Thursday, May 25, 2017

Hukum Ucapan Selamat Natal

Hukum Ucapan Selamat Natal
HUKUM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL DAN MENGIKUTI PERAYAAN NATAL

Mayoritas ulama muashirin (kontemporer) yang ahli di bidang fiqih, tafsir dan hadits membolehkan ucapan selamat Natal. Mengucapkan selamat atas perayaan hari besar agama lain adalah boleh selagi mereka bersikap baik dan tidak memerangi kita (QS Al-Mumtahanah 60:8). Sementara ulama yang melarang (mengharamkan) umumnya beralasan karena adanya hadis yang mengharamkan menyerupai orang kafir. Baca juga: Halal Haram Menyerupai Orang Kafir

Ada dua hal yang menjadi kontroversi seputar Natal bagi muslim yaitu hukum (a) mengucapkan selamat Natal; dan (b) mengikuti ritual sakramen Natal.

Masalah kedua adalah mengikuti perayaan atau sakramen ritual Natal. Untuk hal ini, hampir semua ulama kontemporer sepakat bahwa itu haram hukumnya.

TOPIK SYARIAH
  1. Dalil Quran Hadits Tentang Ucapan Selamat Natal
    1. Dalil yang Menghalalkan
    2. Dalil yang Mengharamkan
  2. Ulama yang Membolehkan Ucapan Selamat Natal
  3. Pendapat Ulama Kontemporer dan Dalil Dasar
    1. Fatwa Yusuf Qardhawi Ahli Fikih asal Mesir
    2. Fatwa Wahbah Zuhaili Ahli Fiqih asal Suriah
    3. Fatwa Ali Jumah Mufti Mesir
    4. Habib Umar bin Hafidz Yaman
    5. Fatwa Syaraf Qudhat Ahli Hadits Yordania
    6. Abdullah bin Bayyah
    7. Rasyid Ridha
    8. Musthafa Zarqa
  4. Pendapat Ormas Islam tentang Natal
    1. Fatwa MUI era Buya Hamka
    2. Fatwa MUI era Din Syamsudin
    3. Fatwa NU Nahdlatul Ulama
    4. Fatwa Muhammadiyah
    5. Majelis Ulama Mesir
    6. Majelis Ulama Eropa
  5. Pendapat Ulama Madzhab Empat
    1. Madzhab Syafi'i
    2. Madzhab Hanafi
    3. Madzhab Maliki
    4. Madzhab Hanbali
  6. Tokoh Muslim Indonesia yang Mengucapkan Selamat Natal
  7. Pendapat Ulama Wahabi Salafi
  8. Haram Mengikuti Sakramen Ritual Natal
  9. Kesimpulan Hukum Selamat Natal
  10. CARA KONSULTASI AGAMA

Islam sangat menganjurkan para ahli agama di bidangnya untuk melakukan ijtihad. Muadz bin Jabal dipuji Nabi dengan ijtihadnya saat dikirim Nabi ke Yaman sebagai Hakim.[1] Tetapi, ijtihad adalah aktivitas para ahli di bidang hukum agama yang disebut fiqih atau syariah. Sebagaimana juga undang-undang negara yang hanya dapat dibuat oleh para ahli hukum. Ada yang bermimpi bahwa ijtihad hukum Islam dapat dilakukan oleh siapa saja termasuk oleh mereka yang hanya modal membaca hadits terjemahan. Pendapat ini tidak logis bahkan bagi kalangan awam sekalipun. Kalau hanya ahli hukum pidana yang dapat membuat perundang-undangan atau keputusan hukum pidana umum, maka mengapa hukum Islam yang jauh lebih penting dapat dilakukan oleh sembarang orang? Tokoh Ulama Wahabi sendiri mewajibkan kalangan muslim yang awam ilmu agama untuk taqlid kepada keputusan hukum yang diambil ulama mereka.

Kembali pada soal Natal, yang menjadi perbedaan (ikhtilaf) ulama adalah seputar mengucapkan Selamat Natal. Sedangkan mengikuti ritual natal hukumnya haram secara ijmak (mufakat ulama fiqh). Sebagaimana haramnya orang Nasrani mengikuti ritual solat Idul Fitri atau Idul Adha. Namun dipersilahkan untuk ikut acara makan-mak`n setelah acara salat Ied selesai.

CATATAN: Artikel ini bertujuan untuk memberi pencerahan pada umat Islam terhadap persoalan seputar Natal. Karena itu, kami memuat dua pendapat yang berbeda. Baik yang menghalalkan atau yang mengharamkan mengucapkan Selamat Natal atau ucapan selamat yang lain pada pengikut agama lain. Adanya arus besar dua perbedaan pendapat seputar hal ini penting. Karena dapat dipakai oleh umat Islam sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Pendapat diambil dengan memakai sumber rujukan dari kedua kubu. Dengan mengesampingkan preferensi pribadi.

Umat Islam akan menjadi rahmat bagi diri sendiri dan bagi seluruh alam apabila (a) tidak memaksakan kehendaknya sendiri; (b) menghargai perbedaan pendapat ulama yang berdasarkan pada argumen ilmiah; (c) boleh setuju atau tidak setuju dengan suatu pendapat dengan tetap menjaga perilaku Islami. Yakni, santun, logis dan tidak emosional.

Alkhoirot.net akan terus memberikan pencerahan pada umat yang bertanya pada kami dengan berusaha memberi jawaban terbaik (mengemukakan berbagai pendapat ul`ma) dan tanpa bias. Yang ingin bertanya seputar agama, silahkan kirim ke alkhoirot@gmail.com dan info@alkhoirot.com. Arsip konsultasi agama sebelumnya lihat di Konsultasi Agama Islam.


DALIL AL-QURAN HADITS TENTANG MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Dalil-dalil yang dipakai sebagai dasar hukum dari keputusan ulama tentang halal dan haramnya mengucapkan Selamat Natal pada kaum Kristiani dan ucapan selamat pada non-muslim lainnya adalah sbb:


DALIL QURAN DAN HADITS ULAMA YANG MENGHALALKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

- QS Al-Mumtahanah 60:8 "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

- QS Al-Baqarah 2:83: "...serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia"

- QS An-Nahl 16:90: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..."

- QS An-Nisa' 4:86 "Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)."


DALIL QURAN DAN HADITS ULAMA YANG MENGHRAMKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

Dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama yang melarang ucapan selamat Natal dan ucapan selamat pada perayaan non-muslim secara umum

- QS Al-Furqon 25:72 "Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."

- QS Az-Zumar 39:7: "Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu."

- QS Al-Maidah 5:48 "Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang."

- QS Al-Maidah 5:3 "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu."

- QS Ali Imran 3:85 "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."

- Hadits مَنْ تشبّه بقوم فهو منهم (Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia menjadi bagian darinya).


PENDAPAT BOLEHNYA MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL

Ulama kontemporer umumnya menghalalkan atau membolehkan mengucapkan selamat pada perayaan umat non-Muslim termasuk Natal. Dalil dasar yang menjadi landasan hukumnya antara lain QS Al Mumtahanah 60:8; Al-Baqarah 2:83; An-Nahl 16:90. Landasan Quran dan analisa hukumnya lebih detail lihat di sini. Berikut beberapa ulama dunia dan Indonesia yang membolehkan.

- Dr. Yusuf Al-Qaradawi (Ahli Fiqih asal Mesir paling berpengaruh saat ini).
- Dr. Ali Jumah (Mufti Mesir saat ini)
- Dr. Wahbah Zuhayli (Ahli Fiqih asal Syria)
- Habib Umar bin Hafidz, Ulama Yaman
- Dr. Mustafa Ahmad Zarqa
- Abdullah bin Bayyah
- Dr. Syaraf Qudhat Yordania
- Dr. Abdul Latif Al-Banna
- Dr. Din Syamsuddin
- Nahdlatul Ulama (NU)
- Muhammadiyah
- Majelis Ulama Mesir
- Majelis Ulama Eropa
- Fatwa MUI (Majlis Ulama Indonesia) dan Buya Hamka
- Isi Fatwa MUI 1981 Seperti Dikutip Eramuslim.com


PENDAPAT ULAMA DAN DALIL DASAR ARGUMEN

Berikut rujukan dan dasar dari pendapat ulama seputar mengucapkan selamat Natal dan ucapan selamat pada nonmuslim lainnya.


FATWA WAHBAH ZUHAILI SOAL NATAL

1. Pendapat Wahbah Zuhayli yang membolehkan).
Zuhaili mengatakan:

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم.

Artinya: Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka. (Sumber)


FATWA YUSUF QARDHAWI SOAL NATAL

Syekh Yusuf Qardhawi (lahir 9 September 1926) adalah ketua Persatuan Ulama Muslim Dunia (الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين). Penulis dari 120 buku lebih antara lain Al-Halal wal Haram fil Islam (Halal Haram dalam Islam), Fiqh Al-Zakat, dan Fiqh Al-Jihad. Keahlian khusus: fiqih

Syaikh Yusuf Qardhawi membolehkan mengucapkan Selamat Natal pada hari raya umat Nasrani dan hari-hari raya nonmuslim lain. Berikut pendapat Yuruf Qaradawi:

يرى جمهور من العلماء المعاصرين جواز تهنئة النصارى بأعيادهم ومن هؤلاء العلامة د.يوسف القرضاوي حيث يرى ان تغير الاوضاع العالمية هو الذي جعله يخالف شيخ الاسلام ابن تيمية في تصريحه بجواز تهنئة النصارى وغيرهم بأعيادهم واجيز ذلك اذا كانوا مسالمين للمسلمين وخصوصا من كان بينه وبين المسلم صلة خاصة، كالأقارب والجيران في السكن والزملاء في الدراسة والرفقاء في العمل ونحوها، وهو من البر الذي لم ينهنا الله عنه، بل يحبه كما يحب الإقساط إليهم (ان الله يحب المقسطين) ولاسيما اذا كانوا هم يهنئون المسلمين بأعيادهم والله تعالى يقول (وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها)».

ويرى د.يوسف الشراح انه لا مانع من تهنئة غير المسلمين بأعيادهم ولكن لا نشاركهم مناسبتهم الدينية ولا في طريقة الاحتفالات، ويبقى الأمر ان نتعايش معهم بما لا يخالف شرع الله، فلا مانع اذن من ان يهنئهم المسلم بالكلمات المعتادة للتهنئة والتي لا تشتمل على اي اقرار لهم على دينهم أو رضا بذلك انما هي كلمات جاملة تعارفها الناس.

Artinya: Mayoritas ulama kontemporer membolehkan mengucapkan selamat Natal pada umat Nasrani termasuk di antaranya adalah Dr. Yusuf Qardhawi di mana dia mengatakan bahwa perbedaan situasi dan kondisi dunia telah membuat Qardhawi berbeda pendapat dengan Ibnu Taimiyah atas bolehnya mengucapkan selamat pada hari raya Nasrani. Ucapan selamat dibolehkan apabila berdamai dengan umat Islam khsusnya bagi umat Kristen yang memiliki hubungan khusus dengan seorang muslim seperti hubungan kekerabatan, bertetangga, berteman di kampus atau sekolah, kolega kerja, dan lain-lain. Mengucapkan selamat termasuk kebaikan yang tidak dilarang oleh Allah bahkan termasuk perbuatan yang disenangi Allah sebagaimana sukanya pada sikap adil (Allah memyukai orang-orang yang bersikap adil). Apalagi, apabila mereka juga memberi ucapan selamat pada hari raya umat Islam. Allah berfirman: Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka berilah penghormatan yang lebih baik.

Qardhawi juga menjelaskan bahwa tidak ada hal yang mencegah untuk mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim akan tetapi jangan ikut memperingati ritual agama mereka juga jangan ikut merayakan. Kita boleh hidup bersama mereka (nonmuslim) dengan melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariah Allah. Maka tidak ada larangan bagi muslim mengucapkan selamat pada nonmuslim dengan kalimat yang biasa yang tidak mengandung pengakuan atas agama mereka atau rela dengan hal itu. Ucapan selamat itu hanya kalimat keramahtamahan yang biasa dikenal.

Lebih detail lihat: Lebih detail


FATWA ALI JUMAH SOAL UCAPAN SELAMAT NATAL

Syeikh Ali Jumah adalah Mufti Besar Mesir periode 28 September 2003 - 11 February 2013. Ahli fiqih pengikut madzhab Syafi'i dan berakidah Asy'ariyah.

Pada 2008 ia mengeluarkan fatwa terkait mengucapkan selamat pada perayaan non-Muslim. Intinya: ucapana selamat itu boleh dan baik. Berikut teks Arabnya yang dibuat dalam bentuk reporting seperti dimuat dalam Islamonline.net pada 12 Januari 2008:
مفتي مصر: تهنئة غير المسلمين بأعيادهم بر جائز

القاهرة- أكد الدكتور علي جمعة مفتي مصر أن تهنئة النصارى وغيرهم من أهل الكتاب بأعيادهم جائزة، معتبرا أنها "من البر" الذي لم ينه الله عنه، شريطة ألا يشارك مقدم التهنئة فيما تتضمنه الاحتفالات بتلك الأعياد من "أمور تتعارض مع العقيدة الإسلامية".

وردا على سؤال في هذا الشأن لـ"إسلام أون لاين.نت" قال الدكتور جمعة: "إن تهنئة غير المسلمين بالمناسبات الاجتماعية والأعياد الدينية الخاصة بهم، كعيد ميلاد السيد المسيح، ورأس السنة الميلادية جائز... باعتبار أن ذلك داخل في مفهوم البر، وتأليف القلوب".

واعتبر أن هذه التهنئة داخلة في قول الله تعالى: {لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ}
Artinya:

Mufti Mesir: Ucapan Selamat pada Hari Raya Non-Muslim itu Boleh dan Baik

Kairo (Mesir) - Mufti Mesir Dr. Ali Jum'ah menegaskan bahwa mengucapkan selamat pada umat Kristiani dan ahli kitab lain itu boleh. Bahkan menganggap itu hal yang baik yang tidak dilarang oleh Allah dengan syarat tidak ikut bergabung dalam perayaannya terutama yang terkait dengan perkara yang bertentangan dengan akidah Islam.

Menjawab pertanyaan dari islam-online.net, Ali Jumah berkata: "Mengucapkan selamat pada non-muslim berkenaan dengan perayaan sosial dan agama mereka seperti Natal Nabi Isa dan Tahun Baru masehi itu boleh." Hal itu masuk dalam kategori baik dan melunakkan hati.

