu agar tidak semakin menyiksa diri sendiri. Baca: Cara Masuk Islam

2.a. Betul.
2.b.1. Bisa sekali. Imam Nawawi adalah seorang mujtahid besar dalam madzhab Syafi'i. Ketika dia mengutip pendapat orang lain, maka itu artinya dia membenarkan pendapat itu. Ingat, bahwa mengikuti pendapat ulama mujtahid adalah bagian dari mengikuti perintah Allah dalam QS An-Nahl 16:43 dan Al-Anbiya' 21:7
2.b.2. Jangan ragu! Kalau sudah sesuai dengan yang tertulis, maka itu benar!
2.b.3. Yang terutama adalah imam madzhab yang empat dan para ulama di bawahnya yang memiliki kompetensi ijtihad dan itu bisa diketahui dari karya-karya tulisnya dan pengakuan ulama lain.

3. Tidak apa-apa. Jawaban yang tidak memakai referensi ada dua kemungkinan: (a) karena memang tidak butuh referensi [masalah yang ditanyakan tak terkait hukum syariah yang prinsip]; (b) karena referensinya sudah disebut di link yang diberikan di bagian bawah jawaban.

4. Hukum asal. Sesuai kaidah fikih: Yang asal adalah tetapnya sesuatu berdasarkan asalnya (الأصل بقاء ما كان علي ما كان). Lihat detail: Kaidah Fikih
Read More...

Friday, September 23, 2016

Mengobati Penyakit Was was Murtad dan Kufur
WAS-WAS SOAL MURTAD

1. Apkah mencela seseorang menyebabkan murtad? Misal :wajah mu jelek sekali. Kan menghina ciptaan Alloh.
2. Apakah menghina ustad menyebabkan murtad, Menghina karena kelakuannya, yang jauh dari ustad yang seharusnya. Misal: huh,ustad parah, trus aja berbohong.

3.menghina/melecehkan salah satu dari hukum syariat(wajib/sunnat/ makruh/ haram) kan menyebabkan murtad.
A.Apakah dengan menganggap kecil ganjaran sunnat menyebabkan murtad?
B.Apakah dengan tidak butuh ganjaran sunnat menyebabkan murtad?
C.Apakah dengan mengucapkan :" ah tidak apa apa, sunnat ini",
(Maksudnya, tidak dilakukan tidak apa apa, karena sunnat tidak apa apa tidak dilakukan),tidak menyebabkan murtad?
D. Apakah dengan melakukan sunnat secara sembarangan tidak dengan ketentuannya bisa menyebabkan murtad? Mengerjakan perkara sunnat, tp sembrono.
E.jika yang diatas(A,B,C) tidak menyebabkan kufur, menghina atau melecehkan yang bagaimnakah yang menyebabkan murtad? misal dalam hal sunnat.
F. Apakah dengan menganggap enteng dosa kecil menyebab kan murtad?
Misal:
kenapa kamu berbuat seperti itu?
Ga papa lah, dosa kecil ini.
G.Apakah dengan menganngap enteng dosa besar menyebabkan murtad?
Misal:
Kenapa kamu melawan orang tua?
Tidak apa-apa, dosa besar ini, tidak menyebabkan keluar islam.

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. Cara Menyembuhkan Was-was Muratd dan Kufur
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

4.sah kah bershadatnya orang murtad, jika diucakannya dalam hati? Bersahadatnya dalam hati,tidak diucapkan dengan lisan. Dengan maksud,malu, supaya orang lain tidak tahu saya telah murtad. Karena saya sering sekali bersahadat,karena telah menganggap diri murtad (seperti orang aneh, terus bersahadat).
Bukan malu karena masuk islamnya, tapi karena telah berbuat murtadnya. Supaya dapat bersahadat seketika itu juga,jika telah murtad. Dimanapun dan kapan pun.

5. Apakah jika seorang murtad ingin masuk islam lagi. Disyaratkan harus ada rasa diterima sahadatnya( akan diterima masuk islamnya)?

6. Jika memiliki perasaan tidak diterima bersahadatnya bgmn? Tidak diterima kah islamnya? Bagaimnkah menghadirkan perasaan diterima? Karena terkadang sulit hadir apabila telah murtad.

7. Jika yang murtad, lalu membaca sahadat. Apakah sudah masuk islam? Tanpa ada rasa diterima,sebelum bersahadat,sedang, atau sesudah sahadatnya.

8. Kenapa 5 6 7 saya tanyakan harus ada rasa diterima/ ditolak. Karena ada hadits yang berbunyi...ANA INGDA DONNI 'ABDI DI.(Saya ada diperasaan hamba saya kepada saya) Jika ada perasaan diterima sahadatnya,berarti diterima.dan sebaliknya. Apkah saya salah menempatkan hadits ini?

9. Saya sudah membaca artikel tentang taubatan nasuha dari situs pesantren ini.

A.Apakah disyaratkan bagi yang murtad menghadirkan "rasa menyesal, berhenti seketika itu juga, tidak akan mengulanginya lagi dikemudian hari tidak akan murtad lagi",ketika bersahadat?

B. Jika mengucapkan sahadat saja,apakah sudah cukup bagi yang murtad untuk kembali kepada islam? Tidak dibarengi dengan rasa menyesal, tidak akan mengulangi lagi di masa depan,dsb.

C. kapankah seharusnya dilakukan taobat nasuha? Sesudah solat kah?
D.bagaimna akibatnya, jika dosa besar tidak ditobati( tobat nasuha)?
E.jika yang murtad, bersahadat. Tapi tidak tobat nasuha, apakah islamnya menjadi tidak diterima?

10.ini yang menyebabkan saya suka bersahadat terus. Saya suka berfikir cepat,atau terbesit dalam pikiran secara cepat. (Menyimpulkan saya sudah murtad.) Padahal setelah dipikir2 dengan teliti.saya tidak murtad.

Contoh: Ketika melihat orang Luar negri..yang sedang berkelahi...kita berpikir...apa agamanya ya? PASTI KRISTEN Tiba tiba berpikir/berkesimpulan cepat... ADUH SAYA TELAH MURTAD.. Berpikir lagi dengan cepat Aduh salah..kan tidak murtad..cuma dosa besar.

Pertanyaannya.
A.Kan saya tadi telah menganngap/memponis diri murtad.. Haruskah saya bersahadat?
B. Ketika menganggapp diri telah murtad. Dan telah memponis diri sudah murtad ADUH, SAYA MURTAD. Tp ternyata setelah dipikir lagi tidak murtad. Apakah harus bersahadat? (Ini yang membuat diri selalu bersahadat, karena terlalu cepat berkesimpulan).

11. Ketika ada yang bertanya.. Kenapa kamu tidak solat sunnat...? Saya menjawab: "Ga pa pa lah..sunnat ini..." Kan jawaban itu bisa ada 2 maksud..
1. Melecehkan sunnat 2. Karena sunnat tidak apa apa tidak dilakukan. saya bingung, maksud menjawab tadi, maksudnya yang melecehkan atau yang sunnat tidak apa apa tidak dikerjakan. Trus dipikirkan, (Murtad tidak murtad tidak murtad tidak)bingungg lama..

Pertanyaannya...

A. Bila bingung lama, misalkan 1 menit. Apakah tidak membatalkan keislaman? Karena bingung nya lama.
B. Jika saya menyimpulkan ..maksud tadi adalah melecehkan sunnat. Dan sudah memponis diri murtad.
Tp setelah memponis diri telah murtad,masih dipikirkan..dn ternyata, saya tidak bermaksud melecehkan...
Pertanyaanya. Apakah dengan memponis diri sudah murtad, harus bersahadat? Meskipun pada akhirnya saya yakin tidak melecehkan sunnat.tidak murtad.

C. Bila telah memponis diri murtad, sebelum bersahadat, ada jeda waktu 2 mnit, disebabkan karena diam dulu atau yang lainnya..trus berpikir,ternyata diri ini tidak murtad. Apakah dengan memponis murtad, ada jeda waktu 3 mnitan sebelum bersahadat. menjadi murtad beneran? Meskipun pada akhirnya yakin bahwa tadi salah telah memponis diri murtad.

D. Apabila sedang solat, kita ragu, apakah kita terjerat murtad/ tidak. Karena sedang solat memikirkan sesuatu misalnya.. Contoh...murtad tidak murtad tidak murtad tidak..bingung.
Pertanyaanya. jika ragu nya lama, apakah membatalkan solat?

12. .jika menyebut muslim dengan sebutan kapir. Kan tidak membuat murtad...tapi dosa besar.
A.Maksud dosa besarnya bgman?
B. Jika menyebut muslim dengan sebutan setan bgmn hukumnya? Dosa? Menyebabkan murtad tidak?

C. Jika menebak seperti ini apakah menyebabkan murtad? Contoh. Kepada seoreng muslim. "Kayaknya kamu akan menjadi kapir sebelum meninggal nanti.

13. Saya pernah mengimami solat berjamaah dengan keadaan tidak islam. Saya yakin.
A. Bagamana taubatnya..?
B.Bagaimna memberitahunya kepada makmum?
C.bagaimana jika makmumnya sudah meninngal?misalkan yang ada hanya keluarganya.
D. Bagaimna cara tobatnya jika solatnya lupa (solat apa aja..misal magrib atau isa)
E. Bagaimana tobatnya jika jumlah solatnya lupa..( lupa berapa kali telah mengimamii solat dalam keadaan kufur)
F. Bagaimna memberitahu kepada makmum?
G. Bagaimana jika si makmum tidak percaya bahwa saya mengimami dalam keadaan tidak islam?apakah dosanya ditanggung oleh saya?
H. Saya sering meninggalkan solat....bagaimn tobatnya?

Sebenarnya saya punya penyakit waswas murtad ini sudah dari dulu.kepala saya pusing. Saya prustasi tidak mendapatkan jalan keluar. Sampai akhirnya saya menyerah. Saya pergi ke mesjid, dalam keadaan murtad, ikut berjamaah dengan orang lain. Saya munafik pa ustad. Saya munaifik.

Saya yakin pernah mengimami solat dalam keadaan tidak islam.( karena terpaksa/ karena terus disuruh jadi imam.)(mereka tidak tahu saya murtad/munafik.

