Friday, June 07, 2013

Cara Memilih Pesantren


Cara Memilih Pesantren
(Ket. gambar: Sebagian buku yang diterbitkan oleh Pustaka Al-Khoirot Malang)

Pondok Pesantren saat ini menjadi pilihan alternatif bagi orang tua untuk mendidik anaknya selama menempuh pendidikan jenjang SLTP dan SLTA. Bahkan tidak sedikit dari orang tua yang memondokkan anaknya sejak usia sekolah dasar (SD atau MI) sampai perguruan tinggi. Hal itu terjadi karena semakin meningkatnya kekhawatiran orang tua atas pengaruh buruk apabila menyekolahkan anak mereka di sekolah-sekolah formal non-pesantren. Kekhawatiran itu terkait dengan bebasnya pergaulan muda mudi, kualitas pendidikan yang hanya mengedepankan pada teori pelajaran semata tanpa dibarengi dengan penanaman dan pelatihan pendidikan akhlak mulia serta ramainya kenakalan remaja dalam berbagai bentuknya seperti tawuran antar-pelajar, perzinahan yang bebas antar siswa-siswi, geng motor, narkoba, dan lain-lain.

DAFTAR ISI
  1. Tujuan Mengirim Anak Ke Pesantren
  2. Cara Memilih Pesantren
  3. Empat Tipe Pesantren
    1. Pesantren Modern
    2. Pesantren Salaf
    3. Pesantren Kombinasi Salaf & Modern

Kekhawatiran itu dapat dimaklumi karena fakta-fakta begitu jelas digambarkan dan diberitakan oleh berbagai macam media: elektronik, audio visual (TV), radio, cetak, dll. Banyak pelajar wanita yang tidak perawan lagi saat masih sekolah di jenjang SLTP. Tidak sedikit pula dari mereka yang hamil di luar nikah. Belum lagi yang terjerat narkoba dan masuk rehabilitasi. Semua itu diperparah dengan disalahgunakannya teknologi komunikasi seperti handphone dan internet yang semakin mempermudah degradasi moral itu terjadi dan tumbuh berkembang dengan sangat pesat.

Di tengah kekacauan moral generasi muda saat ini, pesantren menjadi alternatif yang menyejukkan dan menjanjikan sebagai tempat yang aman bagi orang tua tidak hanya untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah formal seperti sekolah formal di luar pesantren, tetapi juga untuk belajar ilmu-ilmu agama dan--ini yang tak kalah penting--belajar pendidikan dan pelatihan akhlak mulia.


TUJUAN MENGIRIM ANAK KE PESANTREN

Ada banyak kelompok orang tua dengan aneka tujuan saat mengirimkan anak mereka untuk dididik di pesantren. Umumnya adalah sebagai berikut:

1. (a) Agar mendapat dua disiplin ilmu sekaligus yaitu pendidikan agama di samping pendidikan formal umum minimal tingkat SD/MI, SLTP (MTS/SMP) dan tingkat SLTA (MA, SMA, SMK). Menurut syariah Islam, orang tua wajib membekali anaknya dengan pendidikan agama dasar yang diperlukan untuk mengamalkan kewajiban agama. Apabila tidak, maka hukumnya berdosa. Lihat: Ilmu Agama yang Wajib Dipelajari; (b) Agar perilaku anak relatif lebih baik karena adanya sistem pendidikan budi pekerti (akhlakul karimah) yang dilakukan lebih intensif di ponpes dibanding di luar pesantren. Walaupun penekanan pada pendidikan akhlak atau kepribadian budi pekerti luhur berbeda dari satu pesantren ke pesantren lain, namun semua sepakat dan berusaha meningkatkan budi pekerti santrinya. Setidaknya itu dalam teori. Umumnya, pendidikan akhlak di pesantren salaf lebih intensif daripada pendidikan karakter di pondok modern. Oleh karena itu, orang tua yang paham betul perbedaan ini lebih cenderung memondokkan anaknya ke pesantren salaf.

Kalangan ini adalah kelompok mayoritas orang tua yang mengirim anaknya untuk dididik di pesantren. Ada banyak variasi dalam golongan ini tentang mana yang lebih penting antara ilmu agama dan pendidikan formal bagi anak. Yang jelas mereka sama-sama sepakat bahwa pendidikan agama adalah penting sepenting pendidikan umum.

2. Sebagian orang tua mengirimkan anak ke pesantren karena anak terlibat dalam perilaku menyimpang di rumah atau sekolah seperti pergaulan bebas muda mudi, narkoba, geng motor, anak jalanan, dll. Tujuan utama kelompok ini adalah untuk menyembuhkan anak mereka. Tanpa itu mereka tidak akan pernah berfikir untuk mengirim anak ke pesantren. Golongan ini umumnya berasal dari kalagan non-santri. Orang tua mereka tidak pernah belajar agama di pesantren atau belajar ngaji di rumah. Mereka hanya berfikir bagaimana menyelamatkan anak mereka dari lingkungan yang buruk itu saja.