Ali Jumah menganggap mengucapkan selamat termasuk dalam firman Allah dalam QS Al-Mumtahanah 60:8 (yang artinya): "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Lebih detail


FATWA DR. SYARAF QUDHAT AHLI HADITS YORDANIA

Syaraf Qudhat adalah ahli hadits Fakultas Syariah di Universitas Yordania. Dalam fatwanya pada 22 Desember 2011 yang berjudul "Ucapan Selamat pada Hari Raya Kristen". Berikut detailnya dalam bahasa Arab:
تهنئة المسيحيين بأعيادهم

"يكثر السؤال في هذه الأيام عن حكم تهنئة المسيحيين بأعيادهم، وللجواب عن ذلك أقول: إن الأصل في هذا الإباحة، ولم يرد ما ينهى عن ذلك، وكل ما سمعته أو قرأته لمن يحرمون هذه التهنئة أن في التهنئة إقرارًا لهم على دينهم الذي نعتقد أنه محرف، ولكن الصحيح أنه لا يوجد في التهنئة أي إقرار، لما يلي:

1- لأننا لا نَعُدُّ تهنئتهم لنا بأعيادنا إقرارًا منهم بأن الإسلام هو الصحيح، فالمسلم لا يقصد بالتهنئة إقرارًا على الدين، ولا هم يفهمون منا ذلك.

2- لأن الله تعالى أمرنا بمعاملتهم بالحسنى، فقال تعالى: (لا يَنْهَاكُمْ اللَّهُ عَنْ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (8))(الممتحنة) والبر هو الخير عمومًا، فقد أمرنا الله تعالى بمعاملتهم بالخير كله، فتكون معاملتهم بالخير ليست جائزة فقط بل هي مستحبة، فكيف يحرم بعد ذلك تهنئتهم بنحو قولك: كل عام وأنتم بخير، فإننا لا شك نحب لهم الخير، وقد أمرنا الله بذلك.

3- لأن الله تعالى شرع لنا التحالف معهم كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم لما قدم المدينة المنورة.

4- لأن الله تعالى شرع لنا زيارتهم في بيوتهم واستقبالهم في بيوتنا، والأكل من طعامهم، بل والزواج منهم، مع ما في الزواج من مودة ورحمة، ولا يقال: إن في ذلك كله نوعًا من الإقرار لهم بأن دينهم هو الحق، فكيف يجوز ذلك كله ولا تجوز تهنئتهم!!!".

Artinya: Banyak pertanyaan akhir-akhir ini tentang hukum mengucapkan selamat (tahniah) pada hari raya umat Kristiani, sebagai jawaban dari hal tersebut inilah jawaban saya: Hukum asal dalam hal ini adalah boleh. Tidak ada dalil teks (Quran dan hadits Nabi) yang melarang hal itu. Seluruh pendapat yang saya dengar dan baca dari mereka yang melarang ucapan selamat Natal bahwa dalam ucapan selamat itu terkandung pengakuan pada agama mereka. Padahal yang benar adalah bahwa dalam ucapan selamat tidak terkandung pengakuan apapun dengan dasar sebagai berikut:

Pertama, karena kita tidak pernah menganggap ucapan selamat Hari Raya mereka pada kita sebagai pengakuan mereka atas kebenaran Islam. Ucapan selamat Natal seorang Muslim tidak bermaksud sebagai pengakuan yang terkait agama. Juga bukan berarti mereka faham pada agama kita.

Kedua, karena Allah menyuruh kita untuk memperlakukan mereka dengan baik seperti tersebut dengan jelas dalam QS Al-Mumthanah 60:8. Makna al-birr adalah berbuat baik secara umum. Artinya, Allah memerintahkan kita untuk memperlakukan mereka dengan kebaikan. Maka, perlakukan baik kepada non-Muslim bukan hanya boleh bahkan dianjurkan. Bagaimana mungkin mengucapkan selamat saja dilarang? Sudah pasti kita berharap mereka dalam keadaan baik-baik saja. Dan Allah menyuruh kita melakukan hal itu.

Ketiga, karena Allah mensyariatkan kita untuk tahaluf (berkoalisi) dengan mereka sebagaimana yang dilakukan Nabi saat beliau datang ke Madinah Al-Munawwaroh.

Keempat, karena Allah memerintahkan kita untuk mengunjungi rumah mereka dan menyambut kedatangan mereka di rumah kita. Memakan makanan mereka dan menikahi perempuan mereka padahal dalam perkawinan terdapat mawaddah wa rahmah (rasa kasih dan sayang). Tidak ada yang mengatakan hal itu sebagai ikrar atau pengakuan bahwa agama mereka itu benar. Bagaimana semua hal itu dibolehkan sedangkan mengucapkan selamat saja dilarang?


HABIB UMAR BIN HAFIDZ, ULAMA YAMAN

Habib Umar bin Hafidz (lahir 1963M) adalah ulama madzhab Syafi'i kharismatik dan pendiri pesantren Darul Mustafa Tarim, Yaman. Ia dikenal di Indonesia sebagai guru para ulama muda Indonesia seperti Habib Mundzir Al-Musawa pendiri Majelis Rasulullah, Habib Jamal Baaqil Batu Malang, Buya Yahya dan banyak para ulama muda Indonesia lainnya. Ia juga sering melakukan daurah (tur) di Indonesia dan negara lain di berbagai belahan dunia untuk berdakwah. Berikut pendapatnya tentang ucapan Natal sebagaimana diberitakan oleh nu.or.id 27 Desember 2015.

Boleh Ucapkan Selamat Natal

Dalam kesempatan itu, Habib Umar bin Hafidz juga menerima pertanyaan dari peserta diskusi soal hukum mengucapkan selamat (tahni’ah) Natal kepada umat Kristiani. Ia menjawab bahwa ucapan tersebut boleh selama tak disertai pengakuan (iqrar) terhadap hal-hal yang bertentangan dengan pokok akidah Islam, seperti klaim Isa anak Tuhan dan keikutsertaan dalam kemaksiatan.

Kebolehan ini, tutur Habib Umar, karena memuliakan para utusan Allah, termasuk Nabi Isa, adalah di antara hal yang pasti diakui dalam Islam (min dharuriyyati hadza ad-din).
(lebih detail)


FATWA ABDULLAH BIN BAYYAH

Abdullah bin Bayyah adalah Ketua Majelis Ulama Eropa (Al-Majlis Al-Urubi lil-Ifta)

Bin Bayyah membolehkan ucapan selamat Natal. Menurut Syaikh Bin Bayyah, Ibnu Taimiyah juga membolehkan ucapan selamat pada perayaan non-Muslim pada salah satu fatwanya.


قد يكون من المناسب أن نضيف هنا أن تهنئة غير المسلمين مختلف فيها بين العلماء وفي مذهب الإمام أحمد ثلاث روايات بالمنع والكراهة والجواز وهذه الرواية الأخيرة هي اختيار الشيخ تقي الدين ابن تيمية لما في ذلك من المصلحة وهي التي نختارها فتجوز تهنئتهم وتعزيتهم وعيادة مرضاهم نص على هذه الروايات في هذه الحالات كلها المرداوي في الإنصاف وما يذكر عن ابن تيمية في بعض الكتب الأخرى قد لا يتفق مع اختياراته الموثقة. والله ولي التوفيق.

Artinya: Mengucapkan selamat pada non-muslim terjadi perbedaan ulama. Dalam madzhab Hanbali ada tiga pendapat yaitu haram, makruh dan boleh. Riwayat terakhir (yang membolehkan) adalah pilihan Ibnu Taimiyah karena ada unsur maslahah. Ini pendapat yang juga kami pilih. Maka, boleh mengucapkan selamat pada perayaan non-muslim, takziyah (pada yang mati), iyadah (pada yang sakit) ini berdasarkan pada pendapat Al-Mardawi dalam Al-Inshaf dan disebut dari Ibnu Taimiyah dalam beberapa kitab yang lain ia tidak sepakat atas pendapatnya. (Lebih detail)


DR. MUSTOFA ZARQA

Mustafa Al-Zarqa lahir di Aleppo, Suriah pada 1904 dan wafat di Riyadh 3 Juli 1999. Keahlian khusus: Fiqih (Syariah Islam)


إنّ تهنئةَ الشّخص المُسلِم لمعارِفه النّصارَى بعيدِ ميلاد المَسيح ـ عليه الصّلاة والسلام ـ هي في نظري من قَبيل المُجاملة لهم والمحاسَنة في معاشرتهم. وإن الإسلام لا ينهانا عن مثل هذه المجاملة أو المحاسَنة لهم، ولا سيّما أنّ السيد المَسيح هو في عقيدتنا الإسلاميّة من رسل الله العِظام أولي العزم، فهو مُعظَّم عندنا أيضًا، لكنهم يُغالُون فيه فيعتقدونَه إلهًا، تعالى الله عما يقولون عُلُوًّا كبيرًا.

ومن يتوهَّم أنّ هذه المُعايَدةَ لهم في يوم ميلاده ـ عليه السلام ـ حَرام؛ لأنّها ذات عَلاقة بعقيدتِهم في ألوهيّته فهو مُخطئ، فليس في هذه المجامَلة أي صِلة بتفاصيلِ عقيدتِهم فيه وغُلُوِّهم فيها

Artinya: Ucapan selamat natal seorang muslim pada temannya yang Nasrani menurut pendapat saya termasuk dalam kategori mujamalah (sopan santun) pada mereka dan muhasanah (berbaikan) dalam pergaulan. Islam tidak melarang kita untuk bermujamalah dan muhasanah dengan mereka. Apalagi Nabi Islam dalam akidah Islam termasuk Rasul Allah yang agung dan ulul azmi. Nabi Isa diagungkan juga dalam Islam. Hanya saja mereka, Nasrani, berlebihan pada Nabi Islam dan menganggapnya tuhan. Maha Luhur Allah dari apa yang mereka katakan.

Barangsiapa yang mengira bahwa ucapan selamat ini haram dengan alasan karena ada kaitannya dengan akidah mereka dari segi ketuhanan maka itu salah. Mujamalah seperti ini tidak ada kaitannya dengan urusan akidah dan kesalahan mereka. (Lebih detail)


MUHAMMAD RASHID RIDHA

Rasyid Ridha adalah ahli tafsir Mesir yang menulis Tafsir Al-Manar


وظاهر أن مصالح أهل الوطن الواحد مرتبطة بمحاسنة أهل بعضهم بعضًا ، وأن الذي يسيء معاملة الناس يمقته الناس فتفوته جميع المصالح ، لا سيما إذا كان ضعيفًا وهم أقوياء ، وإذا أسند سوء المعاملة إلى الدين ، يكون ذلك أكبر مطعن في الدين ؛ فلك أيها السائل ولغيرك من المسلمين أن تزوروا النصارى في أعيادهم ، وتعاملوهم بمكارم الأخلاق أحسن مما يعاملونكم ، ولا تعدوا هذا من باب الضرورة ؛ فإنه مطلوب لذاته مع حسن النية واتقاء مشاركتهم في المحرمات كشرب الخمر مثلاً

Artinya: Kemaslahatan bangsa terkait dengan keharmonisannya satu sama lain. Orang yang buruk pergaulannya tidak akan disukai sesama maka hilanglah seluruh kebaikan. Terutama apabila ia (muslim) lemah sedang mereka kuat. Apabila keburukan cara bergaul itu dikaitkan pada agama maka akan semakin memperburuk reputasi agama. Maka, kalian boleh berkunjung ke kaum Nasrani saat perayaan mereka dan bergaullah dengan mereka dengan akhlak mulia yang lebih baik dari cara mereka memperlakukan kalian. Jangan menganggap ini sebagai darurat. Ini justri diperintahkan asal niatnya baik dan menjaga diri dari perkara haram seperti minum alkohol misalnya. (Lebih detail)


FATWA DR. ABDUL LATIF AL-BANNA


وإزاء ما سبق لا أجد حرجا في التهنئة، خاصة لزملاء العمل، أو الجيران أو من تربطهم علائق خاصة كالمصاهرة وغير ذلك، ولكن بشروط خاصة وهي عدم الاعتقاد مثلهم، أو الرضا بشيء من دينهم، أو شرائعهم المحرمة علينا كما في بعض الأطعمة والأشربة، ولا يصح الاختلاط المذموم، ولا الخلوة بين رجل وامرأة لا تحل له، فضلا عن مس شيء منها.

Artinya: Tidak ada masalah dalam mengucapkan selamat (pada perayaan nonmuslim) khususnya pada kolega kerja, tetangga, atau orang nonmuslim yang ada hubungan khusus seperti mertua dan lainnya. Dengan syarat, tidak berkeyakinan seperti mereka atau rela dengan agama mereka atau syariat mereka yang diharamkan bagi kita sebagaimana pada sebagian makanan dan minuman. Dan tidak sah percampuran (lawan jenis) yang tercela dan kholwat antara pria wanita. (Lebih detail)

****


FATWA ORGANSASI ISLAM TENTANG NATAL

Berikut fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga dan organisasi keagamaan Islam terkait Natal dan perayaan agama non-muslim yang lain.


MAJELIS ULAMA MESIR (DARUL IFTA' AL-MISHRIYAH)


إن هذا الفعل يندرج تحت باب الإحسان الذي أمرنا الله عز وجل به مع الناس جميعا دون تفريق، مذكرة بقوله تعالى: ﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾، وقوله تعالى:﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ﴾.

و إن أهم مستند اعتمدت عليه هو النص القرآني الصريح الذي يؤكد أن الله تبارك وتعالى لم ينهَنا عن بر غير المسلمين، ووصلهم، وإهدائهم، وقبول الهدية منهم، وما إلى ذلك من أشكال البر بهم، وهو قوله تعالى:﴿لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ﴾.

جاء ذلك في معرض رد الفتوى على سؤال حول حكم تهنئة غير المسلمين بأعيادهم، خاصة مع اقتراب أعياد رأس السنة الميلادية بالنسبة للمسيحيين.

إن الإهداء وقبول الهدية من غير المسلم جائز أيضًا، مؤكدة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقبل الهدايا من غير المسلمين؛ حيث ورد عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: "أهدى كسرى لرسول الله صلى الله عليه وسلم فقبل منه، وأهدى له قيصر فقبل، وأهدت له الملوك فقبل منها"
Artinya: Perbuatan (ucapan selamat) ini termasuk dalam ihsan (berbuat baik) yang diperintahkan Allah kepada seluruh manusia tanpa perbedaan. Sebagaimana firman Allah, "Katakan kebaikan pada manusia" dan "Allah memerintahkan berbuat adil dan berbuat baik."

Sandaran terpenting adalah teks Al-Quran yang sharih (jelas) yang menegaskan bahwa Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik pada non-muslim, bersilaturahmi dengan mereka, memberi hadiah kepada mereka, menerima hadiah dari mereka dan lain-lain bentuk kebaikan. Dalilnya adalah QS 60:8 "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Memberi hadiah pada dan menerima hadiah dari non-muslim juga boleh. Ditegaskan bahwa Nabi biasa menerima hadiah dari non muslim berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Talib ia berkata "Kisra memberi hadiah pada Nabi, beliau menerimanya; Qaishar memberi hadiah, Nabi menerimanya, sejumlah raja memberinya hadiah, Nabi menerimanya."