14. Saya sering berpikir aneh aneh karena kebodohan saya.

Misalkan. Kenapa Alloh tidak memberikan taufiq kepada saya? Kenapa Alloh tidak mencegah saya ketika berbuat salah? Saya bisa menerima taufiq dan hidayah karena Alloh menakdirkan menerima.
Sebagai contoh. Atas kebingungan saya. Kenapa alloh tidak memberikan taupik untuk mengucapkan 2 kalimah sahadat kepada paman/ kake nabi Muhammad yang meninggal dalam keadaan tidak islam?(menurut cerita) Kan.. Dimaukan mengucapkan 2 kalimat sahadat oleh Alloh. Ditidak bisa/ mau mengucapkan 2 kalimah sahadat oleh Allah.

Karena saya yakin tidak ada yang bisa melawan kehendak Alloh. Tidak mungkin paman/kake nabi bisa menolak jika Alloh memberikan taufiq kepada paman/kake nabi untuk mengucapkan 2 kalimah sahadat.
Saya minta maaf kepada alloh karena kebodohan saya..ketidak mengertian saya. Atau bagaimnakah sebenarnya taufiq dan hidayah Alloh itu? Apakah harus diusahakan? Bukankah yang memaukan untuk mengusahakan mendapat taufiq dan hidayah juga Alloh? Kadang, saya merasa Alloh tidak adil.

Apakah nanti diakhirat orang orang kafir tidak akan protes, karena tidak diberikan taufik dan hidayah oleh Alloh? Kan yang pindah agama dari kristen jadi islam juga, jadi mualaf karena diberi taufik dan hidayah oleh Alloh... Tidak mungkin mereka bisa jadi mualaf, jika Alloh tidak menghendaki.

14. Dalam Al Qur an.. Ada ayat yang berarti seperti ini. Siapa yang tidak ridho akan kodo dan kodar dari saya, silahkan cari tuhan selain Saya.

A. Jika mengucapkan," Alloh itu tidak adil". Apakah mengakibatkan murtad?
B. Jika mengucapkan: "Ya Alloh, kenapa hidupku begini amat, saya tidak rido ya Alloh, Apakah mengakibatkan murtad?
C. Jika yang diatas (A,B)tidak menyebabkan murtad, apakah ada kata2 yang berhubungan dengan tidak ridho terhadap takdir, yang dapat mengakibatkan murtad? maaf, tolong dicontohkan.

15. 1. Syarat untuk masuk islam bagi yang murtad/kufur adalah mengucapkan 2 kalimat sahadat dan menyakini dalam hati.
A.meyakini apa pa ustad,yang dimaksud di atas? Imam syafi' i berkata, apabila seseorang membaca 2 kalimat syahadat, maka ia menjadi muslim.

B.(untuk orang murtad yang ingin maskuk islam)Apabila mengucapkan 2 kalimat syahadat saja apakah sudah cukup? Tanpa diketahui artinya. Kan imam syafi'i itu orang arab, jadi tidak perlu diartikan. Saya orang indonesia, berbicara arab itu tidak dimengerti, seperti bahasa inggris saja.
C. .(untuk orang murtad yang ingin maskuk islam)apakah harus diikuti dengan artinya? Mengucapkan 2 Kalimah syahadat, lalu diikuti dengan artinya.

D..(untuk orang murtad yang ingin maskuk islam). Apakah sah masuk islamnya? bila mengucappkan 2 kalimat syahadat Tanpa diresapi dengan artinya ketika mengucapkannya. Tapi tahu dan hapal arti dari 2 kalimah syahadat..

Contoh. Saya lagi mengucapkan 2 kalimat syahadat, tapi pikiran dan hati tidak meresapi atau memikirkan artinya. Tapi apal, arti 2 kalimat sahadat itu. Maksud mengucapkan 2 kalimat itu supaya masuk islam.
Ketika mengucapkan 2 kalimah syahadat, pikiran dan hati sulit memikirkan dan meresapi artinya.
Jadi terus diulang ulang. Karena pa ustad dulu pernah menjawab begini: Ketika mengucapkan syahadat dan tahu maknanya, maka itu cukup bagi seorang non muslim untuk masuk islam.

15.e. Apakah maksud jawaban pa ustad sebenarnya? KETIKA MENGUCAPKAN ,TAHU MAKNANYA. ketika mengucapkan harus sambil deresapi dengan artinya? apakah seprrti itu? Bagaimana seharusnya/semestinya?

Mungkin sekian pertanyaan tambahan, dari jawaban yang sudah diberikan, yang membuat saya bingung dalam memahaminya.

Maaf, jika pertanyaannya banyak sekali.masalahnya, jika tidak ditanyakan selalu kepikiran/ dippikirkan.
Maaf, jika pertanyaan nya seperti itu, bila tidak soppan/ tidak seharusnya bertanya seperti itu. Saya yakin, itu karena saya tidak paham agama.. Mohon dijawab sebagai mana pertanyaan. Sekali lagi maaf.


JAWABAN SOLUSI WAS WAS MURTAD

1. Tidak murtad. Namun berdosa karena menyakiti sesama muslim itu dilarang.

2. Tidak murtad. Menghadapi ustadz seperti itu sebaiknya langsung diingatkan (dinasihati) atau ingkar dalam hati.

3. a. Selagi masih mengakui bahwa itu sunnah, maka tidak murtad.
b. Kalau tidak butuh dalam arti tidak melakukan, maka hukumnya tidak apa-apa. Karena perkara sunnah secara definisi adalah perkara yang mendapat pahala kalau dilakukan dan tidak berdosa kalau ditinggalkan.
c. Tidak murtad. Namun sebaiknya tidak perlu mengatakan seperti itu.
d. Tidak murtad.
e. Yang menyebabkan murtad kalau menghina Rasulullah sebagai pemberi contoh perkara sunnah.
f. Tidak murtad. Selagi kita masih mengakui itu dosa, maka tidak murtad.
g. Tidak murtad. Selagi masih mengakui itu dosa.

4. Tidak sah ucapan syahadat dalam hati. Ucapan syahadat orang murtad atau yang mau masuk Islam harus diucapkan secara lisan dan diyakini dalam hati.

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan:

واتفق أهل السنة من المحدثين والفقهاء والمتكلمين على أن المؤمن الذي يحكم بأنه من أهل القبلة ولا يخلد في النار لا يكون إلا من اعتقد بقلبه دين الإسلام اعتقادًا جازمًا خاليًا من الشكوك ونطق بالشهادتين فإن اقتصر على إحداهما لم يكن من أهل القبلة أصلاً إلا إذا عجز عن النطق لخلل في لسانه أو لعدم التمكن منه لمعاجلة المنية أو لغير ذلك فإنه يكون مؤمنًا

Artinya: Ulama Ahlussunnah dari kalangan ahli hadits, ahli fikih dan ahli tauhid sepakat bahwa yang disebut mukmin (orang beriman) adalah (a) orang yang meyakini dengan hati pada agama Islam dengan keyakinan yang pasti tanpa ragu; dan (b) mengucapkan dua kalimat syahadat. Apabila hanya salah satunya maka tidak termasuk muslim sama sekali kecuali apabila tidak mampu mengucapkannya karena ada cacat pada lisannya atau tidak mampu melakukannya... apabila demikian maka dia sah menjadi mukmin.

5. Tidak disyaratkan seperti itu. Orang murtad sama dengan orang kafir, apabila ingin masuk Islam maka cukup membaca dua kalimat syahadat dan meyakininya dalam hati.

6. Perasaannya tidak dianggap. Asal syarat sudah terpenuhi, maka ia kembali menjadi muslim. Syaratnya sebagaimana disebut dalam poin 5.

7. Ya, setelah baca syahadat dan meyakini isinya maka sudah Islam. Tanpa perlu ada syarat tambahan.

8. Makanya, kalau kita awam agama jangan langsung memaknai sendiri suatu hadits, nanti anda akan bingung sendiri. Ibarat lulusan SMA bergaya seperti dokter spesialis. Tanya pada ulama atau baca kitab ulama ahli hadits dan ahli fiqih yang menjelaskan tentang maksud suatu hadits yang kita baca. Maksud hadits yang anda kutip itu adalah agar kita selalu berbaik sangka pada Allah. Jadi tidak ada kaitannya dengan soal baca syahadat.

9.a. Ya
b. Cukup.
c. Setiap saat dan setiap hari.
d. Yang pasti akan mendapat siksa di akhirat kelak. Dan ada kemungkinan juga mendapat balasan musibah di dunia juga sebagaimana disebut dalam QS Az-Zukhruf :42 dan 43
Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) maka sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat).
Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka.

Perhatikan ayat 43, menurut Tafsir Jalalain, yang akan diperlihatkan Allah adalah pembalasan di dunia yang bisa berupa musibah kemiskinan, kesehatan fisik atau mental.

e. Islamnya diterima kalau sudah terpenuhi syarat masuk Islam seperti disebut dalam poin 5.

10.a. Menganggap diri murtad tidak membuat seseorang menjadi murtad. Penyebab murtad itu apabila dia melakukan sesuatu yang menurut syariah berakibat murtad. Misalnya, menganggap shalat fardhu itu tidak wajib. Menganggap barang haram itu halal, dsb. Jadi, tidak perlu bersyahadat karena anda tidak murtad.
10.b. Tidak perlu bersyahadat, karena anda tidak murtad.

11.a. Kalau anda bingung apakah melecehkan atau tidak, maka itu kembali pada asal yaitu tidak melecehkan. Karena, faktanya perkara sunnah memang boleh ditinggalkan.
11.b. Kesimpulan anda yang terakhir yang benar yakni tidak bermaksud melecehkan. Karena itu tidak perlu bersyahadat. Apalagi anda sedang menderita penyakit was was, maka hilangkan perasaan yang memberatkan anda tersebut.
11.c. Memvonis diri murtad tidak otomatis menjadi murtad.
11.d. Tidak batal shalat kecuali apabila anda berniat keluar dari shalat.

