Friday, March 27, 2015

Trauma Pelecehan Pacar, Tapi Masih Cinta


Trauma Pelecehan Pacar, Tapi Masih Cinta
PACAR LAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL, IBADAH TERGANGGU

Assalamualaikum wr wb.

Langsung saja ke masalah saya, saya wanita 30 thn. Sampai diumur saya sekarang saya belum pernah menjalani yang namanya pacaran, karena orang tua melarang saya pacaran dan saya sendiri tidak mau menjalani suatu hubungan tanpa adanya suatu kepastian (menuju pernikahan). Dan saya tidak suka menjalin hubungan sampai bertahun-tahun tanpa ada kepastian. Pada bulan 11 tahun 2013 Saya berkenalan dengan laki-laki (sebut saja C ) seorang PNS, punya rumah dan mobil, punya usaha sampingan. Si C bekerja diluar kota. perkenalan kami melalui perantara. Kakak (teman pimpinan/atasan saya) C melalui pimpinan saya menanyakan apakah saya mau kalau dikenalkan dengan adiknya.

TOPIK KONSULTASI ISLAM
  1. PACAR LAKUKAN PELECEHAN SEKSUAL, TAPI MASIH MENCINTAINYA
  2. BAGIAN WARIS ISTRI DAN 4 ANAK KANDUNG
  3. CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM

Dan pimpinan saya menyuruh saya menerimanya. Awalnya saya ragu menerima perkenalan seperti itu karena perkenalannya lewat sms, dan saya belum tahu ataupun mengenal kakak C, walaupuun sering ada acara yang melibatkan antara kepala lembaga dan staf admin, tapi saya belum tau wajah dan suara kakak C. Dan pimpinan saya bilang, C sama seperti saya belum pernah pacaran dan kakaknya bilang ke pimpinan saya kalau saya dan adiknya sudah saling kenal kami akan dinikahkan secepatnya. Karena permintaan pimpinan saya akhirnya saya menerima perkenalan tersebut. Dari orang tua saya terutama ayah sebenarnya sudah ragu dengan C, ayah saya khawatir kalau saya menikah dengan dia kalau ditengah-tengah kehidupan rumah tangga saya ada pertengkaran dia akan mengungkit-ungkit saya masuk ke rumah itu bawa apa, kamu kesini gak bawa apa-apa, itu yang ayah saya khawatirkan, tapi saya yakinkan kepada ayah saya insya allah dia tidak seperti itu.

Mungkin karena kebodohan saya yang terlalu percaya kepada orang, saya justru jadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh C. Saya dan C tidak melakukan hubungan suami istri tapi C berbuat tidak baik ke saya dan semua yang terjadi karena paksaan dari C, mulai mengajak saya ketemuan diluar, mengajak saya membicarakan hal-hal yang belum waktunya dibicarakan. Sebenarnya setiap C mengajak saya membicarakan hal-hal yang tidak baik melalui tlp dan sms saya selalu menolak tapi C terus memburu dan merayu saya bahkan berjanji akan menikahi saya. Bahkan didalam sms dan tlp dia pernah mengajak saya melakukan hubungan suami istri jika dia pulang kerumah orang tuanya, walaupun Cuma ajakan melalui sms dan tlp ajakan itupun saya tolak.

Karena rayuan, janji dan seringnya C menghubungi saya, saya jadi suka sama C . Hampir setiap hari C menghubungi saya melalui tlp dan sms, sms dan tlp si C lah yang membuat saya dan keluarga yakin bahwa C benar-benar serius. Setelah pertemuan saya yang ketiga dengan C saya jadi murung, melihat keadaan saya yang murung bahkan saya sampai jatuh sakit, orang tua saya terus menerus tanya ke saya apa yang terjadi saat saya keluar dengan C, apa yang dibicarakan dengan C setiap kali C tlp, kenapa C tidak bertandang lagi kerumah setelah pertemuan ketiga dengan C.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu hampir setiap hari ditanyakan ke saya tapi saya jawab tidak terjadi apa-apa dan tidak ada hal penting yang kami bicarakan dan saya bilang ke orang tua saya kalau setelah dari rumah C sakit. Saya tidak mau memberitahukan yang terjadi karena saya menunggu itikad baik dari C. Tapi sepertinya orang tua saya terus curiga kepada saya karena saya tetap murung dan selalu menghindar dari keluarga. Maaf, setidaknya ustadz/ustadzah tahu bagaimana psikologis korban pelecehan seksual. Itu yang saya alami, mau cerita apa yang terjadi saya takut tapi kalau tidak cerita saya stres dengan apa yang sudah saya alami.