FATWA MAJELIS ULAMA EROPA (AL-MAJLIS AL-URUBI LIL IFTA')

Majelis ulama Eropa membolehkan ucapan selamat natal dan menganggapnya sebagai berbuat baik yang dibolehkan


فلا مانع إذن أن يهنئهم الفرد المسلم، أو المركز الإسلامي بهذه المناسبة، مشافهة أو بالبطاقات التي لا تشتمل على شعار أو عبارات دينية تتعارض مع مبادئ الإسلام مثل (الصليب) فإن الإسلام ينفي فكرة الصليب ذاتها "وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَـكِن شُبِّهَ لَهُمْ" [النساء157].

والكلمات المعتادة للتهنئة في مثل هذه المناسبات لا تشتمل على أي إقرار لهم على دينهم، أو رضا بذلك، إنما هي كلمات مجاملة تعارفها الناس.

ولا مانع من قبول الهدايا منهم، ومكافأتهم عليها، فقد قبل النبي –صلى الله عليه وسلم - هدايا غير المسلمين مثل المقوقس عظيم القبط بمصر وغيره، بشرط ألا تكون هذه الهدايا مما يحرم على المسلم كالخمر ولحم الخنزير.

Artinya: Tidak ada larangan bagi individu muslim atau organisasi Islam untuk mengucapkan selamat atas peringatan (natal) ini secara lisan atau dengan kartu yang tidak mengandung syiar atau ucapan keagamaan yang berlawanan dengan prinsip Islam seperti kata 'salib' karena Islam menafikan pemikiran salib seperti disebut dalam QS An-Nisa 4:157.

Kalimat yang biasa untuk ucapan selamat natal hendaknya tidak mengandung pengakuan apapun pada agama mereka atau rela atasnya. Ia hendaknya berupa kalimat mujamalah (courtesy) yang umum dikenal.

Tidak ada larangan menerima hadiah dari mereka dan memberi hadiah pada mereka. Karena, Nabi pernah menerima hadiah dari non-muslim seperti Muqauqis pembesar Kristen Koptik Mesir dan lainnya dengan syarat hadiah tersebut tidak haram bagi muslim seperti minuman alkohol dan daging babi. (Lebih detail)


FATWA MUI ERA BUYA HAMKA

Ada pembaca yang memprotes di kotak komentar bahwa MUI sebenarnya mengharamkan ucapan selamat Natal sejak era Buya Hamka berdasarkan sumber dari Hidayatullah.com dengan mengutip ucapan salah satu tokoh MUI saat ini yaitu H. Aminuddin Ya`qub. Ucapan Aminuddin Ya'qub--kalau itu benar ucapan dia-- bahwa MUI mengharamkan ucapan Natal sejak era Buya Hamka jadi ketua MUI adalah tidak akurat.

Saya adalah pembaca setia majalah Panji Masyarakat di mana Buya Hamka adalah pemrednya. Saya ingat persis tulisannya dalam kolom "Dari Hati ke Hati" yang mengatakan bahwa dia mengharamkan umat Islam mengikuti upacara sakramen (ritual) Natal. Tapi, kalau sekedar mengucapkan selamat Natal atau mengikuti perayaan non-ritual tidak masalah (tidak haram).

Saya kesulitan mencari berkas majalah Panji Masyarakat tersebut, tapi untungnya ada berkas seputar fatwa MUI dan HAMKA tersebut yang masih tersimpan di arsip Majalah TEMPO 16 Mei 1981 demikian:

Pada dasarnya menghadiri perayaan antaragama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan . . . "

Pada 30 Mei 1981 Majalah Tempo melaporkan:

Mengapa Hamka mengundurkan diri? Hamka sendiri pekan lalu mengungkapkan pada pers, pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinya mengharapkan (sic!; maksudnya mungkin mengharamkan -red) umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa.

.. Fatwa ini kemudian dikirim pada 27 Maret pada pengurus MU di daerah-daerah. (TEMPO, 16 Mei 1981). Bagaimanapun, harian Pelita 5 Mei lalu memuat fatwa tersebut, yang mengutipnya dari Buletin Majelis Ulama no. 3/April 1981. Buletin yang dicetak 300 eksemplar ternyata juga beredar pada mereka yang bukan pengurus MU. Yang menarik, sehari setelah tersiarnya fatwa itu, dimuat pula surat pencabutan kembali beredarnya fatwa tersebut. Surat keputusan bertanggal 30 April 1981 itu ditandatangani oleh Prof. Dr. Hamka dan H. Burhani Tjokrohandoko selaku Ketua Umum dan Sekretaris Umum MUI. Menurut SK yang sama, pada dasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain Misa, Kebaktian dan sejenisnya. Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalam rangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual.

... HAMKA juga menjelaskan, fatwa itu diolah dan ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI bersama ahli-ahli agama dari ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam tingkat nasional -- termasuk Muhammadiyah, NU, SI, Majelis Dakwah Islam Golkar.

Perbedaan dalam Internal MUI

Di samping itu, rupanya masih adanya perbedaan pendapat. Misalnya yang tercermin dalam pendapat KH Misbach, Ketua MUI Jawa Timur tentang perayaan Natal. "Biarpun di situ kita tidaj ikut bernyanyi dan berdoa, tapi kehadiran kita itu berarti kita sudah ikut bernatal," katanya. M nurut pendapatnya, "Seluruh acara dalam perayaan Natal merupakan upacara ritual. (Majalah Tempo, 30 Mei 1981).

Penjelasan Ketua MUI Din Syamsuddin tentang Fatwa MUI tahun 1981

Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menyatakan pada Tempo, Selasa, 23 Desember 2014 bahwa haramnya itu apabila ikut perayaan Natal, bukan ucapan Selamat Natal.

"Fatwa MUI pada 1981 itu tentang Perayaan Natal Bersama. Hal yang diharamkan adalah bila umat Islam mengikuti upacara Natal bersama."

Menurut Din, fatwa, yang dikeluarkan pada masa Buya Hamka menjadi Ketua MUI itu, dikeluarkan karena saat itu banyak muslim yang ikut upacara Natal bersama di gereja. Tindakan itu diharamkan karena berkaitan dengan urusan ibadah. "Kerukunan umat beragama pada saat itu salah kaprah," ujarnya.


FATWA NU (NAHDLATUL ULAMA) SOAL NATAL

Menurut Majalah Tempo, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Slamet Effendy Yusuf tak mempermasalahkan jika umat Islam mengucapkan "Selamat Natal" kepada warga Nasrani yang tidak boleh adalah mengikuti ritual natal. Berikut laporan Majalah Tempo, edisi Kamis, 18 Desember 2014:
"Kalau sebatas ucapan 'Selamat Natal' tidak apa-apa," kata Slamet Effendy Yusuf kepada Tempo, Kamis, 18 Desember 2014.

Menurut Slamet, ucapan "Selamat Natal" merupakan wujud toleransi beragama. Ucapan itu dinilai tidak akan mempengaruhi akidah dan identitas seorang. "Sikap saling menghormati seperti itu tidak ada urusannya dengan pengakuan imani," kata tokoh NU itu.

Walaupun demikian, kata Slamet, dalam ajaran Islam menyatakan sikap toleransi bukan berarti seorang muslim boleh menghadiri dan merayakan Natal. "Karena aktivitas yang bersifat ibadati jelas dilarang. Islam menegaskan prinsip beribadah menurut ajaran masing-masing," kata Slamet.


FATWA MUHAMMADIYAH TERKAIT NATAL

Muhammadiyah menyatakan bahwa mengikuti ritual Natal adalah haram. Sedangkan mengucapkan selamat natal pada umat Kristiani adalah tidak dianjurkan alias tidak tegas menghalalkan atau mengharamkan. Dalam fiqih ini berarti makruh. Kutipan di bawah berasal dari buku Fatwa Tarjih, Cetakan VI, 2003 hal.209-210:

Poin pertama mengikuti perayaan natal bersama bagi ummat islam adalah Haram hukumnya dalam konteks ini, perayaan Natal di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perkara-perkara akidah tersebut di atas.

Poin Kedua mengucapkan Selamat Natal dianjurkan untuk tidak dilakukan karena merupakan bagian dari perkara kegiatan perayaan Natal, agar Umat Islam tidak terjerumus kepada perkara syubhat dan larangan Allah Subhanahu Wata’ala. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Allah Subhanahu Wata’ala serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan.


PENDAPAT ULAMA MADZHAB EMPAT

Mayoritas ulama salaf dari madzhab empat - Syafi'i, Hanafi Maliki, Hanbali, mengharamkan ucapan selamat pada hari raya non-Muslim. Berikut pendapat mereka:


MADZHAB SYAFI'I

Damiri dalam Al-Najm Al-Wahhaj fi Syarh Al-Minhaj, "Fashl Al-Takzir", hlm. 9/244, dan Khatib Syarbini dalam Mughnil Muhtaj ila Makrifati Ma'ani Alfadzil Minhaj, hlm. 4/191, menyatakan:


(تتمة : يُعزّر من وافق الكفار في أعيادهم ، ومن يمسك الحية ، ومن يدخل النار ، ومن قال لذمي : يا حاج ، ومَـنْ هَـنّـأه بِـعِـيـدٍ ، ومن سمى زائر قبور الصالحين حاجاً ، والساعي بالنميمة لكثرة إفسادها بين الناس ، قال يحيى بن أبي كثير : يفسد النمام في ساعة ما لا يفسده الساحر في سنة)

Artinya: Ditakzir (dihukum) orang yang sepakat dengan orang kafir pada hari raya mereka, orang yang memegang ular, yang masuk api, orang yang berkata pada kafir dzimmi "Hai Haji", orang yang mengucapkan selamat pada hari raya (agama lain), orang yang menyebut peziarah kubur orang saleh dengan sebutan haji, dan pelaku adu domba karena banyaknya menimbulkan kerusakan antara manusia. Berkata Yahya bin Abu Katsir: Pengadu domba dalam satu jam dapat membuat kerusakan yang baru bisa dilakukan tukang sihir dalam setahun.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyah, hlm. 4/238-239, menyatakan:

(ثم رأيت بعض أئمتنا المتأخرين ذكر ما يوافق ما ذكرته فقال : ومن أقبح البدع موافقة المسلمين النصارى في أعيادهم بالتشبه بأكلهم والهدية لهم وقبول هديتهم فيه وأكثر الناس اعتناء بذلك المصريون وقد قال صلى الله عليه وسلم { من تشبه بقوم فهو منهم } بل قال ابن الحاج لا يحل لمسلم أن يبيع نصرانيا شيئا من مصلحة عيده لا لحما ولا أدما ولا ثوبا ولا يعارون شيئا ولو دابة إذ هو معاونة لهم على كفرهم وعلى ولاة الأمر منع المسلمين من ذلك ومنها اهتمامهم في النيروز... ويجب منعهم من التظاهر بأعيادهم)

Artinya: Aku melihat sebagian ulama muta'akhirin menuturkan pendapat yang sama denganku, lalu ia berkata: Termasuk dari bid'ah terburuk adalah persetujuan muslim pada Nasrani pada hari raya mereka dengan menyerupai dengan makanan dan hadiah dan menerima hadiah pada hari itu. Kebanyakan orang yang melakukan itu adalah kalangan orang Mesir. Nabi bersabda "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka". Ibnu Al-Haj berkata: Tidak halal bagi muslim menjual sesuatu pada orang Nasrani untuk kemasalahan hari rayanya baik berupa daging, kulit atau baju. Hendaknya tidak meminjamkan sesuatu walupun berupa kendaraan karena itu menolong kekufuran mereka. Dan bagi pemerintah hendaknya mencegah umat Islam atas hal itu. Salah satunya adalah perayaan Niruz (Hari Baru)... dan wajib melarang umat Islam menampakkan diri pada hari raya non-muslim.

Wahbah Zuhayli seorang ulama madzhab Syafi'i kontemporer dalam salah satu fatwanya menyatakan bolehnya mengucapkan selamat natal:
Zuhaili mengatakan:

لا مانع من مجاملة النصارى في رأي بعض الفقهاء في مناسباتهم على ألا يكون من العبارات ما يدل على إقرارهم على معتقداتهم.

Artinya: Tidak ada halangan dalam bersopan santun (mujamalah) dengan orang Nasrani menurut pendapat sebagian ahli fiqh berkenaan hari raya mereka asalkan tidak bermaksud sebagai pengakuan atas (kebenaran) ideologi mereka. (Sumber: http://www.fikr.com/zuhayli/fatawa_p54.htm#26a domain link ini tidak lagi aktif)


MADZHAB HANAFI

Ibnu Najim dalam Al-Bahr Al-Raiq Syarah Kanz Al-Daqaiq, hlm. 8/555,


قال أبو حفص الكبير رحمه الله : لو أن رجلا عبد الله تعالى خمسين سنة ثم جاء يوم النيروز وأهدى إلى بعض المشركين بيضة يريد تعظيم ذلك اليوم فقد كفر وحبط عمله وقال صاحب الجامع الأصغر إذا أهدى يوم النيروز إلى مسلم آخر ولم يرد به تعظيم اليوم ولكن على ما اعتاده بعض الناس لا يكفر ولكن ينبغي له أن لا يفعل ذلك في ذلك اليوم خاصة ويفعله قبله أو بعده لكي لا يكون تشبيها بأولئك القوم , وقد قال صلى الله عليه وسلم { من تشبه بقوم فهو منهم } وقال في الجامع الأصغر رجل اشترى يوم النيروز شيئا يشتريه الكفرة منه وهو لم يكن يشتريه قبل ذلك إن أراد به تعظيم ذلك اليوم كما تعظمه المشركون كفر , وإن أراد الأكل والشرب والتنعم لا يكفر

Artinya: Abu Hafs Al-Kabir berkata: Apabila seorang muslim yang menyembah Allah selama 50 tahun lalu datang pada Hari Niruz (tahun baru kaum Parsi dan Kurdi pra Islam - red) dan memberi hadiah telur pada sebagian orang musyrik dengan tujuan untuk mengagungkan hari itu, maka dia kafir dan terhapus amalnya. Berkata penulis kitab Al-Jamik Al-Asghar: Apabila memberi hadiah kepada sesama muslim dan tidak bermaksud mengagungkan hari itu tetapi karena menjadi tradisi sebagian manusia maka tidak kafir akan tetapi sebaiknya tidak melakukan itu pada hari itu secara khusus dan melakukannya sebelum atau setelahnya supaya tidak menyerupai dengan kaum tersebut. Nabi bersabda: "Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka." Penulis kitab Al-Jamik Al-Asghar berkata: Seorang lelaki yang membeli sesuatu yang dibeli orang kafir pada hari Niruz dia tidak membelinya sebelum itu maka apabila ia melakukan itu ingin mengagungkan hari itu sebagaimana orang kafir maka ia kafir. Apabila berniat untuk makan minum dan bersenang-senang saja tidak kafir.