12. .jika menyebut muslim dengan sebutan kapir. Kan tidak membuat murtad...tapi dosa besar.
A.Maksud dosa besarnya bgman?
12.a. Dosa besar artinya termasuk pelanggaran syariah yang berat.
12.b. Dosa. Tidak murtad.
12.c. Dosa. Baca detail: Hukum Mengkafirkan Sesama Muslim

13.a. Shalat anda tidak sah, karena itu anda harus mengqadha (mengganti) shalat tersebut. Baca: Qadha Shalat http://www.alkhoirot.net/2011/12/hukum-qadha-shalat.html
13.b. Makmum tidak usah diberitahu. Karena shalatnya makmum tetap sah. Yang tidak sah hanya shalatnya imam. Berdasaran hadis sahih riwayat Bukhari sbb:

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ.

Artinya: Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa

Al-Baghawi (ulama madzhab Syafi'i) dalam kitab Syarhus Sunnah, hlm. 3/405, menjelaskan maksud hadits di atas sbb:

فيه دليل على أنه إذا صلى بقوم وكان جنباً أو محدثاً، فإن صلاة القوم صحيحة، وعلى الإمام الإعادة، سواء كان عالماً بحدثه متعمداً الإمامة، أو كان جاهلاً

Artinya: Hadits ini menjadi dalil bahwa apabila seorang imam shalat dengan makmum sedangkan dia dalam keadaan junub atau hadas, maka shalatnya makmum hukumnya sah, sedangkan imam wajib mengulangi. Baik si imam sadar atas hadasnya dan sengaja menjadi imam atau dalam keadaan tidak tahu.

13.c. Lihat poin 13.b.
13.d. Dikira-kira yang paling mendekati kenyataan.
13.e. Dikira-kira.
13.f. Tidak usah diberitahu. Shalat makmum tetap sah. Lihat poin 13.b.
13.g. Tidak perlu diberitahu.
13.h. Mengqadha shalat dan mohon ampun pada Allah.

14.a. Ya, karena berarti tidak percaya pada Maha Adil-nya Allah dan pada kandungan Al-Quran. Di mana Allah QS An-Nisa 4:40 "Allah tidak berbuat zhalim sedikitpun."
14.b. Tidak murtad.
14.c. 14.a. adalah contoh penyebab murtad dan kufur.

15.a. Meyakini maksudnya percaya pada yang diucapkan
15.b. Kalau syahadat yang dibaca memakai bahasa Arab, maka harus mengerti arti dari dua kalimat syahadat itu. Kalau tidak mengerti, maka sebaiknya memakai bahasa Indonesia saja. Baca: Masuk Islam dengan Bahasa Selain Arab
15.c. Baca syahadat harus diucapkan dengan lisan, dan dimengerti artinya dalam hati. Kalau diikuti dengan artinya secara lisan, maka itu lebih baik.
15.d. Sah. Tidak perlu meresapi artinya, yang penting memahami artinya.
15.e. Maksud tahu maknanya adalah mengetahui bahwa dua kalimat syahadat yang diucapkan dalam bahasa Arab itu bermakna "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Utusan Allah"

Baca artikel tentang was-was di link berikut:

- Cara Masuk Islam bagi Kafir dan Murtad
- Cara Orang Murtad Kembali ke Islam
- Penyebab Murtad, Kufur dan Syirik
- Mengatasi Was was Kufur
- Cara Mengatasi Was-Was Murtad
- Menghina Syariah Islam Apakah Menyebabkan Murtad?
Read More...

Wednesday, September 21, 2016

Was-Was Keabsahan Ijab Kabul Pernikahan
WAS-WAS IJAB KABUL PERNIKAHAN

Ustad, kenapa saya selalu ada was-was tentang sah atau tidak sah ijab Kabul yang baru seminggu terjadi? ini pertanyaan kedua yang sebelumnya saya bertanya tentang penyebutan nama wali yang salah, dan ustad mengatakan tidak masalah nikahnya tetap sah. ada lagi yang membuat saya was-was ustad... tolong penjelasan mendetail agar saya tidak lagi was-was ustad....

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. RAGU KEABSHAN IJAB KABUL PERNIKAHAN
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

nikah saya dilakukan di KUA, dihadiri oleh:

1. Saya sendiri sebagai pengantin laki-laki
2. istri saya sebagai pengantin perempuan
3. abang kandung istri selaku wali
4. penghulu dari KUA
5. Dua orang saksi dari KUA
6. Dua orang abang ipar istri
7. Satu orang kakak kandung perempuan istri
8. satu kuasa hukum saya ( perempuan )

Proses ijab Kabul dilakukan oleh penghulu dari KUA karena abang kandung istri selaku wali mewakilkannya ke penghulu.

setelah proses perwakilan wali dari abang kandung ke penghulu selesai, maksudnya secara lisan abang sebagai wali mewakilkan ke penghulu, dimana penghulu menanyakan kebenaran nasab, siapa nama bapak kandung istri dan sebagainya.

setelah itu saya membaca istighfar dan membaca syahadat, dan mulailah penghulu membaca ijab. saya sadar semua proses yang terjadi, saya ingat nama calon istri saya, nama bapak istri saya, dan saya sadar bahwa ada ijab Kabul sedang berlangsung

yang jadi was-was saya ustad, ketika ijab Kabul, saya hanya focus menghafal dan berusaha mengingat apa yang harus saya ucapkan dalam Kabul, jadi saya tidak focus ucapan ijab dari penghulu selaku wakil wali, yang ada dikepala saya hanya ketika penghulu mengucapkan tunai maka saya harus segera menjawab dalam satu nafas dan dengan kata-kata yang sudah diajarkan KUA dan yang saya ingat. jadi saya tidak mendengar sempurna perkataan ijab penghulu, bahkan setelah proses ijab Kabul, saya ragu apakah saya mendengar penghulu mengucapkan nama istri saya dan nama wali dengan sempurna, intinya saya hanya mendengar sebagian karena saya focus untuk menjawab begitu mendengar kata tunai.

kata ijab yang saya dengar, saya nikahkah engkau .......yang walinya diwakilkan ke saya.... tunai ( titik titik dimaksudkan saya tidak mendengar )

kata kabul : saya terima nikahnya (nama istri ) binti ( nama ayah istri ) dengan mas kawinnya sebentuk cincin emas tunai

saya hanya ingat kata kata Kabul yang saya ucapkan, sementara kata ijab dari penghulu anggap saya tidak mendengar karena focus untuk menjawab begitu saya dengar kata tunai

ijab Kabul yang pertama gagal karena saksi menilai saya kurang sempurna menyebut nama wali. ijab Kabul kedua dilaksanakan dengan kondisi yang sama, malah mungkin lebih parah, kali ini benar-benar saya hanya menyiapkan diri untuk menjawab begitu penghulu mengatakan tunai, saya tidak tahu penghulu mengucapkan kata ijab apa, yang pasti begitu mendengar penghulu mengucapkan tunai langsung saya jawab dalam satu nafas :

saya terima nikahnya ( nama istri ) binti ( nama bapak istri ) dengan mas kawinnya sebentuk cincin emas tunai.

ijab Kabul yang kedua ini, kedua saksi mengatakan sah. dan yang hadir disitupun mengatakan sah.

1. Pertanyaan saya ustad, bagaimana status ijab Kabul yang saya jelaskan diatas ?
karena saya baca di artikel ijab Kabul harus di dengar dan dipahami kedua belah pihak

terima kasih atas perhatiaannya ustad, saya tunggu jawabannya ustad


JAWABAN WAS-WAS IJAB KABUL PERNIKAHAN

1. Status ijab kabul anda sah secara syariah. Yang prinsip dalam ijab kabul adalah kedua belah pihak sepakat dan mengerti atas tujuan dari ijab kabul itu sendiri yakni pernikahan. Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, hlm. 2/35, menyatakan syarat ijab kabul sbb:

سماع كل من المتعاقدين بعضهما من بعض ما يفهم أن المقصود من الكلام هو إنشاء عقد الزواج، وإن لم يفهم منه كل منهما معاني مفردات العبارة، لأن العبرة بالمقاصد والنيات.

Artinya: Kedua belah pihak (Wali nikah dan calon suami) saling mendengarkan satu sama lain dalam arti memahami bahwa tujuan dari ucapan kedua belah pihak adalah untuk melaksanakan akad nikah. Walaupun kedua belah pihak tidak mengerti setiap arti kata yang diucapkan (itu tidak apa-apa). Karena, yang dianggap adalah maksud dan niatnya.

Ijab kabul sebenarnya mirip dengan transaksi (muamalah) yang lain yakni adanya saling rela antara kedua belah pihak. Itu esensi terpenting. Wali rela menikahkan adiknya dengan Anda, sedangkan anda rela menerima si wanita sebagai istri Anda. Ini yang prinsip. Dan itu semua sudah dilakukan. Jadi tidak ada yang perlu dipertanyakan atau diragukan keabsahannya. Tidak ada persyaratan anda harus mendengarkan semua yang diucapkan Wali nikah.

Sayid Sabiq dalam Fiqhus Sunnah, hlm. 2/35, mengutip pendapat madzhab Syafi'i sbb:

ويشترط الشافعية الفور. قالوا: فان فصل بين الايجاب والقبول بخطبة بأن قال الولي: زوجتك، وقال الزوج: بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، قبلت نكاحها، ففيه وجهان: أحدهما وهو قول الشيخ أبي حامد الاسفراييني، أنه يصح، لأن الخطبة مأمور بها للعقد، فلم تمنع صحته: كالتيمم بين صلاتي الجمع. والثاني: لا يصح، لأنه فصل بين الايجاب والقبول. فلم يصح. كما لو فصل بينهما بغير الخطبة.

Artinya: Madzhab Syafi'i mensyaratkan segera dalam ijab kabul. Apabila antara ijab kabul terpisah dengan khutbah seperti wali nikah berkata: "Aku nikahkan kamu" Lalu suami berkata: "Bismillah alhamdulillah was sholatu wassalamu ala Rasulillah, aku terima nikahnya." Maka dalam hal ini ada dua pendapat. Pertama, nikahnya sah ini pendapat Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini. Karena khutbah termasuk diperintahkan dalam akad maka tidak mencegah keabsahan akad seperti tayamum antara dua shalat jamak. Pendapat kedua: tidak sah karena khutbah tersebut menjadi pemisah antara ijab dan kabul sebagaimana apabila antara ijab-kabul dipisah dengan hal lain selain khutbah.