3. Agar anak belajar ilmu agama saja karena menganggap belajar ilmu umum itu tidak atau kurang penting. Kelompok ini juga berasal dari banyak kalangan antara lain: (a) kalangan orang tua yang berasal dari pesantren salaf; (b) kalangan orang tua atau calon santri sendiri yang merasa bosan dengan ilmu umum dan merasa sangat butuh ilmu agama.

Dari sejumlah kasus faktual di Ponpes Al-Khoirot, tidak sedikit dari santri yang hanya ingin belajar ilmu agama saja. Umumnya mereka berusia di atas 20 tahun dan sudah lulus SLTA atau bahkan sudah lulus Sarjana S1, tapi mereka merasa sangat kekurangan dalam ilmu agama dan merasa punya ilmu saja tidak membuat mereka bahagia. Akhirnya mereka memutuskan untuk belajar murni agama baik ilmu fikih, Quran, hadits, dan bahkan tahfidz (menghafal) Al-Quran.


CARA MEMILIH PESANTREN

Untuk memilih pesantren yang tepat ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Sesuaikan pesantren yang hendak dipilih dengan afiliasi kultural Anda.
Artinya, (a) kalau Anda seorang yang secara kultural berlatarbelakang NU (suka tahlil, qunut, maulid Nabi, dll), maka carilah pesantren NU (Nahdlatul Ulama). (b) kalau anda seorang Muhammadiyah, maka pilihlah pesantren Muhammadiyah; (c) kalau anda seorang penganut Wahabi Salafi, maka pilihlah pesantren yang diasuh ustadz Wahabi Salafi; (b) kalau Anda dari kelompok minoritas seperti LDII, Wahidiyah, dll, maka carilah pesantren yang diasuh oleh mereka yang sesuai aliran ideologinya dengan anda.

Ini langkah pertama yang penting. Jangan sampai orang NU dikirim ke pesantren Wahabi dan sebaliknya. Karena kesalahan memilih pesantren itu akan berdampak pada konflik sosial antara anak anda dengan anda dan keluarga kelak.

2. Letak Geografis Pesantren. Kalau lokasi itu penting bagi Anda, maka petakan dulu pesantren yang lokasinya sesuai dengan keinginan Anda. Misalnya, sebagai orang Bogor, Anda ingin mencari pesantren di sekitar Bogor, maka carilah informasi tentang pesantren-pesantren yang ada di sekitar Bogor yang ideologi kulturalnya sesuai. Kalau lokasi tidak menjadi masalah, lewati panduan kedua ini.

3. Setelah ideologi dan afiliasi kultural serta lokasi suatu pesantren dianggap cocok, maka langkah ketiga adalah memilih pesantren yang program pendidikannya sesuai dengan tujuan Anda.

Misalnya, kalau ingin anak anda belajar dan memperdalam agama saja, maka carilah pesantren salaf yang murni mengkaji keilmuan agama secara mendalam. Kalau ingin pesantren yang pendidikan formalnya maju, maka carilah pesantren modern. Kalau ingin mendapatkan kedua-duanya, maka carilah pesantren kombinasi antara salaf dan modern.

4. Kalau biaya yang mahal menjadi masalah, maka carilah pesantren yang biayanya relatif terjangkau kantong Anda. Kalau soal ini tidak jadi soal, lewatkan tip ini.

5. Untuk lebih memahami tentang karakter sebuah pesantren baik dari segi ideologi, biaya, maupun sistem pendidikannya (salaf, modern, kombinasi), maka kunjungi setiap website pesantren terkait dan pelajari visi misinya, sistemnya, biayanya, dll. Kalau situs atau websitenya kurang lengkap dalam memberikan informai yang diingkan, maka silahkan tanya langsung via telpon atau langsung datang ke pesantren yang bersangkutan dan minta ijin untuk tinggal beberapa hari guna melihat dengan mata kepala sendiri kenyataan di pesantren tersebut. Apabila cocok, maka anda dapat langsung daftar. Untuk sebagian pesantren, seperti ponpes Al-Khoirot, anda langsung dapat masuk dan menjadi santri aktif karena di Al-Khoirot semua peminat akan langsung diterima tanpa ada sistem seleksi lebih dulu.

Akhirnya, semoga Anda dapat menemukan pesantren yang sesuai dengan harapan Anda dan keluarga.

Tulisan terkait:
- Empat Tipe Pondok Pesantren berdasar Ideologi (NU, Muhammadiyah, Wahabi Salafi, Minoritas)
- Ciri Khas Ajaran Wahabi Salafi
- Pondok Pesantren Salaf (bukan Wahabi)
- Pondok Pesantren Modern



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..