MADZHAB MALIKI

Ibnul Haj Al-Maliki dalam Al-Madkhal, 2/46-48 menyatakan:

ومن مختصر الواضحة سئل ابن القاسم عن الركوب في السفن التي يركب فيها النصارى لأعيادهم فكره ذلك مخافة نزول السخط عليهم لكفرهم الذي اجتمعوا له . قال وكره ابن القاسم للمسلم أن يهدي إلى النصراني في عيده مكافأة له . ورآه من تعظيم عيده وعونا له على مصلحة كفره . ألا ترى أنه لا يحل للمسلمين أن يبيعوا للنصارى شيئا من مصلحة عيدهم لا لحما ولا إداما ولا ثوبا ولا يعارون دابة ولا يعانون على شيء من دينهم ; لأن ذلك من التعظيم لشركهم وعونهم على كفرهم وينبغي للسلاطين أن ينهوا المسلمين عن ذلك , وهو قول مالك وغيره لم أعلم أحدا اختلف في ذلك

Artinya: Ibnu Qasim ditanya soal menaiki perahu yang dinaiki kaum Nasrani pada hari raya mereka. Ibnu Qasim tidak menyukai (memakruhkan) hal itu karena takut turunnya kebencian pada mereka karena mereka berkumpul karena kekufuran mereka. Ibnu Qasim juga tidak menyukai seorang muslim memberi hadiah pada Nasrani pada hari rayanya sebagai hadiah. Ia melihat hal itu termasuk mengagungkan hari rayanya dan menolong kemaslahatan kufurnya. Tidakkah engkau tahu bahwa tidak halal bagi muslim membelikan sesuatu untuk kaum Nasrani untuk kemaslahatan hari raya mereka baik berupa daging, baju; tidak meminjamkan kendaraan dan tidak menolong apapun dari agama mereka karena hal itu termasuk mengagungkan kesyirikan mereka dan menolong kekafiran mereka. Dan hendaknya penguasa melarang umat Islam melakukan hal itu. Ini pendapat Malik dan lainnya. Saya tidak tahu pendapat yang berbeda.


MADZHAB HANBALI

Al-Buhuti dalam Kasyful Qina' an Matnil Iqnak, hlm. 3/131, menyatakan:

( ويحرم تهنئتهم وتعزيتهم وعيادتهم ) ; لأنه تعظيم لهم أشبه السلام .

( وعنه تجوز العيادة ) أي : عيادة الذمي ( إن رجي إسلامه فيعرضه عليه واختاره الشيخ وغيره ) لما روى أنس { أن النبي صلى الله عليه وسلم عاد يهوديا , وعرض عليه الإسلام فأسلم فخرج وهو يقول : الحمد لله الذي أنقذه بي من النار } رواه البخاري ولأنه من مكارم الأخلاق .

( وقال ) الشيخ ( ويحرم شهود عيد اليهود والنصارى ) وغيرهم من الكفار ( وبيعه لهم فيه ) . وفي المنتهى : لا بيعنا لهم فيه ( ومهاداتهم لعيدهم ) لما في ذلك من تعظيمهم فيشبه بداءتهم بالسلام .

Artinya: Haram mengucapkan selamat, takziyah (ziarah orang mati), iyadah (ziarah orang sakit) kepada non-muslim karena itu berarti mengagungkan mereka menyerupai (mengucapkan) salam. Boleh iyadah kafir dzimmi apabila diharapkan Islamnya dan hendaknya mengajak masuk Islam. Karena, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi pernah iyadah pada orang Yahudi dan mengajaknya masuk Islam lalu si Yahudi masuk Islam lalu berkata, "Alhamdulillah Allah telah menyelamatkan aku dari neraka." Dan karena iyadah termasuk akhak mulia.

Haram menghadiri perayaan Yahudi dan Nasrani dan kafir lain dan membeli untuk mereka pada hari itu. Dalam kitab Al-Muntaha dikatakan: Tidak ada jual beli kita pada mereka pada hari itu dan memberi hadiah mereka karena hari raya mereka karna hal itu termasuk mengagungkan mereka sehingga hal ini menyerupai memulai ucapan salam.


TOKOH ISLAM YANG MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL TAHUN 2014

Ada sejumlah tokoh muslim Indonesia, baik pejabat publik, anggota DPR, cendekiawan, ulama atua tokoh masyarakat, yang mengucapkan Selamat Natal pada umat Kristiani setip hari Natal tiba. Berikut di antaranya:

AHMAD HERYAWAN, GUBERNUR JAWA BARAT

Walaupun berasal dari pejabat publik yang diusung oleh PKS (Partai Keadilan Sejahtera), sebuah partai yang mayoritas aktivisnya mengharamkan ucapan selamat Natal, namun Ahmad Heryawan (Aher) tidak segan-segan mengucapkan 'Selamat Natal" saat ia berkunjung ke gereja Katedral di Bandung pada malam Natal. Berikut laporan Detik.com, Kamis, 25/12/2014 02:58 WIB)

"Selama Natal," ujar Heryawan sambil menyalami dan merangkul Pastur Leo dan lainnya.

Heryawan menyatakan selama 6 tahun dirinya menjabat tak pernah dirinya absen menyambangi Gereja Katedral setiap Natal.

FAHRI HAMZAH UCAPKAN SELAMAT NATAL SEJAK 2013

Tempo.co memberitakan pada Rabu, 24 Desember 2014

.. kader PKS Fahri Hamzah yang menjadi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, terang-terangan mengucap Selamat Natal lewat akun twitternya sejak tahun lalu.

(Link: http://www.tempo.co/read/news/2014/12/24/173630768/Soal-Ucapan-Selamat-Natal-Bagaimana-Sikap-PKS)

KETUA UMUM MUI DIN SYAMSUDDIN

Ucapan Din Syamsuddin dikutip dari Tribunnews.com 23/12/2014

"Selamat Natal tidak secara spesifik dinyatakan dalam fatwa itu kecuali ada berbunyi agar umat Islam menjaga diri agar tidak terlibat dalam kegiatan. Sehingga tidak secara spesifik menyatakan keharaman," kata Din. Itu dapat dilakukan dengan keyakinan bahwa tidak mempengaruhi akidah tetapi sesuai dengan keperluan"

"Ketika Idul Fitri seluruh tokoh agama seluruh dunia mengirimkan ucapan selamat kepada saya. Maka ketika ada hari kebesaran agama mereka tentu saya harus balas. Vatikan mengirimkan selamat, tidak mungkin saya tidak mengucapkan selamat Natal pada mereka. Nanti dikira sombong,"

Seperti dikutip detik.com Selasa, 23/12/2014 13:34 WIB, Din Syamsuddin juga menyatakan:

"Islam tak sesempit itu. Islam tidak sepicik itu. Dalam konteks kultural itu rahmatan lil alamin. Bahwa kita menyebutkan selamatlah kita ucapkan selamat natal."

AQIL SIRADJ KETUA UMUM NU (NAHDLATUL ULAMA)

"Saya, Said Aqil Siradj, mengucapkan selamat hari Natal kepada saudara kita umat Kristiani. Mudah-mudahan kita mendapatkan berkah Tuhan. Bangsa Indonesia semakin jaya dan sejahtera," kata Said Aqil seperti dikutip Kompas.com Rabu, 24 Desember 2014 | 11:02 WIB

"Kita harap agar masyarakat menghormati hari Natal. Kita tunjukkan Indonesia bangsa modern, beradab, tidak seperti di Timur Tengah yang jauh dari beradab," kata Said Aqil.

LUKMAN SAIFUDDIN MENTERI AGAMA RI

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melalui akun Twitter-nya, @lukmansaifuddin, menyampaikan "Buat umat kristiani yg bersukacita, Selamat Merayakan Natal... Damai di bumi, damai di hati... Semoga kita terus rukun dalam cinta kasih," demikian tweet Lukman, Kamis (25/12/2014) pagi.

SYAFII MAARIF, MANTAN KETUA MUHAMMADIYAH

"Tiap tahun saya mengucapkan 'Selamat Natal' kepada para kardinal dan umat kristiani lainnya," katanya saat dihubungi Tempo, Jumat, 19 Desember 2014.

Menurut tokoh yang kerap disapa Buya Syafii itu, tokoh ulama di Mesir bahkan sudah jauh hari mengizinkan ucapan "Selamat Natal" kepada umat Nasrani

JUSUF KALLA, WAKIL PRESIDEN RI 2014-2019

“Kepada seluruh umat Kristiani di manapun berada, selamat hari Natal. Semoga Natal membawa damai dan bahagia untuk kita semua,” ujar JK melalui akun twitternya @Pak_JK

Menurut Tempo.co edisi Kamis, 25 Desember 2014 mengutip juru bicaranya Husein, ucapan selamat Natal pada kolega dan sahabat disampaikan JK melalui pesan pendek. Ada pula yang disampaikan melalui sambungan telepon.

JOKO WIDODO (JOKOWI) PRESIDEN RI 2014 - 2019

"Kepada saudara-saudaraku umat Kristiani yang sedang merayakan hari Natal, saya mengucapkan selamat hari Natal," tulis Jokowi di akun Facebook-nya, Kamis (25/12/2014) pagi.

Seperti dilaporkan Kompas.com Kamis, 25 Desember 2014, tak hanya mengucapkan selamat, Jokowi juga meyampaikan harapannya pada hari Natal ini. Jokowi berharap momen Natal tahun ini dapat membawa kedamaian bagi semuanya. "Semoga Natal membawa kedamaian. Damai di langit, damai di bumi, dan damai di hati," ujarnya.


ULAMA WAHABI MENGHARAMKAN UCAPAN SELAMAT NATAL

Umumnya yang mengharamkan ucapan selamat Natal adalah ulama Wahabi yang terinspirasi dari fatwa Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim. Inti alasan dari ulama yang mengharamkan adalah karena mengucapkan selamat pada perayaan orang non-muslim sama dengan mengakui kebenaran agama mereka dan itu bertentangan dengan Quran QS. Al-Zumar: 7; QS. Al-Maidah: 3. Berikut pendapat dari dua tokoh utama gerakan Wahabi Salafi yaitu Abdul Azin bin Baz dan Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin (daftar ulama Wahabi lain lihat di sini):

Abdul Aziz bin Baz dalam Majmuk Fatawa wa Maqalat Mutanawwiah, hlm. 6/405, menyatakan tentang Natal:

لا يجوز للمسلم ولا المسلمة مشاركة النصارى أو اليهود أو غيرهم من الكفرة في أعيادهم بل يجب ترك ذلك لأن من تشبه بقوم فهو منهم والرسول عليه الصلاة والسلام حذرنا من مشابهتهم والتخلق بأخلاقهم فعلى المؤمن وعلى المؤمنة الحذر من ذلك ولا تجوز لهما المساعدة في ذلك بأي شئ لأنها أعياد مخالفة للشرع فلا يجوز الاشتراك فيها ولا التعاون مع أهلها ولا مساعدتهم بأي شئ لا بالشاي ولا بالقهوة ولا بغير ذلك كالأواني وغيرها ولأن الله سبحانه يقول وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان واتقوا الله إن الله شديد العقاب فالمشاركة مع الكفرة في أعيادهم نوع من التعاون على الإثم والعدوان.

Artinya: Tidak boleh bagi muslim dan muslimah untuk bergabung dengan Nasrani dan yahudi atau orang kafir lain pada hari raya mereka. Bahkan wajib meninggalkan hal itu karena orang yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka. Rasulullah mengingatkan kita untuk tidak menyerupai mereka dan berperilaku seperti mereka. Maka bagi muslim dan muslim jauhi hal itu. Dan tidak boleh bagi muslim menolong mereka pada hari tersebut dengan cara apapun karena itu perayaan yang berlawanan dengan syariah maka tidak boleh ikut-ikutan dan tolong menolong dengan mereka atau membantu mereka dengan apapun termasuk dengan teh, kopi dan lainya seperti wadah-wadah dan lainnya. Dan karena Allah berfirman, "Tolong menolonglah kalian pada kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolog dalam dosa dan permusuhan. Takutlah pada Allah sesungguhnya Allah sangat siksanya. Bergabung dengan orang kafir pada hari raya mereka merupakan bentuk dari tolong menolong pada dosa dan permusuhan.

Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin dalam Majmuk Fatawa wa Rasail, hlm. 3/44, menyatakan:

تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق. كما نقل ذلك ابن القيم – رحمه الله – في كتابه " أحكام أهل الذمة " حيث قال : " وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول : عيد مبارك عليك ، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات. وهو بمنـزلة أن تهنئه بسجوده للصليب ، بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

Artinya: Memberi ucapan selamat pada orang kafir pada hari Natal atau perayaan lain yang bersifat agama hukumnya haram secara ijmak sebagaimana dikutip oleh Ibnu Qayyim dalam kitabnya "Ahkam Ahl Dzimmah - Hukum Kafir Dzimmi" di mana ia berkata: Adapun mengucapan selamat dengan syiar kekufuran yang khusus maka haram secara ittifaq seperti mengucapkan selamat pada hari raya dan puasa mereka dengan mengatakan 'Selamat hari raya bagimu' atau 'Selamat untuk perayaan ini' dan lain-lain. Ini, apabila pelakunya selamat dari kekufuran maka ini termasuk perkara haram. Ia sama dengan mengucapkan selamat pada sujudnya pada salib bahkan lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih besar dosanya dari tahniah karena minum alkohol dan membunuh orang dan melakukan zina."

Dalil dan argumen ulama Wahabi soal ucapan selamat Natal lihat: Ulama Wahabi Haramkan Ucapan Natal

Namun tidak semua ulama Wahabi mengharamkan ucapan selamat Natal, Syarif Hatim Al-Awni termasuk salah yang membolehkan. Lebih detail lihat di sini.


HARAM MENGIKUTI SAKRAMEN (RITUAL) NATAL

Mengikuti perayaan ritual (sakramen) Natal haram hukumnya secara mutlak. Larangan ini difatwakan baik oleh ulama yang membolehkan ucapan selamat natal maupun menurut ulama yang mengharamkannya.

Kesimpulan Fatwa MUI dan Hamka

Inti dari fatwa MUI era Hamka tahun 1981 adalah (a) haram mengikuti ritual Natal; (b) tidak haram menghadiri perayaan Natal, bukan ritualnya; (c) MUI Jawa Timur (KH. Misbach) mengharamkan menghadiri acara Natal baik sekedar untuk mengikuti perayaannya saja atau apalagi sampai mengikuti ritualnya.

Fatwa tersebut tidak membahas soal mengucapkan ucapan Selamat Natal.

MUI Tidak Mengharamkan ucapan Selamat Natal, kata Din Syamsuddin

Dikutip dari Hidayatullah.com Selasa, Jum'at, 23 Desember 2011:

Din Syamsuddin: “MUI Tidak Larang Ucapan Selamat Natal”


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin mengatakan, MUI tak melarang umat Islam memberikan ucapan “Selamat Natal”. Ibnu Qayyim dan Syaikh Muhammad ‘Utsaimîn mengatakan haram.
Link sumber: http://www.hidayatullah.com/read/2359/11/10/2005/kanal.php?kat_id=9


FATWA MUI 1981 DIKUTIP DARI KUMPULAN FATWA MUI 1997 OLEH ERAMUSLIM.COM
Eramuslim.com mengutip khutbah Jumat Hartono Ahmad Jaiz seputar fatwa MUI era Hamka soal Natal.