Dalam penjelasan di atas ada dua poin penting yaitu (a) antara ijab dan kabul harus dilakukan dengan segara, tanpa ada pemisah; (b) kata yang wajib diucapkan oleh Wali nikah adalah kalimat "Aku nikahkan kamu dengan (si wanita)" dan yg wajib diucapkan oleh suami adalah "aku terima nikahnya". Dua poin penting ini sudah dilakukan dalam ijab kabul anda. Jadi, tidak perlu lagi was-was dengan keabsahan pernikahan anda.

Baca detail: Pernikahan Islam
Read More...

Sunday, September 18, 2016

Musik dalam Islam
HUKUM MUSIK DALAM ISLAM

Halal dan haram musik (music) dalam hukum Islam. Musik adalah suatu aktifitas budaya yang dilakukan oleh hampir semua orang, disengaja atau tidak. Sedikitnya, orang pasti mendengarkan alunan musik di rumah tetangga, TV, radio, mall, di jalan-jalan, di angkutan umum, dan lain-lain. Itu artinya, musik harus mendapat status yang jelas dalam perspektif Islam agar supaya umat tidak melakukan sesuatu tanpa payung hukum syariah.

DAFTAR ISI
  1. Definisi Musik
  2. Pendapat yang Mengharamkan Musik
  3. Pendapat yang Menghalalkan Musik
    1. Imam Ghazali
    2. Ibnu Arabi
  4. Kesimpulan
  5. CARA KONSULTASI AGAMA


DEFINISI MUSIK

Dalam pengertian masyarakat umum, kata "musik" merujuk pada suatu seni yang mengombinasikan antara paduan berbagai alat musik tertentu dengan seni suara. Sehingga, musik yang hanya menampilkan paduan alat musik saja, seperti musik klasik, atau paduan suara saja, dianggap "kurang musik". Dalam performa panggung, seni musik juga sering dipadukan dengan seni tari atau dansa. Terkadang, musik dan lagu disebut terpisah. Tapi tidak jarang juga dua kata itu disebut secara berkelindan (interchangeable) untuk pengertian yang sama.

Dalam bahasa Arab pun, lagu disebut dengan ghina' (jamak, aghani) (غناء أغاني), sedang musik disebut musiqi (موسيقي). Tapi, tidak jarang dua kata itu disebut terpisah dengan makna yang sama.

Dalam tulisan ini, kata musik mencakup arti semua seni alat musik dan lagu/nyanyian. Kecuali apabila disebut secara khusus.


PENDAPAT YANG MENGHARAMKAN MUSIK

Ulama yang mengharamkan musik pun memiliki pandangan yang beragam soal keharaman dan dalil yang mengharamkannya. Perlu dicatat bahwa musik yang dibahas adalah musik yang santun yang kata-katanya sopan dan wajar serta tidak mengundang konotasi sex atau syahwat. Musik yang liriknya bernuansa pornografi, mengundang syahwat dan tampilan panggung yang tidak islami--mengumbar aurat dan percampuran dan sentuhan laki-laki perempuan bukan mahram--jelas hukumnya haram dalam musik atau dalam kehidupan biasa.

DALIL HARAMNYA MUSIK

1. Quran Surat Luqman 31:6:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُواً أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Artinya: Dan diantara mereka (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits (kata- kata tak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai bahan olok-olokan. Mereka itu memperoleh adzab yang menghinakan.

Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi menyatakan:
( يشتري لهو الحديث أي : يستبدل ويختار الغناء والمزامير والمعازف على القرآن ، قال أبو الصباء البكري سألت ابن مسعود عن هذه الآية فقال : هو الغناء ، والله الذي لا إله إلا هو ، يرددها ثلاث مرات
وقال إبراهيم النخعي : الغناء ينبت النفاق في القلب ، وكان أصحابنا يأخذون بأفواه السكك يخرقون الدفوف . وقيل : الغناء رقية الزنا . وقال ابن جريج : هو الطبل وعن الضحاك قال : هو الشرك . وقال قتادة : هو كل لهو ولعب

Artinya: Tafsir kalimat "يشتري لهو الحديث" adalah mengganti dan memilih nyanyian dan alat musik dibanding Quran. Abu Shoba Al-Bakri berkata: Aku bertanya pada Ibnu Mas'ud tentang maksud ayat ini, ia menjawab: Maksudnya adalah nyanyian (musik) demi Allah (ia mengulang sumpahnya tiga kali). Ibrahim An-Nakha'i berkata: Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati.. Ibnu Juraij berkata: ia adalah alat musik drum. Ad-Dhahhak berkata: ia adalah syirik. Qatadah berkata: Setiap permainan.

Muhammad ibnu Jarir At-Tabari dalam Tafsir At-Tabari berkaitan dengan "lahwal hadits" menyatakan demikian:

اختلف أهل التأويل في تأويل قوله : ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) فقال بعضهم : من يشتري الشراء المعروف بالثمن ، ورووا بذلك خبرا عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - .

وهو ما حدثنا أبو كريب قال : ثنا وكيع ، عن خلاد الصفار ، عن عبيد الله بن زحر ، عن علي بن يزيد ، عن القاسم ، عن أبي أمامة قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " لا يحل بيع المغنيات ، ولا شراؤهن ، ولا التجارة فيهن ، ولا أثمانهن ، وفيهن نزلت هذه الآية : ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) .

حدثنا ابن وكيع قال : ثني أبي ، عن خلاد الصفار ، عن عبيد الله بن زحر ، عن علي بن يزيد ، عن القاسم ، عن أبي أمامة ، عن النبي - صلى الله عليه وسلم - بنحوه . إلا أنه قال : " أكل ثمنهن حرام " وقال أيضا : " وفيهن أنزل الله علي هذه الآية : ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله ) .

حدثني عبيد بن آدم بن أبي إياس العسقلاني قال : ثنا أبي قال : ثنا سليمان بن حيان ، عن عمرو بن قيس الكلابي ، عن أبي المهلب ، عن عبيد الله بن زحر ، عن علي بن يزيد ، عن القاسم ، عن أبي أمامة . قال : وثنا إسماعيل بن عياش ، عن مطرح بن يزيد ، عن عبيد الله بن زحر ، عن علي بن زيد ، عن القاسم ، عن أبي أمامة الباهلي قال : سمعت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يقول : " لا يحل تعليم المغنيات ، ولا بيعهن ولا شراؤهن ، وثمنهن حرام ، وقد نزل تصديق ذلك في كتاب الله ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) إلى آخر الآية " .

وقال آخرون : بل معنى ذلك : من يختار لهو الحديث ويستحبه .

Ulama ahli takwil berbeda dalam menakwili ayat "( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) ". Sebagian menyatakan: Orang yang membeli pembelian yang masyhur dengan harga, lalu meriwayatkan hal itu sebagai berita dari Rasulullah.

Rasulullah bersabda: Tidak halal menjual penyanyi, membelinya, memperdagangkannya, tidak juga harganya. Dalam soal ini turun ayat "( ومن الناس من يشتري لهو الحديث )" dalam riwayat lain ada tambahan "Memakan harga penyanyi adalah haram"...

Rasulullah bersabda: "Tidak halal mengajar para penyanyi, menjual penyanyi, membeli penyanyi. Harga mereka haram. Telah turun ayat soal itu dalam Al Quran ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث )

Sebagian berpendapat: Makna ayat di atas adalah "Orang yang memilih perkataan tiada guna (lahwal hadits) dan menyukainya.

Al-Husain ibnu Mas'ud Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi menyatakan seputar maksud kata "lahwal hadits" demikian:

( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) الآية . قال الكلبي ، ومقاتل : نزلت في النضر بن الحارث بن كلدة كان يتجر فيأتي الحيرة ويشتري أخبار العجم ويحدث بها قريشا ، ويقول : إن محمدا يحدثكم بحديث عاد وثمود ، وأنا أحدثكم بحديث رستم واسفنديار وأخبار الأكاسرة ، فيستملحون حديثه ويتركون استماع القرآن ، فأنزل الله هذه الآية . وقال مجاهد : يعني شراء القيان والمغنيين ، ووجه الكلام على هذا التأويل : من يشتري ذات لهو أو ذا لهو الحديث . أخبرنا أبو سعيد الشريحي ، أخبرنا أبو إسحاق الثعلبي ، أخبرنا أبو طاهر محمد بن الفضل بن محمد بن إسحاق المزكي ، حدثنا جدي محمد بن إسحاق بن خزيمة ، أخبرنا علي بن حجر ، أخبرنا مشمعل بن ملحان الطائي ، عن مطرح بن يزيد ، عن عبيد الله بن زحر ، عن علي بن يزيد ، عن القاسم بن عبد العزيز ، عن أبي أمامة قال : قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " لا يحل تعليم المغنيات ولا بيعهن وأثمانهن حرام " ، وفي مثل هذا أنزلت هذه الآية : " ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله " ، وما من رجل يرفع صوته بالغناء إلا بعث الله عليه شيطانين : أحدهما على هذا المنكب ، والآخر على هذا المنكب ، فلا يزالان يضربانه بأرجلهما حتى يكون هو الذي يسكت .

