Friday, January 10, 2014

Hukum Darah Istihadhah Wanita


Hukum Darah Istihadhah Wanita

Darah istihadhah, (Arab, إستحاضة) adalah darah yang keluar dari farji (vagina) perempuan di luar kebiasaan bulanan (darah haid) dan bukan karena sebab kelahiran (darah nifas). Istihadlah adalah darah penyakit yang menimpa sebagian wanita. Darah istihadoh kadang berbeda dengan darah haid, tapi kadang serupa. Tipe darah yang sama dapat disebut darah haid apabila terjadi pada hari-hari haid, dan dapat disebut sebagai darah istihadah apabila terjadi di luar waktu keluarnya darah haid.

DAFTAR ISI
  1. Definisi Istihadlah
  2. Dalil Darah Istihadlah
  3. Hukum Wanita Istihadlah
  4. Beda Darah Istihadlah dan Haid
  5. Cara Shalat Wanita Istihadlah
  6. Cara Puasa Wanita Istihadlah
  7. Tiga Macam Wanita Mustahadlah
    1. Tipe 1: Wanita Mustahadhah
    2. Tipe 2: Wanita Mumayyizah (Dapat Membedakan)
    3. Tipe 3: Wanita Mutahayyirah (Bingung)
  8. CARA KONSULTASI AGAMA


DEFINISI ISTIHADLAH

Secara etimologis (lughawi), pengertian darah istihadhah (atau istihadlah) adalah darah yang terus menerus keluar dari kemaluan wanita di luar darah haid dan nifas.

Secara terminologi (istilah), darah istihadlah adalah (a) darah yang terus menerus keluar tanpa henti selama satu bulan; atau (b) darah yang keluar dari wanita terus menerus dan hanya terhenti sebentar seperti sehari atau dua hari dalam sebulan.


DALIL DARAH ISTIHADLAH

1. Hadits Nabi riwayat Bukhari dari Aisyah

قالت فاطمة بنت حبيش لرسول الله صلى الله عليه وسلم ، يا رسول الله إني لا أطهر . وفي روايب أستحاض فلا أطهر
Artinya: Fatimah binti Jaish berkata pada Nabi, "Wahai Rasulullah saya tidak suci." Dalam riwayat lain, "Saya istihadlah, saya tidak suci."

2. Hadits Nabi riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi dari Aisyah

جاءت حمنة بنت جحش إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالت : (يا رسول الله إني أستحاض حيضة كبيرة شديدة
Artinya: Hamnah binti Jahsh pada Nabi dan berkata: "Wahai Nabi, saya istihadlah seperti haid berat."

3. Nabi bersabda pada Fatimah binti Abi Jaish:

إنما ذلك عرق وليست بالحيضة، فإذا أقبلت فدعي الصلاة، فإذا أدبرت فاغسلي عنك الدم وصلِّي
Artinya: Darah istihadlah itu adalah darah yang keluar dari urat dan bukanlah haid. Apabila datang haid, maka tinggalkan shalat. Apabila haid sudah putus (dan berganti darah istihadlah) maka cucilah darah istihadlah itu dan shalatlah.

HUKUM WANITA ISTIHADLAH

Wanita istihadlah seperti wanita suci (tidak haid dan nifas) dalam arti:

1. Wajib melaksanakan shalat 5 waktu.
2. ًWajib melaksanakan puasa Ramadhan.
3. Boleh menyentuh, membawa dan membaca Al-Quran dan berbagai kebolehan lain yang biasanya terlarang bagi wanita haid dan nifas.


BEDA ANTARA DARAH ISTIHADLAH DAN HAID

Beberapa perbedaan antara darah istihadlah dan haid adalah sebagai berikut:

1. Darah haid adalah darah alami, sedang istihadlah tidak alami (darah penyakit).
2. Darah haid berasal dari rahim sedangkan darah istihadlah keluar karena pecahnya urat.
3. Darah haid umumnya berwarna hitam sedangkan darah istihadlah umumnya merah segar.
4. Darah haid sifatnya keras sedangkan istihadlah lunak.
5. Darah haid beraroma tidak sedap/busuk.


CARA SHALAT WANITA ISTIHADLAH

Wanita istihadlah wajib melaksanakan shalat 5 waktu. Karena selalu keluar darah, maka wudhu-nya hanya berlaku untuk satu kali shalat. Caranya sebagai berikut:

1. Saat waktu shalat tiba, cuci darah dari vagina dan tutup dengan kain.
2. Ambil wudhu.
3. Lakukan shalat fardhu.


CARA PUASA WANITA ISTIHADLAH

Wanita istihadlah juga wajib melaksanakan puasa pada bulan Ramadan. Berbeda dengan wanita haid dan perempuan nifas.

Dan kerena itu hukum puasa wanita istihadhah adalah sah dan tidak perlu mengulangi.