(MUI) MEMUTUSKAN

Memfatwakan

Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan diatas.
Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.
Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. (Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H, 7 Maret 1981, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Ketua K. H. M SYUKRI GHOZALI Sekretaris Drs. H. MAS‘UDI).

Sumber: Himpunan Fatwa Mejelis Ulama Indonesia 1417H/ 1997, halaman 187-193)
Sumber link: Eramuslim.com

CATATAN: Dalam fatwa di atas, jelas disebutkan HARAMNYA mengikuti kegiatan-kegiatan Natal. Bukan mengucapkan selamat Natal.


DIN SYAMSUDDIN TENTANG UCAPAN SELAMAT NATAL

Pernyataan Din Syamsuddin dikutip dari Kapanlagi.com:

Kapanlagi.com - Ada pengakuan menarik dari Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof DR HM Din Syamsuddin MA soal muslim memberikan ucapan selamat Natal. "Saya tiap tahun memberi ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristiani," katanya di hadapan ratusan umat Kristiani dalam seminarWawasan Kebangsaan X BAMAG Jatim di Surabaya (10/10/2005).

Din yang juga Sekretaris Umum MUI Pusat (sekarang ketua MUI pusat - red) itu menyatakan MUI tidak melarang ucapan selamat Natal, tapi melarang orang Islam ikut sakramen/ritual Natal.

"Kalau hanya memberi ucapan selamat tidak dilarang, tapi kalau ikut dalam ibadah memang dilarang, baik orang Islam ikut dalam ritual Natal atau orang Kristen ikut dalam ibadah orang Islam," katanya.

Link sumber: http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/74225


KESIMPULAN HUKUM UCAPAN SELAMAT NATAL

Seorang muslim yang mengucapkan Selamat Natal kepada pemeluk Nasrani hukumnya boleh menurut mayoritas ulama muashir (kontemporer). Yang haram adalah apabila mengikuti ritual atau sakramen natal. Mengucapkan Selamat Natal itu perlu bagi umat Muslim yang memiliki tetangga, teman kuliah/sekolah, kolega kerja, atau rekan bisnis yang beragama Nasrani sebagai sikap mutual respect.

Bagi yang tidak punya hubungan apapun dengan orang Nasrani, tentu saja ucapan itu tidak diperlukan.

Adapun pendapat yang tidak membolehkan adalah pendapat sebagian kecil ulama umumnya yang berlatarbelakang faham Wahabi Salafi dan sebagian ulama salaf dari mazhab empat.

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini.. Konsultasi agama, kirim via email: alkhoirot@gmail.com

152 komentar

MUI sejak Buya Hamka hingga sekarang mengharamkan ucapan Selamat Natal. Silahkan baca:
http://www.hidayatullah.com/read/14709/21/12/2010/%5C
Hidayatullah.com--Pernyataan yang membolehkan kaum Muslim mengucapkan selamat natal mendapat kritik pedas Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat. Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI H. Aminuddin Ya`qub, Pernyataan seperti itu, dianggap basi karena MUI sudah mengatakan larangannya telah lama.
“Hal seperti itu bukan hal baru. Sudah lama,” kata H. Aminuddin Ya`qub kepada hidayatullah.com,
===

http://media-islam.or.id/2011/12/20/bantahan-atas-fatwa-halal-mengucapkan-selamat-natal-yusuf-al-qaradhawi/

Prof. Dr. Yusuf Al Qaradhawi memfatwakan bahwa mengucapkan Selamat Natal itu Halal. Ini jelas bertentangan dengan Firman Allah, Sunnah Nabi dan para Sahabat, dan juga para Imam Madzhab.

Di antara dalil yang dipakai Al Qaradhawi untuk menghalalkan Ucapan Selamat Natal adalah:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…” [QS. Al-Mumtahanah: 8]

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86)

Penggunaan Dalil di atas tidak tepat untuk menghalalkan Selamat Natal. Sebab Nabi dan Para Sahabat serta Imam Madzhab tak pernah menggunakan itu untuk mengucapkan Selamat Natal kepada orang-orang Nasrani.

Saya lihat ada pelintiran di sini. Lihat Fatwa MUI:
Mengucapkan Selamat Hari Natal Haram kecuali Darurat
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-mengucapkan-selamat-natal.htm

Artinya menurut Fatwa MUI pun mengucapkan Selamat Hari Natal itu Haram.
Dan referensinya kok mengambil dari Tempo yg jelas2 JIL?
Apa ini Pesantren JIL?

Fatwa MUI di atas jelas mengucapkan Selamat Natal itu Haram KECUALI DARURAT. Ini sama halnya dgn Babi itu Haram. Halal kalau DARURAT. Yg namanya Darurat itu artinya kalau kita tidak melakukannya (misalnya Tidak Mengucapkan Selamat Natal) kita bisa Mati.

Dalam Islam tidak ada istilah profesor segala macam. Dan kita tidak boleh taqlid.
Ketaatan hanya kepada Allah dan RasulNya.
Nabi Muhammad, para sahabat, dan Imam Madzhab tidak pernah mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani yg tengah merayakan kemusyrikan. Mereka itu lebih tinggi derajadnya daripada Yusuf Al Qaradhawi.
Merekalah yg harus kita ikuti.

Berita dari Tempo yg didominasi kaum JIL tak bisa dipercaya.
Buya Hamka mundur dari MUI karena fatwa Haram mengikuti perayaan Natal atau pun Selamat Natalnya tidak disukai Soeharto:
Masih dalam periode kepemimpinan Buya Hamka, MUI juga mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam mengikuti perayaan natal dan haram pula mengucapkan selamat natal. Fatwa tersebut mendapat reaksi dari Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara, dan ia mewakili pemerintah meminta fatwa tersebut dicabut. Buya Hamka memilih mundur dari jabatan Ketua Umum MUI daripada harus mencabut fatwa tersebut. Sikap Buya Hamka ini merupakan teladan dan cerminan sosok ulama yang Istiqomah sebagai penyambung lidah ummat.
http://bulanbintang.wordpress.com/about/mui-dan-keterpasungan-politik-catatan-atas-pilkada-kalbar/

berita basi aja masih diposting, fatwa mui mengenai haram mengucapkan selamat natal yang dikeluarkan buya hamka masih berlaku dan tidak ada perubahan...

kata mengucapkan selamat buat natal bagi islam

aneh ya.. cuma ucapan selamat buat hari raya agama lain aja ada larangan. Percuma negri ini dulu dibangun Bhineka Tunggal Ika. .. Toh kenyataan hidupnya gak selaras dgn Bhineka Tunggal Ika.. Larangan itu kan buatan manusia, bukan rancangan dari ALLAH.

...ada dua pendapat, masing-masing pendapat datang dari "bukan orang sembarangan" yang belum tentu lebih rendah ilmunya daripada anda, silakan berpikir dan memutuskan serta harus siap dengan segala konsekuensinya nanti di akhirat...

selamat tahun baru 2012 :-D

aneh ya.. cuma ucapan selamat buat hari raya agama lain aja ada larangan. Percuma negri ini dulu dibangun Bhineka Tunggal Ika. .. Toh kenyataan hidupnya gak selaras dgn Bhineka Tunggal Ika.. Larangan itu kan buatan manusia, bukan rancangan dari ALLAH.

betul itu sob saya mendukungmu ,,,,
padahal yang bangun siapa tu ??
anah memang negri ini ,,.........


silakan anda hapus komentar saya ini jika anda tidak suka membacanya ....
terimakasih .....

Bhineka tunggal ika bukan Falsafah Agama Islam, tapi Falsafah negara. Jadi gak ada kaitan bawa Bhineka tunggal ika segala, itu namanya gak nyambung :D

Wah, kalau mengucapkan haram berarti hampir semua orang media berdosa, ambil contoh: kita bekerja di. Media, kemudian ada iklan selamat natal berarti seluruh muslim yg bekerja dimedia tersebut kafir dong hehe..atau kita hanyalah penjual buku, majalah/koran yg didalamnya ada ucapan selamat natal.berarti kita kafir juga dong karena turut andil dalam men'syiar'kan natal. Hanya opini dari seorang muslim pembelajar :)

memang dunia adalah tempat penderitaan bagi muslim, tapi merupakan tempat bersenang-senangnya bagi non-muslim.
sedangkan akhirat adalah tempat kebahagiaan bagi muslim yang beriman

tidak ada larangan mengucapkan selamat hari raya utk agama tertentu, jangan terjebak dgn perdebatan yg menyebabkan kita mengkafirkan orang lain. Mengkafirkan sesama muslim pernah dilakukan oleh golongan Khawarij terhadap Ali dan Muawiyah dalam peristiwa "tahkim".

Kristen,Yahudi dan selain Islam jelas KAFIR. Mengucapkan Selamat NATAL berarti keridhoan kita terhadap keyakinan KEJI mereka yang mengatakan Alloh mempunyai Anak atau Isa adalah Tuhan atau Trinitas. Amat buruklah perkataan yang keluar dari mulut2 mereka . Sungguh telah Kafir orang ynag mengatakan ISA alaihi Salam adalh anak Alloh ( buka Al Qur'an dari halaman awal sampai Akhir, cari sampai dapat ). Berarti Kafir juga orang2 yang telah ridho dengan perayaaan KEKAFIRAN mereka. Kita benci mereka karena AQIDAH sesat mereka yg berlebih2an dalam mendudukkan kedudukan seorang hamba & Rosul melampaui batasnya. Seorang Rosul itu adalah HAMBA tidak disembah & dan Rosul tidak boleh didustakan. Maka berhati2lah dari MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL kepada kaum ynag telah DIKAFIRKAN oleh pencipta-NYA. Namun selama mereka tidak memerangi dan menghinakan Islam,kita sebagai Muslim dilarang mendzolimi mereka dan tidak dilarang untuk berbuat kebaikan kepada mereka. Tapi tetap TOLERANSI ada batas yang tidak boleh dilanggar...Sehingga Kita sendiri yang RUGI, hanya karena satu UCAPAN yang kita anggap ENTENG.

Maka berhati2lah dari MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL kepada kaum yg telah DIKAFIRKAN oleh PENCIPTAnya. Namun selama mereka tidak memerangi dan menghinakan Islam,kita sebagai Muslim dilarang mendzolimi mereka dan tidak dilarang untuk berbuat kebaikan kepada mereka. Tapi tetap TOLERANSI ada batas yang tidak boleh dilanggar...Sehingga Kita sendiri yang RUGI, hanya karena satu UCAPAN yang kita anggap ENTENG.

sejak nabi wafat setahu saya tidak ada otoritas (baik orang,badan atau organisasi} yg dimandatkan secara mutlak oleh quran dan hadits untuk nenentukan hal hal yg subhat itu halal atau haram. kalau fatwa itu teruntuk pada mereka yg memintanya saja. ilmu masing masing sajalah yg menjadi pedomannya, toh dosa kan dipikul masing masing.mengucapkan selamat natal itu perkara yg sepele,,,,tidak mengucapkannya mudah mengucapkannya juga mudah....

Agama yang benar tidak mengajarkan kebencian, kalau kita yakin agama itu dari Allah.

wkakakakakaka ngakak deh bca artikel....
ajaran kok mengajarkan ketidak baikan..
ini indonesia ''bhenika tungal ika'' cuy...jangan ngimpi..tanpa orang'' yang ente bilang kafir itu negara indonesia gak bakalan maju cuy.

Saya punya tetangga beragana Nasrani. Dia sangat baik dalam bermasyarakat, dalam bergaul dan pastinya taat dalam ibadah sesuai agamanya: terbukti kalau hari Minggu dia fullday menutup tokonya dan pergi ke Gereja..

Dia juga sering bertamu ke tetangga [Muslim] ketika Lebaran Fitri..

Suatu kali dia pernah ngeluh pada saya: kok aku koyone g' digatekne le pas natalku, diacuhne.. py yo..?

Intinya, dia merasa diperlakukan tidak adil... :(

Sorry nich sob, setahu ane, agama Islam ngajarkan kebencian. Mau tahu? Islam ngajarkan kebencian kepada maksiat kepada kesyirikan kepada kebid'ahan kepada kekufuran kepada penipuan, pencurian, pemerkosaan, perampasan hak. saya rasa Kristen, Budha, Hindu dan semua agama ngajarkan kebencian.

Kesimpulan dari Alkhoirot apa nich? Alkhoirot memandang boleh atau haram?

terimakasih bnyak untuk ilmunyaa,,sangat bermanfaat sekali..

Tak ada manusia yg tak luput dari dosa..
TUHAN itu Esa..
CUkup dengan Mempercayai kepercayaan kita masing2..

Setahu saya..tidak ada agama yang mengajarkan Keburukan..
semua agama Yang di akui di negara kita ini mengajarkan Kebaiakan...

Coba lha saling menghargai untuk menciptakan Keadaan yg tidak membuat kita2 saling menjatuhkan..

Tak'an ada akhir nya perdebatan seperti ini..

menyedihkan melihat orang2 yang mengaku2 beragama ini, merasa benar dan merasa suci, keluarkan dulu setan dari tubuh kalian, baru bicara tentang kebenaran.

di dunia ini saya lihat, cuma satu agama yang mengajarkan
tentang kasih, kalian pasti sudah tahu kan ?
ini lah ajarannya: "kasihilah musuh-musuhmu"

sedangkan yang lainnya, cuma kebohongan dan kebencian.
beda, dengan ajaran yang lain, inilah ajarannya: "bencilah musuh-musuhmu"

coba bandingkan:
tawanan amerika,
"diberi makan, sehat dan diperlakukan selayaknya manusia"
dan
tawanan di timur tengah,
"tak diberi makan, sakit dan diperlakukan seperti binatang"

gak apa - apa kok gak ada ruginya saya yang aku butuhkan Yesus menyertaiku.

http://rumaysho.com/download-e-book/doc_download/32-sanggahan-terhadap-ulama-yang-membolehkan-ucapan-selamat-natal.html

http://media-islam.or.id/2010/12/14/haram-hukumnya-mengucapkan-selamat-natal/

Anonymous: Situs rumaysho dkk itu situs Wahabi.

moga diberi petunjuk untuk kita semua...
mengambil petunjuk yg benar-benar haq...
kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Memilih jalan yg selamat, untuk akhirat kita kelak..

mari tidak ucapkan selamat natal, wahai kaum muslimin..
kalau kasihan dan sayang dengan mereka, maka ajaklah untuk memeluk islam.. mengapa engkau ikut bergembira saat mereka dlm lembah yg dapat menjerumuskan mereka ke neraka? tidak kah engkau kasihannn?
memberi selamat atas natal, artinya kita memberi toleransi atas ajaran agama, dan bukan kemanusiaan. bedakan yah. secara logika bisa kok.
bertetangga yang baik tetep, kan emang diajarkan. tapi kalo urusan ajaran agama, stop! ada batasnya.