أخبرنا عبد الرحمن بن أحمد القفال ، أخبرنا أبو منصور أحمد بن الفضل البروجردي ، أخبرنا أبو أحمد بكر بن محمد بن حمدان الصيرفي ، أخبرنا محمد بن غالب بن تمام ، أخبرنا خالد بن أبي يزيد ، عن هشام هو ابن حسان ، عن محمد هو ابن سيرين ، عن أبي هريرة أن النبي - صلى الله عليه وسلم - " نهى عن ثمن الكلب وكسب الزمارة " . قال مكحول : من اشترى جارية ضرابة ليمسكها لغنائها وضربها مقيما عليه حتى يموت لم أصل عليه ، إن الله يقول : " ومن الناس من يشتري لهو الحديث " الآية . وعن عبد الله بن مسعود ، وابن عباس ، والحسن ، وعكرمة ، وسعيد بن جبير قالوا : " لهو الحديث " هو الغناء ، والآية نزلت فيه . ومعنى قوله : ( يشتري لهو الحديث ) أي : يستبدل ويختار الغناء والمزامير والمعازف على القرآن ، قال أبو الصباء البكري سألت ابن مسعود عن هذه الآية فقال : هو الغناء ، والله الذي لا إله إلا هو ، يرددها ثلاث مرات

Artinya: .. Al-Kalbi dan Muqatil berkata: Ayat ini turun terkait Al-Nadhar bin Al-Harits bin Kildah. Ia berdagang lalu merasa bingung dan membeli berita ajam dan menceritakan itu pada orang Quraisy dan berkata: Muhammad menceritakan kalian dengan hadits kaum 'Ad dan Tsamud. Sedangkan aku menceritakan pada kalian dengan hadits Rustum, Isfandiyar dan para Kaisar. Maka mereka menikmati kisahnya dan meninggalkan mendengar Al Quran. Lalu Allah menurunkan ayat ini. Mujahid berkata: Maksudnya adalah membeli penyanyi perempuan dan para penyanyi. Inti pembahasan ulama atas takwil ini adalah: Orang yang membeli permainan atau cerita tidak berguna. .. Rasulullah bersabda: Tidak halal mengajar para penyanyi wanita, tidak halal menjual mereka. Harga mereka haram. Terkait ha ini maka turunlah ayat ini " ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله " Tidak ada seorang lelaki yang meninggikan suaranya dengan nyanyian kecuali Allah mengutus dua setan padanya, yang pertama pada bahu yang ini, yang lain pada bahu yang ini. Lalu keduanya senantiasa memukul keduanya dengan kedua kakinya sampai dia (lelaki itu) diam.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi melarang dari harga anjing dan alat bunyi-bunyian. Makhul berkata: Siapa yang membeli budak wanita yang pandai memukul untuk tujuan menikmati nyanyiannya dan memukulnya dan tinggal bersamanya sampai mati maka aku tidak akan menyolati (jenazah)nya. Allah berfirman "Dan diantara mereka (ada) orang yang mempergunakan lahwal hadits (kata- kata tak berguna) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah" Ibnu Masud dll berkata: maksud 'lahwal hadits' adalah nyanyian (lagu) sedangkan ayat di atas diturunkan terkait hal ini. Adapun makna "( يشتري لهو الحديث )" yakni mengganti dan memilih lagu, seruling dan alat musik daripada Al Quran. Abu Shaba Al Bakri berkata: Aku bertanya pada Ibnu Masud tentang ayat ini, ia menjawab: "Itu tentang nyanyian" demi Allah Ibnu Mas'ud mengulanginya sampai tiga kali.

2. Quran Surat An-Najm 53:59-61:

أَ فَمِنْ هذَا الْحَدِيْثِ تَعْجَبُوْنَ وَ تَضْحَكُوْنَ وَ لاَ تَبْكُوْنَ وَ أَنْتُمْ سَامِدُوْنَ

Artinya: Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)?

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud "shamidun" ialah al-ghina (nyanyian)

3. Quran Surat Al-Isra' 17:64

وَ اسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ

Artinya: Dan asunglah (kobarkanlah, bujuklah) siapa yang kamu sanggupi diantara mereka dengan suaramu (shautika).

Menurut Mujahid maksud "shautika" tidak lain adalah nyanyian dan hiburan

4. Hadits Bukhari no. 5590

لِيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَّ وَ الْحَرِيْرَ وَ الْخَمْرَ وَ الْمَعَازِفَ وَ لَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ يَأْتِيْهِمْ يَعْنِي الْفَقِيْرُ لِحَاجَةٍ فَيَقُوْلُوْا: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ وَ يَضَعُ الْعَلَمَ وَ يَمْسَخُ الآخَرِيْنَ قِرَدَةً وَ خَنَازِيْرَ إِلى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Artinya: Sesungguhnya akan terdapat di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutra, arak dan alat permainan (musik). Kemudian segolongan (dari kaum Muslimin) akan pergi ke tebing bukit yang tinggi. Lalu para pengembala dengan ternak kambingnya mengunjungi golongan tersebut. Lalu mereka didatangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Ketika itu mereka kemudian berkata: "Datanglah kepada kami esok hari." Pada malam hari Allah membinasakan mereka, dan menghempaskan bukit itu ke atas mereka. Sisa mereka yang tidak binasa pada malam tersebut ditukar rupanya menjadi monyet dan babi hingga hari kiamat.

Dalil Quran dan hadits di atas di jadikan dasar oleh para ulama atas haramnya musik dalam Islam. Ulama dalam kelompok ini antara lain adalah Imam Ibnu Al-Jauzi (Talbis Iblis, hlm. 2321), Imam Qurthubi (Tafsir Qurtuhbi, XIV/51-54), Asy-Syaukani (Nail-ul-Authar, VIII/442).

Sahabat mengharamkan musik antara lain sahabat Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud. Sedang dari tabi'in antara lain Mujahid, Hasan Al-Basri, Ikrimah, Said bin Zubair, Qatadah dan Ibrahim An-Nakha'i menafsirkan lahw-al-hadis dalam QS Luqman 31:6 dengan arti nyanyian atau menjualbelikan (menyewakan) biduanita.

Ismail bin Umar bin Katsir Al-Qurashi Ad-Dimashqi dalam Ibnu Katsir III/442 menegaskan maksud dari "lahwal hadits" adalah al-ghina' (nyanyian).

عن أبي الصهباء : أنه سأل ابن مسعود عن قول الله : ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ) قال : الغناء .
وكذا قال ابن عباس ، وجابر ، وعكرمة ، وسعيد بن جبير ، ومجاهد ، ومكحول ، وعمرو بن شعيب ، وعلي بن بذيمة .
وقال الحسن البصري : أنزلت هذه الآية : ( ومن الناس من يشتري لهو الحديث ليضل عن سبيل الله بغير علم ) في الغناء والمزامير

5. Abū Ishāk Asy-Syirāzī (madzhab Syafi'i) mengharamkan musik kecuali memainkan rebana pada pesta perkawinan dan khitanan selain itu haram (Al-Muhadzab II/237)

6. Al-Muhāsibi dalam Ar-Risalah: menyanyi itu harām seperti harāmnya bangkai.

7. Madzhab Syafi'i: musik itu haram apabila disertai dengan minum arak, bergaul dengan wanita, dan semua perkara lain yang membawa kepada maksiat.


PENDAPAT YANG MENGHALALKAN MUSIK

Berikut pendapat Sahabat, Tabi'in dan ulama yang membolehkan musik. Tentu saja musik yang baik.

1. Sahabat Nabi: antara lain ‘Umar bin Khattāb, ‘Utsmān bin ‘Affān, ‘Abd-ur-Rahmān bin ‘Auf, Sa‘ad bin Abī Waqqās dan lain-lain (An-Nawawi dalam Al-Umdah).
2. Tabi'in: Sa‘īd bin Musayyab, Salīm bin ‘Umar, Ibnu Hibbān, Khārijah bin Zaid, dan lain-lain. (An-Nawawi dalam Al-Umdah)
3. Mazhab Ahl-ul-Madīnah, Azh-Zhāhiriyah dan jamā‘ah Sūfiyah, Abū Mansyūr Al-Baghdādī (dari mazhab Asy-Syāfi‘ī).
4. Mazhab Maliki membolehkan menyanyi dengan ma‘azif (alat-alat musik yang berdawai).
5. Mazhab Syāfi‘i menyanyi adalah makrūh tanzīh yakni lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan sedangkan nyanyian pada saat bekerja, seperti mengangkut suatu yang berat, nyanyian orang Arab untuk memberikan semangat berjalan unta mereka, nyanyian ibu untuk mendiamkan bayinya, dan nyanyian perang, maka menurut Imām Awzā‘ī adalah sunat.


IMAM AL-GHAZALI DALAM IHYA ULUMUDDIN

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, "Bab: Ad-Dalil ala Ibahatis Sama'", hlm. 2/269, menyatakan:


فسماع هذه الأصوات يستحيل أن يحرم لكونها طيبة أو موزونة فلا ذاهب إلى تحريم صوت العندليب وسائر الطيور. ولا فرق بين حنجرة وحنجرة ولا بين جماد وحيوان. فينبغي أن يقاس على صوت العندليب الأصوات الخارجة من سائر الأجسام باختيار الآدمى كالذي يخرج من حلقه أو من القضيب والطبل والدف وغيره.

Artinya: Mendengarkan suara-suara (lagu) ini tidak mungkin diharamkan karena alasan indah atau dihiasi. Maka, tidak bisa mengharamkan suara burung Bulbul dan suara burung-burung lain. Maka, sebaiknya suara nyanyian dianalogikan pada suara burung bulbul yang keluar dari benda-benda atas usaha manusia sebagaimana yang keluar dari kerongkongannya atau dari tongkat, drum, rebana dan lainnya.


IBNU ARABI DALAM AHKMUL QURAN

Abu Bakar ibnul Arabi dalam Ahkamul Quran, hlm. 3/526, menyatakan:

المسألة الثالثة: هذه الاحاديث التي اوردناها لايصح منها شيء بحال لعدم ثقة ناقليها إلى من ذكر من الاعيان فيها واصح مافيه قول من قال إنه الباطل فأما قول الطبري أنه الطبل فهو على قسمين : طبل حرب وطبل لهو فأما طبل الحرب فلاحرج فيه لأنه يقيم النفوس ويرهب على العدو وأما طبل اللهو فهو كالدف وكذلك الآت المشهرة للنكاح يجوز إستعمالها فيه لمايحسن من الكلام ويسلم من الرفث)

Artinya: Hadits ini (tentang haramnya alat musik) statusnya tidak sahih karena perawinya tidak tsiqah (tidak bisa dipercaya)... Adapun pendapat Tabari yang dimaksud adalah drum (rebana). Drum terbagi dua: drum untuk perang dan drum untuk permainan. Drum perang tidak masalah karena dapat memotivasi diri dan menakuti musuh. Sedangkan drum permainan maka hukumnya seperti rebana, begitu juga alat-alat yang biasa dipakai untuk memeriahkan pernikahan, boleh dipakai karena akan memperindah ucapan dan menyelamatkan dari keburukan.