TIGA MACAM WANITA MUSTAHADLAH

Ada 3 macam keadaan wanita mustahadlah atau wanita yang terkena istihadhah sebagai berikut:


TIPE I: WANITA MUSTAHADLAH

Seorang wanita mengalami masa haid sekali atau lebih sebelum terkena istihadlah. Apabila demikian, maka hitungan masa haidnya adalah berdasarkan pada masa menstruasi sebelumnya. Sedang hari-hari selebihnya dianggap sebagai darah istihadlah.[1]

Sebagai contoh, dia biasa haid mulai awal bulan sampai hari ketujuh. Maka setelah terkena istihadlah--dimana darah keluar terus menerus sepanjang bulan, haidnya dihitung sejak awal bulan sampai hari ketujuh. Setelah itu dia harus mandi bersuci dari haid. Dan hari-hari selebihnya dia berstatus sebagai wanita istihadlah yang harus shalat 5 waktu dan puasa pada bulan Ramadan.[2]


TIPE II: WANITA MUSTAHADLAH MUTAMAYYIZAH (DAPAT MEMBEDAKAN DARAH)

Keadaan kedua dari wanita mustahadlah adalah istihadlah mutamayyizah arti literalnya adalah wanita istihadlah yang dapat membedakan darah yang keluar.

Yaitu keadaan di mana seorang wanita tidak pernah meng`lami masa haid sebelumnya. Begitu melihat darah pertama kali, darah itu langsung keluar terus menerus sebulan penuh. Namun darah yang keluar bermacam-macam bentuknya. Maka, darah yang dihukumi sebagai darah haid adalah yang memiliki ciri-ciri darah haid. Sedang selain itu dihukumi darah istihadlah.[3]

Ciri-ciri darah haid seperti kental dan agak kehitaman kadang berubah menjadi kuning atau merah, tidak menggumpal atau membeku, agak bau.


TIPE III: WANITA MUSTAHADLAH MUTAHAYYIRAH (BENTUK DARAH SAMA)

Keadaan ketiga dari wanita mustahadlah adalah istihadlah mutahayyirah yang arti literalnya adalah wanita yang bingung karena darah yang keluar terus menerus dan bentuk darahnya sama.

Yaitu keadaan di mana seorang wanita tidak pernah mengalami masa haid sebelumnya. Begitu melihat darah pertama kali, darah itu langsung keluar terus menerus sebulan penuh. Dan bentuk darah sama. Bagaimana cara membedakan darah haid dan istihadlah?

Caranya menghitungnya adalah hari pertama keluar darah dihitung sebagai darah haid sampai hari ke-6 atau ke-7 setiap bulan. Hari selebihnya dihitung sebagai darah istihadlah.[4]

=========================
CATATAN DAN RUJUKAN

[1]

حديث عائشة ـ رضي الله عنها ـ (أن فاطمة بنت أبي حبيش قالت : (يا رسول الله ني أستحاض فلا أطهر أفأدع الصلاة ؟ قال : (لا . إن ذلك عرق ، ولكن دعي الصلاة قدر الأيام التي كنت تحيضين فيها ثم اغتسلي وصلي ) . رواه البخاري

Artinya: Dari Aisyah bahwa Fatimah binti Abi Hubaish berkata: Wahai Rasulullah aku mengalami istihadah dan aku belum bersesuci, apakah aku boleh meninggalkan shalat? Nabi menjawab: Tidak. darah istihadoh itu darah dari otot. Tinggalkan shalat pada hari-hari kamu biasanya mengalami haid; setelah itu mandilah dan lakukan shalat. (HR Bukhari)

[2]

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لأم حبيبة بنت جحش : (امكثي قدر ما كانت تحبسك حيضتك ثم اغتسلي وصلي رواه مسلم

Artinya: Nabi berkata pada Ummu Habibah binti Jahsh: Diamlah (tidak usah shalat) pada sekitar masa-masa haid; setelah itu mandilah (junub) dan laksanakan shalat. (HR Muslim)

[3]

قول النبي صلى الله عليه وسلم لفاطمة بنت أبي حبيش : (إذا كان دم الحيضة فإنه أسود يعرف ، فإذا كان ذلك فأمسكي عن الصلاة فإذا كان الآخر فتوضئي وصلي فإنما هو عرق) . رواه أبو داود والنسائي ، وصححه ابن حبان والحاكم

Artinya: Perkataan Nabi pada Fatimah binti Abi Jahsh: Apabila darah haid maka ia berwarna hitam yang diketahui. Kalau itu yang terjadi, maka jangan shalat. Apabila darah yang lain, maka wudhu-lah dan shalatlah karena darah (istihadhah) itu berasal dari otot.

[4]

حديث حمنة بنت جحش ـ رضي الله عنها ـ أنها قالت : (يا رسول الله : إني أستحاض حيضة كبيرة شديدة فما ترى فيها قد منعتني الصلاة والصيام ، فقال : أنعت لك (أصف لك استعمال) الكرسف (وهو القطن) تضعينه على الفرج، فإنه يذهب الدم ، قالت: هو أكثر من ذلك. وفيه قال : (إنما هذا ركضة من ركضات الشيطان فتحيضي ستة أيام أو سبعة في علم الله تعالى ، ثم اغتسلي حتى إذا رأيت أنك قد طهرت واستنقيت فصلي أربعاً وعشرين أو ثلاثاً وعشرين ليلة وأيامها
وصومي) . الحديث رواه أحمد وأبو داود والترمذي وصححه، ونقل عن أحمد أنه صححه ، وعن البخاري أنه حسنه



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..