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
PERAYAAN NATAL BERSAMA

Memperhatikan:
1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini
disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama
dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam
yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam
kepanitiaan Natal.
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan
Ibadah.

Menimbang:
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang
Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan
Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan
Taqwanya kepada Allah Swt.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar
ummat Beragama di Indonesia.

Meneliti kembali:
Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:
A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan
bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah
yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas:
Al Hujarat: i3; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).
B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah
dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama
lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)
C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan
Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada
para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al
Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)
D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih
daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu
anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al
Maidah:72-73; At Taubah:30.*)
E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada
Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar
mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa
menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah:
116-118.*)
F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu,
berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)
G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri
dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta
untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik
kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin
Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu
telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan
tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti
halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui
yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang
syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya,
tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia
telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang
menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka
mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu.
Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan
ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang
diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan
dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak
dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya
haram.
3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan
larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring):
tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981
M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
Sekretaris (Drs. H. Masudi)

--------
*) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Quraan yang
disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab
dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

Ini berarti MUI berfaham Wahabi...????

Wadduuhh,, pola pikir anda... apa bedanya dengan konsep 'domba-domba tersesat' dalam ajaran nasrani mengenai orang yang tidak memeluk agama mereka?

Kepada Abi Salman: coba baca lagi artikel di atas. MUI membolehkan Ucapan Selamat Natal. Bukan mengikuti perayaan Natal. Fatwa yg anda kutip itu terkait PERAYAAN NATAL.

pernahkah rasulullah saw atau shahabatNYA mengucapkan assalam kepada kaum nasrani?
coba diqias saja salam dengan assalam,bukankah dalam fiqh diharamkan mengucapkan assalam kepada non islam?
mohon pencerahannya

yang aneh bukan negerinya tapi justru antum yang aneh,, kalo antum memang muslim. kita berkata aneh karena kita tidak tau apa2 tentang syar'i..

ini bukanlah mengajarkan kebencian bung,,, inilah tatanan syar'i yang perlu dipatuhi.... kita mengucapkan selamat artinya kita ridho' bahwa nabi isa adalh anak Tuhan. kita ridho' dengan keyakinan mereka,,, ini aja udah jelas duduk perkaranya..

kepada Udin : sudah jelas kok di atas perkara yang berkaitan dengan natal.... ucapan selamat itu artinya sama dengan kita ridho' dengan keyakinan mereka bahwa nabi isa adalah anak Tuhan,,,, coba sodara renungkan arti salam.... atau selamat

Dari MUI sendiri terjadi permasalahan internal bagaimana bisa menyelesaikan tugas penting seperti ini dengan baik..

Makanya alquran dipahami dan bukan dibaca keras2 jdnya begini nich pada keblinger, sy yakin tidak ada ajaran agama didunia ini itu saling menyakiti.

Mending orangtua kita zaman dulu deh. ilmunya cetek tapi arifnya luar biasa, makanya damai slalu.

Sebenarnya negara ini masih berdasarkan Pancasila yang berbhineka tunggal ika atau mau berdasarkan islam ya?
Kalo setengah2 gini jadinya debat kusir yg terjadi.

semua nya kembali lagi kepada niat kita untuk melakukan sesuatu

This comment has been removed by a blog administrator.

Na.am.. Rasulullah..melarang kita untuk membalas salam orang kafir.. membalas sj di larang..apalgi mengucapkan.. hadist menerangkan lebih rinci lagi bahwa.. Jika kaum kafir mengucapkan salam.....maka janganlah jawab..jika keadaan terpaksa..maka cukuip balas dengan "wa alaikum"...

Bisa antum sebutkan sumber opini antum?

perbedaan pendapat seringkali mmbuat ane bingung gan ,hee,,gimana keyakinan kita ajha dekh

toleransi (antar agama) adalah pasif..dlm hal ritual, perayaan dan yg berkaitan dg ibadah agama lain maka sikap toleransi adalah tdk menggangu tdk membantu, tdk mencaci tdk simpati, tdk menghujat tdk ngucapin selamat...klo sdh ngucapin berarti telah berpartisipasi..ngucapin selamat thd sesuatu yg kita yakini bertentangan dg syariat tentu suatu yg aneh dan lucu..

ASSALAMUALAIKUM TIDAK MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL BUKAN BERARTI BENCI ATAU MENGAJARKAN KEBENCIAN. UMAT MUSSLIM DIHARUSKAN BERBUAT BAIK TERHADAP SELURUH ALAM TERMASUK ORANG2 NON MUSLIM. JADI HARAM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL ADALAH BENTUK PENOLAKAN KITA TERHADAP KEYAKINAN MEREKA YG MEMPERSEKUTUKAN ALLAH, MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL INI BISA MENYEBABKAN SYIRIK, SYIRIK ADALAH DOSA YANG TIDAK TERAMPUNI. SELURUH AGAMA MENGAJARKAN KEBAIKAN ITU BENAR, TAPI APAKAH SEMUA AGAMA MEMBERIKAN PAHALA KELAK DIAKHIRAT, TERUS PAHALA DARI SIAPA,,,TUHAN YANG MANA , APAKAH SEMUA AGAMA MENGAJARKAN SATUTUHAN. SAHABATKU BUKAN BERBUAT BAIKANNYA YG KITA LIHAT TAPI TUHANNYA YANG HARUS KITA LIHAT,TUHAN YANG MANA YANG KITA YAKINI

saya setuju toleransi haya boleh dalam bodang sosial bukan dalam bidang keyakinan, tidak saling ganggu itu udah bentuk dari toleransi. tapi jangan saling membantu dalam hal keagamaan.

sebagai umat islam ,,kita nurut apa kata ulama ajjha dekh ,hhe

perbedaan pendapat memang tntu pasti ada..namun kita ikut yang baik saja gan

meskipun sudah diharamkan ,,namun tetap saja kita sering mengucapkannya kepda teman teman kita.lantas gimana donk..?/

yg mengharamkan justru minoritas. Mayoritas ulama malah menghalalkan.

SELAMAT HARI NATAL 1434 H
MOHON MA'AF LAHIR & BATHIN

Islam demokrasi .. tdk ada dalil yang memaksakan harus beragama Islam .... Seorang nabi pun tdk bisa memaksakan anaknya beriman : Nabi Nuh ... tdk bisa memaksakan ayahnya beriman Nabi Ibarahim .. kita hargai perbedaan ...

Lakum Dinukum Waliadin
(“Bagimu Agamamu - Bagiku Agamaku”)

Kalau begitu, Habib Riziek Syihab orang wahabbi dong min (i.e Admin)... die juga mengatakan haram hukumnya mengucapkan selamat hari Natal kepada pemeluk Nashrani!....

Hi hi hi kesimpulannya lucu, seolah-olah netral tapi yang satu distempel "wahabi" . . . dan karena tidak mengucapkan selamat natal tergolong ekstrim dan intoleran. Hubungan dengan sesama anak bangsa yang berbeda agama masih banyak caranya, masa hanya gara2 tidak mengucapkan selamat natal saja langsung banyak distempel negatif . . . . suara mayoritas belum tentu benar, kepada yang minoritas pegang teguh prinsip yang Anda yakini.

WAH WAH, INI KAYANYA UDAH GILA DAN RUSAK ADA ORANG YANG MEMPERBOLEHKAN ORANG ISLAM MENGUCAPKAN HARI RAYA NATAL. WAH YANG NGOMONGNYA PASTI GA PAKE ILMU INI. PASTI ASAL NJEPLAK ASAL NGOMONG. DARI DULU UMAT ISLAM TIDAK MEMPERCAYAI ADANYA HARI NATAL. WAH KALAU ADA YANG NGOMONG BOLEH PERLU DITANYAKAN KEISLAMANYA. DIA ISLAM APA BUKAN KALAU ISLAM PASTI DIA ORANG YANG BODO. DAN TOLOL TENTUNYA. KITA ORANG INDONESIA ORANG BODO DALAM AGAMA TAPI UDAH BERANI NGOMONG BOLEH-BOLEH. KITA JANGAN MENGAMBIL OMONGAN-OMONGAN DARI ULAMA KITA SENDIRI APA ULAMA UDAH BISA MEMFATWAKAN SESUATU YANG BELUM TAU ILMUNYA KITA INI MASIH JAUH ILMU AGAMANYA. DARI MANASIH KITA BELAJAR ISLAM KO UDAH BERANI BIKIN FATWA BOLEH MENGUCAPKAN SELAMAT HARI NATAL. BANYAK ULAMA DILUARSANA YANG JAUH LEBIH TAU TENTANG ISLAM KITA INI MASIH BELAJAR. TAU APASIH TENTANG WAHABI BELJAR LAGI NANTI TAU APA ITU WAHABI. YANG MEMFATWAKAN BOLEH SANGAT PERLU DITANAYAKAN LAGI.

Maaf saya justru ragu dengan anda. Karena Rasul tidak pernah mengajari menghina dan mencaci orang lain. Dan saya yakin justru orang yang bekoar berilmu tapi sebenarnya tiada ilmu. salam.

orang yg membolehkan mengucapkan selamat natal itu pasti berpedoman kepada buku yang tidak jelas asal usulnya dan salah tafsir,
menggucapkan selamat berarti kita itu mendukung bukankah bedgitu

Jelas beda antara mengucapkan selamat dan mengikuti upacara/sakramen natal. Makanya MUI membedakan hal tersebut. Jelas pula MUI membolehkan memberikan ucapan selamat tapi mengharamkan ikut misa/sakramen.
Dari mana datangnya anggapan memberi ucapan selamat sama dengan masuk atau merestui kepercayaan mereka?

wallahualam

Agar nuansa ilmiyah ada, Lha sampean bisa nggak me nunjukkan teks asli fatwa MUI yg mengharamkan Ucapan Selamat Natal mas ?????.

Kristen,Yahudi dan selain Islam jelas KAFIR. Mengucapkan Selamat NATAL berarti keridhoan kita terhadap keyakinan KEJI mereka yang mengatakan Alloh mempunyai Anak atau Isa adalah Tuhan atau Trinitas.

Sebenarnya yg banyak membedakan kesimpulan adalah, TAFSIR MENGUCAPKAN SELAMAT APAKAH BERARTI RIDHO...?, ini kesimpulan yg bersumber pada logika dan pakai kira2, atau ada kaidah yg berbasis dalil yg kuat ???.

Kalau ada dalilnya mana hayoo ???

Tempo mungkin aja sarang JIL. Tetapi kata2 anda tentang

" Masih dalam periode kepemimpinan Buya Hamka, MUI juga mengeluarkan fatwa tentang haramnya umat Islam mengikuti perayaan natal dan "haram pula mengucapkan selamat natal". Fatwa tersebut mendapat reaksi dari Menteri Agam.."

itu bersumber dari mana mas ?. Mengucapkan Selamat Natal,..MUI apakh benar mengeluarkan FATWA....kalau bisa ketemu filenya,...baru itu ilmiyah

Pertama : Siapa penulis bacaan di atas ?
Kedua : Panjang dan mengutip sana sini tapi tidak ilmiah.
Ketiga : Diawali dengan statement Mayoritas dan minoritas
ulama.
Diakhiri dengan statemen Mayoritas dan sebagian kecil
ulama. Apa sudah anda lakukan penelitian/survey
lapangnan. Kalau belum berarti anda NGARANG.
Keempat : Sangat terlihat motivasi menyudutkan Salafy/Wahabi.

Kesimpulan : Tulisan ini hanya untuk menyudutkan kelompok tertentu.
SARAN : Belajarlah jujur dalam menulis. Utamakan data dan fakta.

Dari mane lu tau. Emangnye siape yang makse orang harus beragame Islam ? yang ade cume orang mau hancurin Islam dari luar dan dari dalam. Yang dari dalam itu adalah org2 murtad yang tidak mau melepas nama Islam. Itulah Kaum Sepilis Liberal yang berkonspirasi dengan pihak2 yg ingin menghancurkan Islam.....itu.

kalau masalah natal..di sebut..sebagai hari kelahiran yesus atau nabi isa..masa orang islam tidak boleh merayakannya..? nabi isa kan nabinya orang islam juga tetapi..kita tidak boleh meTuhan kan Nabi isa..itu beda nya muslim dengan non muslim jelas bukan

kaya lu bisa nulisa aja ..! otak lu jongkok kale

kalau masalah ini jelas ane tidak setuju walaupun masalah agama adalah masalah pribadi tetapi orang tua tetap bertanggung jawab terhadap..pendidikan anak2 nya di akherat kelak bukankah dalam isalm mengatakan "jagalah anada dan keluarga anda dari api neraka" ini kan sudah jelas..kedudukan org tua harus memberi pendidikan yang baik. tetapi kalau andaknya membangkan kayak sam nuh ya..itu di luar tanggung jawab ortu tentunya

klo mo aman akidahnya ya g usah ikut2an natal dalam bentuk apapun...toh banyak cara kita bermuamalah dengan baik.rosul kita orang paling santun, paling baik, paling toleran,paling hebat akhlaknya, tapi seumur hidup gak pernah ngucapin natal tuh. gitu juga sahabt2nya. trus klo kita ngikutin mereka jadi wahabi gitu???plis deh...

Terus kalo ngucapin selamat natal akidah jadi gak aman gitu? Trus kalo Nabi kagak pernah ngelakuin, berarti dilarang gitu? Plis deh..

kata "selamat" berarti tidak celaka
dan kata "natal" setahu saya itu adalah maulidnya yesus kristus..
kok berani sekali seseoarang yg mengaku islam mengucapkannya..?
sedangkan orng nasrani itu sudah musuh alloh yg sudah dijanjikan untuk mereka kecelakaan yg hina ..
saya menyoroti kata2 "menghargai perbedaan pendapat ulama yang berdasarkan pada argumen ilmiah"
apa gak salah gan..?
perbeda`an pendapat berdasarkan pada argumeni lmiah atau berdasarkan alqur`an dan alhadits...

nabimu siapa..? nabi muhammad apa nabi nuh..?
keturunanmu nanti mau beragama apa..?

BERilmu sebelum berkata2...
apakah ada muslim yg mengkafirkan muslim lain..?
ataukan si muslim itu yg meniru niru si kafir hingga masuk kategori kafir..?
berILmu sebelum berkata2.
selamat=tidak celaka
natal=maulid yesus kristus..
sedangkan alloh aza wa jalla membenci agama selain islam

mari kita amalkan ajaran islam sesuai dengan yang dicontohkan Rosululloh SAW aja. gak usah depat wahabi atau non-wahabi.

Menurut saya mantan Kristen.

Hanya orang TOLOL dan BODOH, yang mengucapkan Selamat Natal
Natal itu lahirnya Yesus, sama saja bilang "Selamat Allah melahirkan Anak"

Kalau bilang TOLERASI, itu tai kucing, Kristen juga mengharamkan mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA

DASAR kalian orang-orang Munafik, lebih hina daripada Kafir Yahudi dan Kafir Nasrani... Semoga Allah mengharamkan kalian mencium bau surga.