Hukum musik adalah halal atau mubah. Namun, musik Haram Apabila Mengakibatkan Perbuatan Haram

Dalam QS Al-Isra 17:64 Allah berfirman:

واستفزز من استطعت منهم بصوتك وأجلب عليهم بخيلك ورجلك وشاركهم في الأموال والأولاد وعدهم , وما يعدهم الشيطان إلا غرورا

Artinya: Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.

Dalam menafsiri ayat tersebut, Ibnu Arabi dalam Ahkamul Quran, hlm. 3/208, menyatakan:

المسألة الثانية : قوله : { بصوتك } : فيه ثلاثة أقوال :
الأول : بدعائك . الثاني : بالغناء والمزمار . الثالث : كل داع دعاه إلى معصية الله ؟ قاله ابن عباس . فأما القول الأول فهو الحقيقة ، وأما الثاني والثالث فهما مجازان ، إلا أن الثاني مجاز خاص ، والثالث مجاز عام . وقد { دخل أبو بكر بيت عائشة ، وفيه جاريتان من جواري الأنصار تغنيان بما تقاولت به الأنصار يوم بعاث ، فقال : أمزمار الشيطان في بيت رسول الله ؟ فقال : دعهما يا أبا بكر ، فإنه يوم عيد } . فلم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم على أبي بكر تسمية الغناء مزمار الشيطان ؟ وذلك لأن المباح قد يستدرج به الشيطان إلى المعصية أكثر وأقرب إلى الاستدراج إليها بالواجب ، فيكون إذا تجرد مباحا ، ويكون عند الدوام وما تعلق به الشيطان من المعاصي حراما ، فيكون حينئذ مزمار الشيطان ولذلك قال النبي صلى الله عليه وسلم : { نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين فذكر الغناء والنوح } . وقدمنا شرح ذلك كله

Artinya: Maksud kata "shout" dalam "shoutika" ada tiga pendapat: (i) bermakna panggilan atau ajakanmu; (ii) nyanyian atau alat musik seruling; (iii) setiap ajakan ke arah maksiat pada Allah. Ibnu Abbas berkata: Pendapat pertama adalah makna hakiki. Makna kedua dan ketiga adalah makna majazi. Yang kedua majaz khusus, sedang yang ketiga majaz umum. Dalam sebuah hadits "Abu Bakar pernah masuk ke rumah Aisyah di situ terdapat dua budak perempuan Anshar yang sedang bernyanyi dengan lagu yang pernah dinyanyikan kaum Anshar pada hari bi'ats. Abu Bakar berkata: Apakah ada seruling setan di rumah Rasulullah? Nabi berkata: Biarkan mereka (bernyanyi) wahai Abu Bakar karena saat ini hari raya." Dalam hadits ini Nabi tidak mengingkari Abu Bakar dengan penamaan lagu sebagai seruling setan. Hal itu karena, perkara mubah terkadang oleh setan dapat dipalingkan ke perkara maksiat lebih banyak dan lebih dekat dibanding memalingkannya ke perkara wajib. Maka, musik itu apabila murni tanpa efek, hukumnya mubah (halal). Namun apabila terus-menerus dan berkaitan dengan maksiat maka menjadi haram. Dalam konteks terakhir ini maka musik atau lagu disebut seruling setan. Itulah latarbelakang sabda Nabi "Aku dilarang dari dua suara yang bodoh. Lalu Nabi menyebut menyanhi dan berkabung."


KESIMPULAN HUKUM MUSIK DALAM ISLAM

Ulama sepakat bahwa aktifitas musik baik itu melakukan atau mendengarkan adalah haram apabila aktifitas itu dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Adapun mendengarkan musik yang isinya berkaitan dengan hal-hal yang baik dan dapat mengingatkan orang kepada akhirat tidak mengapa bahkan sunat dinyanyikan menurut Al-Auza'i.

Imam Syafi'i seperti dikutip oleh Al-Ghazali menyatakan bahwa tidak ada seorangpun dari para ulama Hijaz yang benci mendengarkan nyanyian, suara alat-alat musik, kecuali bila di dalamnya mengandung hal-hal yang tidak baik yang bertentangan dengan hukum syariah.
Read More...

Friday, September 16, 2016

Hukum Bersetubuh Saat Ihram Haji karena Lupa
HUKUM JIMAK (HUBUNGAN INTIM / BERSETUBUH) SAAT IHRAM BELUM TAHALUL

Apa hukum berhubungan suami istri setelah melakukan tawaf ifadah dan sai karena terlupakan?
Sah atau tidak hajinya? Apa solusinya?

JAWABAN HUBUNGAN INTIM ATAU BERSETUBUH SAAT BELUM TAHALUL HAJI ATAU UMROH

Pelanggaran haji, termasuk hubungan intim suami istri, yang dilakukan karena lupa atau tidak tahu atas keharamannya, maka hajinya tetap sah dan tidak diwajibkan membayar fidyah menurut madzhab Syafi'i.

Al-Jaziri dalam Al-Fiqh alal Madzahib Al-Arba'ah, hlm. 1/1064, menyatakan:

الشافعية قالوا : يفسد الحج بالجماع بشروط : أحدها : أن يولج الحشفة أو قدرها إذا لم تكن له حشفة في قبل أو دبر ولو بهيمة ولو بحائل ثانيهما : أن يكون عالما عامدا مختارا فإذا كان جاهلا أو ناسيا أو مكرها فإن حجه لا يفسد بالجماع ثالثها : أن يقع منه قبل التحلل الأول

Artinya: Madzhab Syafi'i berpendapat haji batal karena jimak (hubungan intim) dengan tiga syarat: 1. terjadinya hubungan intim secara pasti; 2. pelaku tahu atas keharamannya, sengaja, tidak dipaksa. Apabila dia tidak tahu atau lupa atau dipaksa, maka hajinya tidak batal karena jimak; 3. terjadi sebelum tahalul awal.

Dalam kasus anda, kalau memang jimak itu dilakukan karena lupa atau tidak tahu kalau itu dilarang, maka hukum hajinya tetap sah. Dan silahkan lanjutkan ibadah hajinya sampai selesai sesuai urutan yang berlaku.

Tentang apakah wajib fidyah/dam? Maka jawabnya tidak wajib. Berdasarkan fatwa Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 7/363:

جامع المحرم قبل التحلل من العمرة أو قبل التحلل الأول من الحج ناسيا لإحرامه أو جاهلا تحريمه
وإن لبس أو تطيب أو دهن رأسه أو لحيته جاهلا بالتحريم أو ناسيا للإحرام لم يلزمه الفدية

Artinya: Orang ihram yang jimak sebelum tahalul umroh atau sebelum tahalul awal dari haji karena lupa pada ihramnya atau tidak tahu keharamannya ... maka tidak wajib fidyah.

Alasan dan dasar dari pendapat Imam Nawawi dalam Al-Majmuk, hlm. 7/363, adalah sbb:

لما روى يعلى بن أمية رضي الله عنه قال : { أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجل بالجعرانة ، وعليه جبة ، وهو مصفر رأسه ولحيته فقال : يا رسول الله أحرمت بعمرة وأنا كما ترى ، فقال : اغسل عنك الصفرة وانزع عنك الجبة ، وما كنت صانعا في حجك فاصنع في عمرتك } " ولم يأمره بالفدية فدل على أن الجاهل لا فدية عليه ، وإذا ثبت هذا في الجاهل ثبت في الناسي ، لأن الناسي يفعل وهو يجهل تحريمه عليه ، فإن ذكر ما فعله ناسيا أو علم ما فعله جاهلا نزع اللباس وأزال الطيب ، لحديث يعلى بن أمية ، فإن لم يقدر على إزالة الطيب لم تلزمه الفدية ، لأنه مضطر إلى تركه فلم تلزمه فدية ، كما لو أكره على التطيب ، وإن قدر على إزالته واستدام لزمته الفدية لأنه تطيب من غير عذر ، فأشبه إذا ابتدأ به وهو عالم بالتحريم .

Artinya: Berdasarkan hadits sahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dari Ya'la bin Umayyah ia berkata: Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah di Ji'ranah. Ia memakai jubah dan mengecat kuning rambut dan jenggotnya. Ia bertanya: Wahai Rasulullah aku ihrom umroh sedangkan aku seperti yang engkau lihat. Nabi menjawab: Cucilah cat kuning (rambut dan jenggot)-mu dan lepaskan baju jubahmu. Apa yang kamu lakukan saat hajimu, lakukan juga pada umrah-mu. (Imam Nawawi berkata) Nabi tidak menyuruh lelaki itu untuk membayar fidyah. Ini menunjukkan bahwa orang yang tidak tahu tidak dikenakan fidyah. Apabila ini berlaku bagi orang bodoh, maka berlaku juga untuk orang lupa. Karena orang lupa itu melakukan sesuatu saat dia tidak tahu keharamannya. Apabila ia ingat apa yang dilakukannya saat lupa atau tahu apa yang dilakukannya karena tidak tahu hukumnya maka hendaknya ia melepaskan baju dan menghilangkan wangi-wangian berdasarkan hadits Ya'la bin Umayyah. Apabila tidak bisa menghilangkan bau wanginya maka tidak wajib fidyah karena ia butuh meninggalkannya maka tidak wajib fidyah. Sebagaimana apabila dipaksa memakai wewangian. Apabila mampu menghilangkan bau wangi tapi tidak dilakukan maka wajib fidyah baginya karena dia memakai wewangian tanpa udzur. Hal ini menyerupai orang yang mulai memakai wewangian dan tahu hukum keharamannya.

BERSETUBUH SETELAH TAHALUL AWAL HAJI ATAU SEBELUM TAHALUL UMROH

Orang haji atau umroh yang melakukan hubungan intim (jimak) suami istri setelah tahalul awal haji atau sebelum tahalul umroh, maka hukum hajinya tetap sah namun harus membayar fidyah berupa satu ekor kambing biri-biri dan tidak wajib mengulangi umroh menurut madzhab Syafi'i.

Dalam Al-Mausuah Al-Fiqhiyah, hlm. 2/192, dinyatakan:

" اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْجِمَاعَ بَعْدَ التَّحَلُّل الأوَّل لاَ يُفْسِدُ الْحَجَّ .... وَوَقَعَ الْخِلاَفُ فِي الْجَزَاءِ الْوَاجِبِ : فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ شَاةٌ . قَالُوا فِي الاِسْتِدْلاَل : " لِخِفَّةِ الْجِنَايَةِ ، لِوُجُودِ التَّحَلُّل فِي حَقِّ غَيْرِ النِّسَاءِ " . وَقَال مَالِكٌ ، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ : يَجِبُ عَلَيْهِ بَدَنَةٌ . وَعَلَّلَهُ الْبَاجِيُّ بِأَنَّهُ لِعِظَمِ الْجِنَايَةِ عَلَى الإِحْرَامِ . وَأَوْجَبَ مَالِكٌ وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى مَنْ فَعَل هَذِهِ الْجِنَايَةَ بَعْدَ التَّحَلُّل الأوَّل قَبْل الإفَاضَةِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الْحِل ، وَيَأْتِيَ بِعُمْرَةٍ ، لِقَوْل ابْنِ عَبَّاسٍ ذَلِكَ ..... وَلَمْ يُوجِبِ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ ذَلِكَ

Artinya: Ulama sepakat bahwa jimak (bersetubuh, wati', hubungan intim suami istri) yang dilakukan setelah tahalul awal tidak membatalkan haji ... terjadi perbedaan ulama dalam soal fidyah yang wajib dibayaran. Madzhab Hanafi, Syafi'i dan Hanbali (Hanabilah) menyatakan wajibnya membayar fidyah kambing biri-biri. Mereka berargumen: Karena pelanggaran ringan karena adanya tahalul bagi selain perempuan. Imam Malik berkata, ini satu pendapat madzhab Syafi'i dan Hanbali: Wajib bayar fidyah unta. Al-Baji beralasan karena ini termasuk pelanggaran besar pada saat ihram. Imam Malik dan madzhab Hanbali mewajibkan bagi yang melakukan pelanggaran ini setelah tahalul awal sebelum tawaf ifadhoh untuk keluar ke tanah halal (di luar haram), dan melakukan umroh berdasarkan perkataan Ibnu Abbas dalam soal ini. Madzhab Hanafi dan Syafi'i tidak mewajibkan hal ini.
Read More...

Wednesday, September 14, 2016

Mengatasi Sakit Was was Kufur dan Murtad
MENGATASI PENYAKIT WAS-WAS MURTAD DAN KUFUR

1. Apa yang dimaksud dengan waswas murtad/kupur? Maaf berikan contohnya.
2. Apa yang dimaksud ragu dalam kufur/murtad? Contohnya?
3. Yang dapat menyebabbkan seseorang menjadi murtad/kufur itu, karena waswas atau ragu? Bagaimana cara membedakanny?
4a. Apakah sah bagi orang yang murtad mengucapkan 2 kalimat sahadat, tapi tidak dengan ilmu tajwidnya? Tidak pas. Meskipun dia bisa ilmu tajwid.
Selalu diganggu oleh setan..sehingga bersyahadatnya diulang ulang terus.
B. Apakah boleh sah bagi yang ingin masuk islam.membaca sahadat diwasol/dilangsungkan/disatu nafaskan? Dengan tujuan supaya tidak diganggu oleh setan.

C. Jika bersahadat setelah bangun tidur. Seperti orang yang telah kupur bersahadatnya....apakah tidak apa apa? Karena takut kupur/murtad ketika dalam keadaan stengan sadar.

D.jika seseorang tanpa sadar telah melakukan sesuatu yang membuat dirinya keluar dari islam. Trus solat. Kan didalam tahiyat ada basaan sahadatnya...apakah dengan membaca sahadat yang ada di tahiyat dia sudah muslim lagi?

TOPIK SYARIAH ISLAM
  1. PENYAKIT WAS-WAS MURTAD DAN KUFUR
  2. CARA KONSULTASI AGAMA

5a. Pa ustad saya adalah orang yang punya penyakit was2. Awalnya was was bersuci, was2 solat, was was murtad.
Pa ustad, saya pernah masuk pesantren beberapa tahun, saya keluar dari pesantren tadinya ingin menyembuhkan penyakit waswas dirumah. Tp penyakit was2 nya tidak sembuh2. Bagaimana solusinya pa ustad?

5b. Pa ustad saya dulu pernah mengimami solat berjamaah.tp sayanya dalam keadaan tidak islam.
Saya disuruh jadi imam,karena yang biasa jadi imamnya tidak ada.awalnya saya menolak.karena tidak sah diimami saya.
Tp masyarakat trus memaksa karena tau saya pernah mesantren.
Masyarakat tidak tahu saya dalam keadaan kupur.
Dengan berat hati saya jadi imam.
Dan didalam hati saya, saya ingin memberitahukan ini nanti kepada masyrakat setelah saya sembuh dari waswas dengan tujuan masyarakat nanti mengulangi kembali solatnya. Mengkodo solat yang sudah saya imami.
Pertanyaan nya
1.sekarang saya bingung...bagaiman cara memberitahukan kepada masyarakat.bagaimna solusinya?

2. Dari beberapa orang yang saya imami..ada beberapa orang yang sudah meninggal...saya belum memberitahukan hal ini kepada beliau yang telah meninggal. Bagaimna solusinya?

Semoga alloh memberikan jalan leluar dan mengampuni atas dosa2 yang telah lalu.

6a.Pa ustad bolekah melaksanakan bacaan bacaan sunnat tidak memakai tajwid? Tidak ada maksud menghina atau mengaggap enteng perkara sunnat. Maksudnya ingin melaksankanb bacaan suunat dengan cepat..

B. Jika bcaan Al Quran sudah dijadikan dikir harian seperti dikir setelah solat. Apakah boleh membacanya tidak menggunakan tajwid? Tidak berdosakah?

7.pa ustad saya sering mengulang ngulang membaca sahadat ketika sudah kupur.
Serasa tidak benar benar bersyahadatnya.

Pertanyaannya...
1. Misalkan setelah murtad/kupur.
Saya bersyahadat,dan mengenggap sahadat saya sudah pas,tidak perlu diulangi lagi. Tp setelah beberapa detik dari keyakinan sahadat sudah pas.merasa sahadat itu mesti diulangi lagi,Merasa tidak benar. Lalu berkeinginan akan bersahadat lagi.
Apkah dengan berkeinginan mengucapkn sahadat lagi/mengulagi, saya sudah kufur/murtad saat itu juga.?
Karena kan sebab bersahadat tadi.setelah kupur
2. Bagaimna jalan keluarnya untuk mslah ini?

8. Pa ustad saya suka berkesimpulan salah...

Contohnya.
Ketika melihat perempuan. "Saya berpikir ingin menikah.ah tidak mau menikah takut murtad, kan kalau setelah menikah, mertad ,jadi cerai hukumnya."

Dengan cepat terbesit dalam pikiran bahwa saya telah murtad seketika itu. Mkarena telah berpikir seperti itu.
Dengan cepat pula saya berkeinginan akan bersahadat.

Sebelum mengucapkan sahadat,saya berpikir lagi. Dan ternnyata berpikir seperti tadi tidak menyebabkan kupur/ murtad.
Pertanyaannya.
Haruskah saya bersahadat? Karena tadi telah berpikir bahwa saya telah kupur/murtad, dan sudah berkeinginan ingin bersahadat.
Meskipun pada akhirnya tahu berpikir seperti itu tidak menyebabkan kupur/murtad.

9. Pa ustad, masih tntang berpikir salah.

Yang membuat kupur itu adalah menghina atau meremehkan syariat islam.
Misalkan meremehkan perkara sunnat.

Misalkan.
Ada yang bertanya...
A: kenapa kamu tidak melaksanakan sunnat ba'diah dan kobliah?

Saya menjawab: males, cape, SUNNAT INI.

Stelah menjawab itu, TERBESIT dalam pikiran." ya alloh saya telah meremehkan perkara sunnat menganggap enteng sunnat, saya telah murtad. Saya harus bersahadat lagi".

Lalu berpikir lagi, kenapa saya bisa menjawab seperti itu. Mengannggap enteng sunnat.

Dan ternyata setelah berpikir, saya tidak ada maksud untuk menganngap enteng sunnat/ meremehkan sunnat.saya menjawab seperti itu karena SUNNAT TIDAK APA APA TIdak dikerjalan. Karena hukumnya sunnat.

Pertanyaannya.
1. Apakah saya telah kupur dan mesti bershadat karena tadi telah berpikir demikian.....?
Meskipun pada akhirnya tahu bawha hal itu tidak menyebabkan kupur/murtad dan tidak perlu bersahadat.

2. Hal yang menyebabkan kupur/murtad itu kan ada beberapa macam. Misalkan kita lagi berada dalam situasi terusbut. Lagi bingung Apakah ini tergolong yang murtad/kupur atau tidak sama sekali. Lalu berpikir, ternyata ini berakibat kupur lalu berkenginginan akan bersahadat. Setelah dipikir matang matang2 lagi, eh ternyata tidak kupur.

Pertanyaannya.

Haruskah bersahadat?
Kan tadi sudah menyatakan telah kupur.dan ingin bersahadat

Meskipun kenyataannya tidak kupur/murtad dan otomatis tidak harus bersahadat.

10. Ketika seorang muslim berpikir tentang
Pekerjaan, pikiran atau perkataan yang dia telah lakukan menyebabkan murtad atau kupur.
Apakah tidak menyebabkan sesuatu terhadap keislamannya?
Misalkan...
Ini menyebabkan murtad ridak,kupur tidak...terus berpikir sambil terus berlikir.

11. Apakah ada kemurahan dari Alloh untuk seseorang yang lagi belajar ilmu agama sepeeti saya...misalkan salah dalam menentukan hukum?

12.
Yang menyebabkan murtad/kupur itu...
Berkeinginan kupur dimasa yang akan datang.sekarang atau sudah lampau.

jika punya pikiran seperti ini.

Jika saya sedang berpidato didepan umum...trus kupur/murtad...saya akan bersyahadatnya setelah turun dari panggung(menanti kan mengucap sahadat nya) karena malu telah kupur.