This comment has been removed by a blog administrator.

emmmm....nabi Isa itu kafir ya? kalo kafir kenapa di sebut nabi di dalam Islam ? Kristen itu kafir ya? saya Kristen!! Alkitab tidak pernah menyebut muslim itu Kafir!!
Kristen tidak pernah menyebut kalian Kafir...hari raya ato apalah soal upacara umat Muslim tidak pernah di sebut dalam Alkitab itu haram....
emmm..saya anggap kalian kolot dalam mencerna ajaran yg kalian pahami...
sedikit2 fatwa....sedikit2 haram....sedikit2 teror....merobek2 buku teriak2 atas nama ALLAH di iringi kekerasan....apa itu yg namanya ajaran cinta damai...

kalau menurut saya sih tdk mengapa, karena mewakili sebuah organisasi atw institusi yg mungkin di dalamnya ada orang2 non islam.. yang tdk boleh adalah mengucapkan selamat natal atas nama diri sendiri..

maunya digimanain emang?

Alkitab menyebut muslim domba yg tersesat.
Coba kalian Non-Muslim mengucapkan syahadat? padahal itu cuma kata-kata untuk menghormati muslim, kan sama saja :D
Selamat natal mengakui bahwa Allah punya anak atau syahadat Mengakui Allah itu Esa

Yg mengharamkan ucapan natal tidak hanya wahabi tetapi aswaja ada juga seperti guru kita Habib Syech

88. dan mereka berkata: "Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak".
89. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar,
90. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh,
91. karena mereka menganggap Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.
92. dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.
93. tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Surat maryam[19]

silahkan, jika ingin mengundang murka Allah

Betul saya sangat setuju , Admin mengatakan siapa yg mengharamkan ucapan 'selamat natal ' maka bisa di pastikan dia adalah seorang wahayin,..ini sangat lucu dan sungguh mengherankan ,Admn lupa tujuan dari natal itu sendiri " Mengukukuhkan Isa putera Maryam sebagai Allah ( putera Allah ) dan bertolak belakang dengan Al-qur'an bahwa Allah itu satu ,tidak beranak dan tidak juga di peranakan. Dan jelas menolak kebenaran surat Al-Maidah ayat ke-3..di mana Allah telah menyempurnakan agama dengan Islam dan hanya Islamyang Allah ridho'i.

Ada bisa cari Fatwa MUI tertanggal 23 Desember 2013 , itu sangat jelas keharaman mengucapkan selamat Natal..Kalau kami kutipkan nanti anda bilang " Bisa'a cuma copy Faste "

Anda Bisa baca Fatwa MUI tentang Haram'a mengucapkan Natal...

Fatwa MUI tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 Hijriyah / 7 maret 1981....Juga Fatwa MUI tertanggal 23 Maret 2013. Hampir setiap tahun MUI mengeluarkan Fatwa tentang keharaman ucapan selamat natal ini , dan semata-mata untuk menjauhkan kami ( umat muslim ) dari berlaku syirik kepada Allah. Karena tujuan natal ( Makna ) natal adalah pengukuhan Isa Putera Maryam sebagai Putera Tuhan.

Jangan heran Bung..Bhineka Tunggal Ika , itu untuk keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara..sedang Fatwa MUI itu untuk kebaikan hidup beragama..Anda harus bisa membedakan antara bernegara dan beragama. Toch walau MUI/ Kami mengharamkan ucapan selamat Natal bukan berarti kami memusuhi Umat Nasrani

D dalam agama islam qt d ajarkan u/ berbuat baik kpada orang bragama lain, bahkan suatu dosa besar,jka ada org bragama lain klaparan sdngkan qt tw tapi qt tidak mmbantu'y,akan tetapi u/ masalah keyakinan atau aqidah ajaran islam sangat tegas mengucapkan slmat natal itu brarti,qt tla mengakui tentang ktuhanan yesus (isa almasi),yg hal itu sangat tidak d akui d dalam agama islam, karna dlm islam isa almasi a/ seorang nabi yg mulia dan d lahirkan oleh se'org wanita yg mulia yg tidak d sentuh oleh seorang lelaki pun,makan'y d dalam islam ada aturan haram mengucapkan selamat natal kpada orang nasrani sebagai mana umat islam tdk perna berharap atau meminta org2 bragama lain u/ mengucapkan selamat atas klahiran nabi muhammad SAW.,
Ucapan perayaan natal tetap haram krena itu mnyangkut masalah akidah ,,dlm islam tdk ada toleransi sama sekali dlm hal akidah,lakum dinukum wa li yadini

Siapa admin di blog ini??beraninya dia posting artikel yg mengarah kpd pemurtadan,,tlong klo ingin murtad sndiri aja g ush ngundang2 org,,msuk neraka ngundang2..klo admin g trima sma kata2 saya silahkan datang ke saya,,saya tantang admin bserta antek2nya d tpt saya...ni pin saya 2A9B5792 no saya 087885802569

Sudahkah anda membaca artikel dan seluruh argumen artikel di atas? Kalau belum, bacalah dengan tenang. Dan kalau sudah, ekspresikan argumen anda. Itulah cara muslim yang beradab.

Janganlah jdi pinter yg kblinger, pinter putar balik fakta, Lakum Di Nukum Walyadin, kita hrus mnydarkan mreka dari kesesatannya (klau anda Islam) bukan mlah mbri slmat kpada mreka (mgakui agama mereka), jgn mngadu domba Islam dgn dasar azas negara kita

Klo menurut saya sih!!! Tidaklah haram mengucapkan slmt natal bagi umat muslim! Karena bukan berarti dgn mengucapkan slmt natal para umat muslim pun ikut merayakan dalam perayaan natal!!! Sama seperti ulang tahun kalau kita ucapkan slmt ulang tahun berarti kita hanya ikut menghargai mereka yg berulang tahun dgn mengucapkan salam!!!

Saya mohon ya comment saya ini tolong jgn dibalas karena hanya bikin rusuh doang!!!

Mengucapkan selamat berarti anda mengakui kebenaran yang diyakini pihak yang diberi ucapan selamat.Anda pernah mengucapkan "semoga lekas sembuh" kepada orang yang sedang sehat? Atau anda pernah mengucapkan "selamat menempuh hidup baru" kepada orang yang belum menikah? Ucapan selamat berarti anda mengucapkan doa dan memberi dukungan terhadap pihak yang diberi ucapan.
Jadi jangan anda teriak mencari dalil yaa, kalau anda Islam seharusnya yakin bahwa Allah itu tunggal.Lantas mengapa anda mendukung keyakinan lain yang meyakini Allah memiliki anak ???
Hayoo ??? Situ Islam atau provokator?

Sorry neh boss..
Ini setahu saya juga, Majelis dibuat untuk menuntun umat ketika terjadi selisih paham.Dan fatwa dikeluarkan juga berdasarkan dari sumber hukum utama yaitu Al Qur'an.Jadi kalau ente mau meyakini agama ente sesuka hati,silahkan tinggal di tempat diluar wewenang Majelis.
Kalau berpedoman ilmu masing masing,anda yakin ilmu anda sudah cukup untuk memahami ajaran keyakinan anda..??
kaya'nya gak deh kakak...

wkwkwkwkkwkwk...
ngakak juga baca tulisan situ..
udah semaju apa Indonesia ini sekarang..????
ente tinggal di hutan yaaa????
bego amat bilang Indonesia maju karena orang2 kafir..
Liat negara tetangga yang keyakinan Islamnya kuat..bandingin ama Indonesia..
Situ nulis Bhinneka Tunggal Ika aja masih blepotan,mo bilang Indonesia maju karena orang kafir..
Situ kale yang lagi ngimpi nonton HBO...

Kalau bersikap baik dalam pergaulan,balaslah dengan memperlakukan dengan baik dalam pergaulan juga.
Jika dia baik dalam ibadahnya,hormati dia dengan keyakinannya dengan memberi kebebasan dalam ia beribadah.
Jika dia bertamu ketika hari raya kita,terimalah sebagai tamu dan bersikaplah sebagai tuan rumah yang baik.
Jika dia merasa diperlakukan tidak adil,ajak dia ke komnas HAM..:)
....lha yang dia permasalahkan apa??? kalau mau merayakan dengan gegap gempita,suruh merayakan di gereja dong,,pasti disana dia akan bertemu dengan kaumnya yang sama sama merayakan milad Tuhannya...:)
situ kalau diajak merayakan jangan mau yaaa....

boss..coba cari lagi ya berita pelecehan,penyiksaan,pemerkosaan terhadap tawanan yang dilakukan prajurit amerika di setiap negara konflik yang melibatkan amerika.Banyak yang udah terungkap.Kalo situ lihatnya cuma berita cuaca,pasti dapetnya seperti yang situ tulis diatas..
btw,Islam tidak mengajarkan bencilah musuh-musuhmu.Situ kalo dapat tulisan yang comot separoh doang jangan disebarin yaa..secara gak langsung situ udah menyebarkan kebencian,yang sangat bertolak belakang dengan agama yang situ banggakan yang ajarannya "kasihilah musuh-musuhmu"...

haha..situ yang jadi kusirnya..
Pancasila itu untuk tuntunan sikap bernegara,bukan beragama..yang dibahas disini adalah sikap untuk umat Islam terhadap ucapan selamat kepada keyakinan agama lain,jadi kenapa situ bawa bawa Pancasila..? Masa hal seperti ini aja situ gak bisa bedain..?

Maaf saya juga ragu dengan anda. Rasul memang tidak mengajari menghina dan mencaci orang lain.Dan Rasul juga tdk pernah menyuruh umatnya mengucapkan selamat kepada hari raya agama lain.Jadi saya setuju dengan Gumilir.
Anda yang saya ragukan pemahamannya tentang Islam..atau anda memang mau merusak tatanan Islam dari dalam..?

Hasan :
Kalo nabi situ gak pernah mabok,situ pasti udah jadi jagoan mabok yaaa..???
Kalo Rasul sebagai pemimpin umat gak pernah nglakuin,kenapa ente repot2 nglakuinnya..? Plis deh cuplis..situ kalo bukan muslim,gak usah ikut bahas masalah ini yaa,,,

Woy,,kafir tu bahasa Islam,,bahasa ente "domba tersesat"..haram juga bukan bahasa ente,tapi bahasa muslim..
Situ kristen bener apa atheis? Islam dicampur aduk dengan kristen..???
Mana pernah nabi Isa dibilang kafir di Islam...situ saking semangatnya teriak kolot,mpe lupa Islam itu berbeda dengan Nasrani..emang ada nabi Isa di alkitab situ..??? Fatwa dan haram itu untuk muslim,bukan kaum ente..kalo kaum ente sih terserah2 aja mo ngapain aja...
Makanya baca berita yang bener yaa..cinta damai kok rebutan gereja...wkwkwkwk....

Dari Imam Al-Ghozali, seseorang yang mencari/menuntut ilmu hanya untuk berdebat dan tidak mencari solusi, maka celakalah.

Perbanyak Dzikir dan sholawat sebelum berkata/melakukan sesuatu
InsyaAllah akan ada yang lebih bijak dan lebih bisa dicerna..

Salam Ukhuwah
Innamal mu'minuuna Ikhwatun,

meskipun saya bukan dari aliran wahabi bahkan terus terang terangan saya di lahirkan dari keluarga yang mengikuti organisasi NU saya sendiri SAYA TIDAK SETUJU DENGAN TULISAN ADMIN YANG MEMECAH BELAH UMAT!!! bahkan ucapan yang membolehkan selamat hari natal adalah BUKTI LEMAHNYA IMAN TIDAK PUNYA PENDIRIAN dan MENJERUMUSKAN ORANG YANG JELAS SUDAH TERJERUMUS.
Jika anda tidak berani memposting ini sudah jelas anda sengaja memecah belah umat... Wassalam..

tidak perlu berdebat...kami damai dengan agama kami...siapapun yg mencari pembenaran tentu akan tersesat dalam fikirannya sendiri. tak ada yang kurang kalau saudara2 tak mengucapkannya. itu hak. lagian kami jg tdk paham tntang ajaran saudara2...intinya berbuat baik dan berdamai. soal agama dan ajarannya, semua merupakan warisan nenek moyang...kebetulan saya lahir dari rahim yg beragama ini. jujur saya malu bahkan merasa bersalah menuduhkan sesuatu yg sama sekali tidak saya pahami. manusia?

kasian jg yah...u baru bangkit dari kematian kah? atau dari terorisme dan melihat surga yg dihuni kaum muslimin? mimpi yg salah....:)hehehe

Allah lebih memilih orang yang menghargai org lain...untuk menjadi penunjuk jalan yg benar...semoga anda diberkati :)

dakwatuna.com – Jakarta. Hari Raya Natal tinggal menunggu hari. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan agar umat muslim agar tidak memberikan ucapan Selamat Hari Raya Natal kepada umat kristiani. MUI menilai hal tersebut hukumnya masih belum jelas dan lebih baik tidak dilakukan.
“Itu selalu jadi perdebatan, lebih baik nggak usah saja lah, cukup tahun baru saja,” kata Ketua MUI Ma’ruf Amin dalam jumpa pers di kantornya di Jalan Proklamasi nomor 51, Jakarta Pusat, Rabu (19/12).
Ia menegaskan, meski tidak mengucapkan selamat, umat Islam tetap harus menghormati perayaan Natal. Tapi tetap di dalam batasan-batasan ajaran agama Islam
“Tentu kita harus jaga toleransi tapi tentu ada fatwa MUI melarang untuk mengikuti ritualnya, karena itu ibadah,” ujar pimpinan tertinggi ulama se-Indonesia itu.
Seperti diketahui, setiap tanggal 25 Desember umat Kristiani merayakan Hari Natal. Setiap menjelang Natal, polemik boleh tidaknya umat islam mengucapkan selamat ramai diperdebatkan. Fatwa haram mengucapkan Selamat Natal itu dikeluarkan MUI pada Maret 1981. Saat MUI dipimpin oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab disapa Buya Hamka. Dan hingga kini fatwa tersebut masih diberlakukan. (dil/jpnn)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/19/25539/mui-kembali-tegaskan-larang-ucapan-selamat-natal/#ixzz2oohka665

Saya juga sangat tidak setuju
Min, jangan memperpecahbelah umat ini , kita itu ISLAM, Fatislah trhadap islam , jangan alirannya. Kita kan tetep memiliki Tuhan yg sama (Allah), Panutan yg sama (rosulallah), Kitab yg sama (Al-qur'an), sama" mngucapkan Syahadat.
Sekarang bukan saatny untuk debat msalah aliran wapaupun membuka pikiran itu ttp wajib

wahai sahabat, anda sebagai muallaf, kami bersyukur mndapat saudara baru
Tapi kata" terakhir anda (emoga Allah mengharamkan kalian.... ) yg justru bisa mnjerumuskan anda.
Seorang Muslim yg mengatakan saudara sesama muslimnya "kafir" berarti dia sndiri adalah kafir