Kan disitu terdapat jeda waktu..setelah kupur dan sebelum bersahadat. Misalkan 5 menit jeda waktunya

A. apakah itu tidak termasuk ingin kupur dimasa depan? Karena ingin membiarkan diri kita kupur dalam beberala menit.

B. Jika sedang BAB kupur, apakah tidak apa apa mengucapkan sahadat seketika itu juga?

13.
Aapakah sah mengcapkan sahadat di dalam hati.? Tidak terdengar oleh diri kita sendiri.

14. Apakah tidak menyebabkan kufur jika menjawab seperti ini?

Ko kmu sudah sembuh?makan obat apa?

Jawab: saya makan obat bodrek.

Tapi Tidak ingat sama Alloh.

Tp tidak bermaksud yang menyembuhkan nya bodrek(menganngap bodrek punya kekuatan)

Dalam hati meyakini alloh menyimpan obat di tablet tersebut.

15. Pa ustad..ketika belum bersahadat,masih dalam keadaan kupur.disebabkan karena selalu waswas kupur....pikiran ingin berusaha mempertahankan islam sekuat tenaga itu begitu menggelora(sekuat tenaga jiwa dan raga)

Tp setelah masuk islam.setelah bersahadat. Pikiran ingin mempertahankan islam dengan sekuat tenaga itu menjadi kurang...
Kenapa pa ustad? Bagamna caranya supaya berpikir ingin mempertahanlan sekuat tenaga .

16. Pa ustad.harus bagaimnkah saya berpikir?
Saya sering berpikir...
Jika saya ke suatu tempat ramai..setan akan mengganggu saya akan mengacaukan pikiran saya akan berusaha menjerumuskan saya kepada kekupuran....
Yang menyebabkan saya berpikir untuk diam di rumah....
Tp jika saya diam dirumah...saya merasa sendiri...malah terus kepikiran kupur....tidak ada yang dipikirkan selain kupur....

17. Pa ustad apakah ketika bersyahadat harus ada keyakinan akan dierima?
Apakah cukup dengan berharap akan diterima.

18. Saya pernah dengar. Entah hadis entah apa...kalau tidak salah itu hadis..berbunyi. Ana ingda donni 'abdi bi..

Maksud nya itu kemana?

Saya ada diperasaan hamba saya kepada saya...
Apakah ketika bershadat kita harus ada perasaan diterima sahadat kita?

19. Supaya jauh dari gangguan setan..salah satunya dengan cara membaca Al Quran. Saya coba membaca. Tp setan masih menggaggu. Bgmn supaya bisa ibadah menimbulkan ketenangan?

Mungkin itu saja dulu pertanyaannya...
Mohon maaf bila kata katanya ada yang kurang sopan dan tidak pas atau salah....


JAWABAN MENGATASI PENYAKIT WAS-WAS MURTAD DAN KUFUR

1. Mestinya yang anda tanyakan itu adalah ini: apa penyebab murtad atau kufur? Maka, jawabnya adalah: penyebab murtad atau kufur itu ada beberapa faktor antara lain (a) menyatakan diri keluar dari Islam. Contoh: Anda berkata "Saya keluar dari Islam"; (b) menyatakan diri masuk agama lain. Contoh: Anda berkata "Saya masuk Kristen / Hindu"; (c) tidak mengakui syariat Islam dengan cara menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Contoh: Anda berkata "Saya menganggap shalat lima waktu itu tidak wajib." Baca detail: Penyebab Murtad, Kufur dan Syirik

Kalau anda tidak termasuk dalam kategori a, b, c, maka tidak perlu was-was murtad atau kufur.

2. Ragu apakah seseorang murtad atau tidak itu timbul karena kekurangmengertian dirinya akan ilmu agama yang benar atau salah membaca artikel di internet yang ditulis oleh kalangan Islam radikal yang mudah menilai orang dengan label syirik, murtad atau kufur. Perlu diketahui, selagi seorang muslim mengakui isi dua kalimat syahadat, maka dia tidak murtad. Dan tidak perlu ragu menjadi murtad atau kufur.

3. Ragu atau was-was itu adalah kata kosong yang tidak punya efek hukum. Yang berakibat hukum adalah was-was masalah apa? Anda perlu menjelaskan apa yang membuat anda was-was atau ragu?

4a. Sah. Yang penting, memahami maksudnya dan meyakini maknanya.
4b. Boleh dan sah. Tidak ada syarat khusus dalam pengucapan kalimat syahadat. Sekali lagi yang penting meyakini maknanya.
4c. Tidak apa-apa. Pengucapan kalimah syahadat boleh kapan saja.
4d. Kalau murtad, maka harus mengucapkan syahadat lebih dulu sebelum shalat karena orang murtad tidak sah shalatnya. Karena, shalat hanya sah bagi muslim.

5a. Pesantren apa tempat anda belajar? Pesantren NU atau Wahabi? Coba lagi belajar di pesantren lain yang NU. Mungkin bisa datang ke pesantren Al-Khoirot Malang (situs resmi: www.alkhoirot.com) dan berkonsultasi langsung dengan pengasuhnya yang juga mengasuh Konsultasi Syariah ini. Anda tidak perlu belajar terlalu lama.

5b. Apakah anda yakin dalam keadaan kufur? Kalau itu cuma prasangka anda saja, maka dugaan itu tidak dianggap dan anda tetap seorang muslim.

6a. Bisa.
6b. Asal tidak merubah makna tidak apa-apa.

7.1. Yang anda rasakan itu rasa was-was yang sangat berlebihan. Yakinlah bahwa anda tidak kufur.
7.2. Anda perlu terapi dan belajar agama secara benar. Datanglah ke pesantren yang diasuh kyai NU.

8. Apa yang anda pikirkan itu tidak menyebabkan murtad. Jadi, berhentilah menghukumi diri sendiri telah murtad atau kufur.

9.1 Tidak melakukan perkara sunnah itu tidak murtad. Karena meninggalkan sunnah itu tidak berdosa. Namun melakukannya itu mendapat pahala.
9.2. Tidak perlu bersyahadat karena anda tidak kufur. Anda seorang muslim. Dan kalau ragu apakah anda muslim atau telah murtad, maka kembali ke hukum asal yaitu muslim.

10. Murtad atau tidak seorang muslim itu harus berdasarkan hukum yang pasti. Kalau masih ragu-ragu, hanya berdasar asumsi, maka tetap muslim.

11. Ya, orang yang tidak tahu suatu hukum agama dimaafkan kesalahannya karena dianggap tidak sengaja. Baca detail: Hukum Melakukan Perkara Haram karena Tidak Tahu

12.a. Khayalan atau niat di masa depan tidak dicatat sebagai perbuatan dosa. Dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari, Nabi bersabda:

إِنّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسّيّئَاتِ. ثُمّ بَيّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا الله عَزّ وَجَلّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ. وَإِنْ هَمّ بِسَيّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً... وَإِنْ هَمّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا الله سَيّئَةً وَاحِدَةً

Artinya: Allah mencatat amal baik dan perbuatan dosa. Barangsiapa yang niat berbuat baik lalu tidak melakukan maka Allah mencatatnya satu kebaikan sempurna. Apabila mengamalkan maka dicatat 10 kebaikan sampai 700 lipat sampai berlipat-lipat. Apabila berniat berbuat buruk tapi tidak melakukannya maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna ... apabila melakukan maka dicatat dengan satu dosa.

12.b. Tidak apa-apa. Tapi sebaiknya setelah selesai BAB. Namun, percayalah anda terlalu berlebihan dalam menilai penyebab kufur dan murtad. Anda tidak murtad. Hanya saja anda sedang terkena penyakit kejiwaan yakni selalu diliputi oleh rasa takut.

13. Sah.
14. Tidak.
15. Rasa was-was anda itu adalah penyakit. Dan karena penyakit, maka perasaan anda dan anggapan anda itu tidak dianggap. Anda tetap seorang muslim. Was-was atau ragu itu tidak dianggap dalam Islam.

17. Seorang kafir yang bersyahadat dan meyakini maknanya otomatis akan menjadi muslim. Tidak ada istilah diterima atau ditolak. Namun, dalam kasus anda sebaiknya dalam bersyahadat diniati untuk dzikir karena anda adalah seorang muslim.

18. Arti hadis itu adalah "Aku (Allah) itu menurut praduga hambaku". Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan:

(أنا عند ظن عبدي بي): أجازيه بحسب ظنه بي، فإن رجا رحمتى وظن أني أعفو عنه وأغفر له فله ذلك، لأنه لا يرجوه إلا مؤمن علم أن له رباً يجازي، وإن يئس من حرمتي وظن أني أعاقبه وأعذبه فعليه ذلك، لأنه لا ييأس إلا كافر)

Artinya: Maksud hadits itu adalah aku akan membalas hambaku berdasarkan prasangkanya padaku. Apabila hambaku berharap rahmatku dan berprasangka bahwa aku akan memaafkan dan mengampuninya, maka ia mendapatkan itu. Karena, tidak ada yang berharap seperti itu kecuali seorang mukmin yang tahu bahwa ia memiliki Tuhan yang akan membalasnya. Apabila putus asa dari rahmatku dan berprasangka bahwa Aku akan menyiksanya maka ia akan mendapatkan itu. Karena, tidak ada yang putus asa kecuali orang kafir.

19. Setan yang mengganggu diri anda terletak dalam diri anda sendiri. Yang harus diperbaiki adalah pengetahuan yang benar tentang agama. Terutama banyak belajar tentang fikih dan kaidah fikih. Karena, pengetahuan yang cukup tentang fikih akan membuat rasa was-was kita soal agama akan hilang atau jauh berkurang. Karena kita tidak akan lagi disibukkan dengan pikiran kafir, murtad, shirik, dll tapi tentang haram, halal, sunnah, makruh, dan mubah. Baca: Kaidah Fikih

Baca artikel tentang was-was di link berikut:

- Cara Orang Murtad Kembali ke Islam
- Penyebab Murtad, Kufur dan Syirik
- Mengatasi Was was Kufur
- Cara Mengatasi Was-Was Murtad
- Menghina Syariah Islam Apakah Menyebabkan Murtad?
Read More...