Semoga Allah SWT mengampuni anda

This comment has been removed by the author.

dalam Islam tidak butuh warisan nenek moyang dan perasaan.. semua telah diatur dengan jelas.. :)

Bangga jd umat islam indonesia, teryata ulama MUI sdh jd wahabi. itu artinya dakwah wahabi udah diterima dgn baik di indonesia. kan Admin mengatakan siapa yg mengharamkan ucapan 'selamat natal ' maka bisa di pastikan dia adalah seorang wahabi. jd MUI = Wahabi ... kasihan admin ...

kalau kita yang "mengaku" umat muslim, yang percaya kepada allah subhanawataala semata dan sunnah rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentu tidak akan mengucapkan "selamat" kepada orang kafir yang sudah jelas mereka akan masuk neraka kecuali dengan taubat walaupun dengan alasan damai. lihat surat al kafirun. awalnya mungkin hanya mengucapkan selamat, nanti lama kelamaan akan ikut ikutan terubah aqidahnya. wallahu a'lam

Sebenarnya ga usah diperdebatkan yg seperti ini malah jadi saling serang kan ,itu tergantung pribadi kita masing2 saja..kita mau mengucapkan atau tidak itu hak setiap orang walaupun fatwa MUI melarang pada kenyataan nya selama saya lihat bnyk juga yg muslim yg mengucapkan kepada org nasrani ,dan sebaliknya org nasrani pun bnyk yg mengucapkan kepada yg muslim...jd itu tergantung pribadi masing2....kan yg menanggung dosa pun diri kita sendiri bukan orang lain dan yg berhadapan dengan allah pun diri kita sendiri bukan org lain itu atas dasar pemikiran masing2 saja ...percuma kita bilang gini gt dilarang/tidak tapi org yg kita bilangin nya berbeda pendapat yah intinya itu atas dasar kesadaran kita sendiri jadi ga ush diperdebatkan..mau org tulis apa terserah kita ambil aja inti2 yang baiknya dan kita jalankan...jd ga ush pada ribut2 intinya damai,bertoleransi antar agama toh ajaran agama semua mengajarkan kebaikan bukan keburukan cuma berbeda dlm cara pengajarannya saja...

JANGAN MENGUCAPKAN KEPADA YANG MERAYAKAN NATAL....

PERINGATAN ULAMA

• Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:
“Kalau sekiranya agama itu dari akal niscaya bagian bawah khuf1 lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggung (atas) khufnya.”
(HR. Abu Dawud 162, Al-Baihaqi 1/292, Ad-Daruquthni 1/75, Ad-Darimi 1/181, Al-Baghawi 239, dan Ahmad 943&970. Dishahihkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di dalam kitab At-Talkhis Al-Khabir 1/160)
• Imam al-Ashbahani rahimahullah berkata,
“Ketahuilah, sesungguhnya pemisah antara kita (Ahlus sunnah ) dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah (mendudukkan) akal. Karena sesungguhnya mereka membangun agamanya di atas pemikiran akal, dan mereka menjadikan ittiba’ dan atsar harus mengikuti hasil pemikiran mereka. Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mengatakan : pondasi agama adalah ittiba’ sedangkan pemikiran itu mengikutinya. Sebab seandainya asas agama itu adalah pemikiran niscaya umat manusia tidak perlu bimbingan wahyu, tidak butuh kepada para nabi. Kalau memang seperti itu niscaya sia-sialah makna perintah dan larangan. Setiap ¬orang pun akan berbicara dengan seenaknya. Dan kalau seandainya agama itu memang dibangun di atas hasil pemikiran niscaya diperbolehkan bagi orang-orang beriman untuk tidak menerima ajaran apapun kecuali apabila pemikiran (logik¬a) mereka telah bisa menerimanya.” (lihat Da’a’im Minhaj an-Nubuwwah ,hal. 336)

• Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Ada tiga pokok yang menjadi pondasi kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya.

[1] Tauhid, lawannya Syirik.

[2] Sunnah, lawannya Bid’ah.

[3] Ketaatan, lawannya adalah Maksiat.

Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikandi sisi-Nya.” (al-Fawa’id, hal. 104)

A : “Kamu koq mengucapkan Selamat hari Natal kepada non muslim? padahal kamu kan muslim?”
B : “Saya ingin berbuat baik kepada mereka. Apalagi mereka bukan kafir harbi (kafir yang memerangi). Bukankah Allah Ta’ala berfirman:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu…” [QS. Al-Mumtahanah: 8].
A : “Kamu telah salah dalam mengambil dalil. Firman Allah tersebut mengenai berbuat baik seperti memberi makan atau menyantuni Non Muslim atau bergaul dengan orang tua yang Non Muslim. Bukan untuk berbuat dosa seperti Syirik dengan mengucapkan Selamat Natal kepada mereka yang merayakan kelahiran Tuhan mereka. Apakah kamu tahu asbabul nuzul ayat tersebut?

Sebab turunnya ayat Al Qur’an di atas adalah sebagai berikut:
Imam Bukhari membawakan Bab dalam kitab Shahihnya “Menjalin hubungan dengan orang tua yang musyrik”. Kemudian beliau membawakan riwayat berikut:
Asma’ mengatakan, “Ibuku mendatangiku dan ia sangat ingin aku menyambung hubungan dengannya. Kemudian aku menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah aku tetap menjalin hubungan dengannya? Beliau pun menjawab, “Iya boleh”.” Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya), “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama.” [QS. Al Mumtahanah [60] : 8]”
B : “Dulu mereka (kaum nasrani) telah mengucapkan selamat kepada saya ketika hari raya Idul Fitri. Nah, ketika hari raya mereka, maka saya membalas kebaikan mereka dengan mengucapkan Selamat hari Natal. Ada dalilnya tentang hal ini. Allah Ta’ala berfirman:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (QS. An Nisaa : 86).
A : “2x kamu salah dalam mengambil dalil. Sesungguhnya firman Allah tersebut menyangkut dengan ucapan salam: “Assalamu’alaikum”. Bukan ucapan Selamat Natal yang mengandung kemusyrikan. Itu pun ucapan salam di atas berlaku jika pemberinya adalah sesama Muslim, Bukan non Muslim. Jika yang memberi salam Non Muslim, kita cukup menjawab “Wa ‘alaikum”. Sebab kita tidak boleh mendoakan Non Muslim dengan semoga Allah memberimu Keselamatan, Rahmat, dan Keberkahan sementara mereka tidak mau beriman kepada Allah.
Hadits riwayat Anas bin Malik: Rasulullah bersabda: ‘Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum.’ (Shahih Muslim No.4024).

B : “Ah…ini kan masalah sepele, gak usah terlalu dibesar-besarkan. Nanti bisa terjadi perpecahan antar umat beragama.”
A : “Menurut kamu mungkin kecil atau sepele. Tapi bisa jadi di sisi Allah ucapan itu sangat besar akibatnya. Allah Ta’ala berfirman:
“Mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak.’ Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh” [Maryam 88-90].
Bukankah ucapan selamat itu mendukung pemahaman mereka yang menyakini bahwa Allah memiliki anak?
B : “Tapi bukankah ada ulama dan kyai yang membolehkan seorang muslim mengucapkan Selamat Natal kepada non muslim?”
A : “Kita tidak boleh taqlid buta kepada ulama. Jika ulama itu telah keliru, maka jangan diikuti. Seandainya mengucapkan Selamat Natal itu baik, niscaya Nabi dan para sahabat2nya serta para Imam Ahlus Sunnah telah melakukannya, sedangkan mereka hidup di tengah orang2 non muslim.”
B : “Sesungguhnya saya hanya sebatas mengucapkan selamat saja, sedangkan hati saya mengingkari keyakinan mereka. Agar mereka tidak membenci kita, bahkan akan mencintai kita.”
A : “Kalau begitu, bagaimana menurut kamu jika ada orang yang memberikan ucapan selamat kepada orang yang berhasil melakukan korupsi?
Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil berzina?
Atau mengucapkan selamat kepada maling yang telah berhasil mencuri?
Atau mengucapkan selamat kepada orang yang telah berhasil membunuh orang yang tidak berdosa?
Apakah hal itu dibolehkan menurut kamu?”

B : “Ya jelas tidak boleh. Karena itu sama saja mendukung perbuatan mereka dalam maksiat dan dosa.”
A : “Kalau itu tidak dibolehkan menurut kamu, berarti memberikan ucapan selamat Natal lebih tidak dibolehkan lagi, karena hukumnya jauh lebih besar dari ucapan2 selamat diatas. Perbuatan korupsi, zina, mencuri dan membunuh hanya sebatas dosa maksiat. Adapun merayakan hari Natal adalah termasuk dosa kesyirikan. Sedangkan dosa kesyirikan jauh lebih besar daripada dosa kemaksiatan.”
B : (o_0) … (melotot)

This comment has been removed by a blog administrator.
This comment has been removed by the author.

Dr. Zakir Naik dan Ahmad Deedat (Pakar Kristolog, hafal ayat-ayat penting dari 4 injil) juga bisa membaca injil ibrani dan injil yunani kuno. mereka bukan Wahabi, tetapi mengharamkan Ucapan Natal. mereka pakar kristen yang sudah mengislamkan ribuaan orang. Lha anda? justru ingin menyamakan kristen dan islam, kalau tidak ada jurang pembatas dalam aqidah maka umat islam bisa murtad!!

http://santri.net/aqidah/974-tasyabbuh-i-mengucapkan-selamat-natal/

itu situs Ahlussunah, Anti Wahabi

Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Hukum,
menurut saya Kekuatan hukum merupakan bidang yang
sangat menarik juga banyak hal yang bisa dipelajari
di Dunia Hukum.
Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai
Perhukuman yang bisa anda kunjungi di
komunitas Hukum

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Mengucapkan selamat natal itu sama halnya dengan mengucapkan salam. Karena salam itu berarti mendoakan selamat. Hadits ini sudah secara jelas melarang mengucapkan selamat natal pada Nashrani.

This comment has been removed by the author.

Shufi Indonesia

http://shufi-indonesia.blogspot.com/2014/12/mengucapkan-selamat-natal.html

Semua orang punya hak masing-masing dalam iman yang dipilihnya, masalah siapa yang benar itu akan terbukti saat kita sdh mati.
Spt kaum muslim mengatakan diluar Islam adalah kafir dan tidak akan masuk surga, sedang orang Nasrani percaya, bahwa yesus adalah jalan kebenaran dan hidup dan barang siapa tdk melalui Dia tdk akan masuk kerajaan surga.
Jadi ya tinggal masing-masing kita percaya yang mana dan jangan saling menghakimi, setuju kan?

Buya Yahya seorang Wahabi menurut definisi diatas.....

https://www.youtube.com/watch?v=jUdgKdtzrVw

dan apakah mimpi anda benar, kita buktikan saja di akhirat nanti...

BENCI WAHABI KOK MEMBABI BUTA SEAKAN WAHABI ITU JELAS2 PENGHUNI NERAKA DAN SESAT SEMUA

banyak orang indonesia yang belum pantas menjadi orang Islam. masih banyak orang munafik. menjadikan agama sbg tameng utk menyelamatkan dan memuaskan diri sendiri. kalian bangga2kan orang2 arab dengan lebay, menggunakan bahasa2nya layaknya kalian ini orang sana saja. Islam diturunkan di Arab bukannya dulu karena di sana orang2 jahiliyah semua ya??

bagimu agama mu. .bgi ku agma ku!? bres kan?yg mengucapkan natal slhkan yg mrsa bkan muslim. krna hadist nya sdah jlz

Kenapa harus menderita? Ikuti saja hatimu, maka kamu nggak akan menderita. Gimana gak merasa menderita, wong kamu tidak berdamai dengan hatimu. Semua dilihat dengan kaca mata kuda dan tafsir semaunya.

Kamu tahu nggak kalo Islam mengakui Kristus? Kalo Kristus lahir dari Maria? Baca dan pelajari kitabmu dulu baru berkomentar.

saya bukan wahabi namun saya lebih setuju bahwa haram mengucapkan selamat natal. banyak dalil yg menunjukkan keharamannya.
satu contoh saja:
saat orang nasrani mati, bolehkan kita orang islam mengatakan ALMARHUM?
Coba anda lihat kembali apa itu makna dari selamat. dan kalau dibahasa arabkan menjadi SALAM.
anda juga bisa melihat siapa itu quraish shihab. bagaimana dia dibantah besar-besaran oleh sidogiri!

apakah makna mengucapkan "selamat natal" dan "selamat merayakan natal" itu berbeda? terima kasih :)

Selamat Natal. Selamat memperingati hari kelahiran Isa A.S.
Qs Maryam:33
ﻭَﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻋَﻠَﻲَّ ﻳَﻮْﻡَ ﻭُﻟِﺪْﺕُ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺃَﻣُﻮﺕُ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺃُﺑْﻌَﺚُ ﺣَﻴًّﺎ
Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada
hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada
hari aku dibangkitkan hidup kembali ".

media.isnet.org/antar/gapai/NatalMUI1981.html

Itu awal mulanya fatwa MUI zaman Buya Hamka. Tidak ada pengharaman ucapan selamat natal.

Dan ini dari republika, bukan JIL: m.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/23/nh0yp6-irfan-hamka-buya-ucapkan-selamat-natal

soale mereka juga membabi buta membenci ahlus sunnah yang gak sepahaman dengannya

AKU GAK IKUT ULAMA' KONTEMPORER. Aku lebih suka pada kiai sepuh !!!!.

Salah satu kiai sepuh yang di Indonesia beluma ada tandingannya, yaitu Ibnul Qoyyim berfatwa tentang hal ini. Silakan browsing dengan kata kunci "Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir".

Teman-teman nasrani sy bisa mengerti dan menerima bahwa sy tidak bisa mengucapkan selamat natal karena menjaga agama sy dan bukan krn tidak menghormati mereka, dan mereka jg tidak mengharapkan ucapan selamat dr sy krn mereka tahu itu berarti meminta sy u tidak mengikuti ajaran agama sy, kenapa teman-teman muslim sendiri justru mencela keyakinan agama kita dgn menyebutnya sbg tidak menghormati umat nasrani, saling menghormati dan menjalankan keyakinan adl dua hal yg berbeda, tgs kita menjalankan ajaran agama kita dan tetap menjaga kerukunan dgn umat agama lain, bukankah menjaga kerukunan umat beragama berarti menghormati keyakinan masing2, umat nasrani tentu bisa menghormati keyakinan kita u tidak mengucapkan selamat krn mereka jg punya kewajiban u menjaga kerukunan umat beragama

1. Kirim konsultasi Agama ke alkhoirot@gmail.com atau info@alhoirot.net Cara Konsultasi lihat di sini!
2. Konsultasi hukum waris Islam, lihat caranya di sini
3. Konsultasi melalui kotak komentar tidak akan dilayani.

EmoticonEmoticon