Orang tua saya sempat ingin menemui pimpinan saya menanyakan bagaimana kepastian dari keluarga C tapi saya larang karena saya tidak mau keluarga C berpikiran orang tua saya menginginkan pernikahan secepatnya karena harta. Dari perkenalan saya dengan C terus terang saya yang paling tertekan, pertama apa yang sudah C lakukan ke saya seakan-akan bagi C adalah hal yang biasa, kedua saya menghadapi oang tua yang terus menerus menanyakan bagaimana kepastian dari C dan dari keluarga C, ketiga hampir semua orang mengira bahwa perkenalan saya dengan C sudah ada pertemuan 2 keluarga padahal belum, dan orang-orang taunya justru dari kakak C yang bilang ke orang-orang terdekatnya bahwa saya dengan C dijodohkan, yang keempat kakak C melalui pimpinan saya hanya menanyakan “ bagaimana anak-anak apakah masih sambung”, seakan-akan hubungan yang putus nyambung adalah hal yang biasa bagi C dan keluarga, terus terang saya merasa dipermainkan dengan perkenalan ini. Saudara saya yang dengar perkenalan saya dengan C menemui orang pintar, jawaban dari orang orang pintar bahwa C sebenarnya sudah punya pacar dan dia mendekati saya tapi dia tidak bisa melepaskan pacarnya yang sekota dengan dia, orang tua saya juga melakukan hal yang sama, hasilnya bahwa C punya pacar di kota tempat dia bekerja.

saya tidak percaya dengan apa yang dikatakan saudara dan orang tua saya tapi hati saya seprti membenarkan apa yang dikatakan orang tua dan saudara saya ke saya. Saya lihat di facebooknya C pada bulan januari 2013 C makan bareng dengan perempuan, saya tanyakan ke dia siapa perempuan itu si C tidak mau menjawab dengan alasan tidak mau membuat saya tidak nyaman, akhirnya saya diam. Sampai dibulan keenam kepastian dari C dan keluarganya tidak ada.

Akhirnya saya coba menghubungi C, dari percakapan kami C mengeluarkan kalimat yang membuat saya tidak bisa menahan emosi saya. Saya sudah tidak bisa menahan marah saya, akhirnya saya memberitahukan kakaknya dan orang tua saya apa yang C lakukan ke saya, tujuan saya memberitahukan perbuatan C adalah supaya keluarganya bisa secepatnya menikahkan saya dengan C dan supaya C tidak seenaknya mempermainkan perempuan. Orang tua saya datang ke keluarganya C dan memberi 2 pilihan ke keluarganya C menikahkan saya dengan C atau C akan dituntut secara hukum.

Tapi keluarganya minta diberi waktu dan akan mendiskusikan dengan keluarga besarnya. Tapi C tidak mengakui perbuatannya. Dia menyuruh saya sms kakaknya bahwa tidak terjadi apa-apa antara saya dengan C dan kalau saya tidak mau melakukan yang dia perintahkan dia mau mutusin saya, akhirnya saya iyakan permintaannya. Dan 2 hari sebelum puasa ramadhan 2014 C datang menemui orang tua saya dan bilang tidak terjadi apa-apa antara saya dengan C dan dia juga bilang bahwa dia menderita penyakit diabetes dan kemungkinan dia tidak bisa memberi nafkah batin jika dia menikahi saya, terus terang saya kecewa dengan apa yang dia katakan didepan kedua orang tua saya dan saya, yang membuat saya kecewa kenapa dia tidak jujur waktu diawal perkenalan, dan kenapa dulu dia membicarakan hal-hal yang tidak perlu . Dia juga bilang ke orang tua saya dia meminta waktu sebulan untuk menyelesaiakn urusannya.

Sampai waktu yang dia tentukan dia tidak menghubungi saya maupun orang tua saya. Sampai 3 bulan lebih waktu yang dijanjikan dia tidak menghubungi saya dan orang tua saya tentang urusan yang dia katakan itu. Orang tua saya sangat marah karena merasa dipermainkan, orang tua saya menemui keluarga C lagi, saya tidak tahu apa yang terjadi dirumah keluarga C, tapi penjelsan yang ditrima orang tua saya dari keluarga C dan penjelasan yang saya terima dari C berbeda.

Sesampai dirumah orang tua saya bilang ke saya hubungan saya dengan C tidak usah diteruskan karena C tidak jujur dan kalaupun diteruskan rumah tangga saya dengan C tidak akan tentram.. Beberapa minggu yang lalu saya menanyakan kembali tentang perempuan yang makan bareng dengan C, akhirnya C mengaku bahwa perempuan itu memang pacarnya dan selama C berkenalan dengan saya, dia masih berhubungan dengan perempuan itu tanpa sepengetahuan keluarganya.

Saya sebenarnya masih berharap bisa bersatu dengan C karena saya masih suka C, bahkan sampai sekarang pun saya masih suka Tapi kalau ingat dengan semua perbuatan dan perkataan C hati saya sakit. Kalau stres sampai sekarang saya masih stres, sering saya menangis dan terus terang semenjak saya kenal C ibadah saya turun. Walaupun sholat 5 waktu dan puasa sunnah masih saya laksanakan tapi saya tidak bisa merasakan kenyamanan dalam beribadah. Saya selalu ingat semua yang terjadi. Sering terlintas dalam pikiran saya, saya ingin menempuh jalur hukum untuk menuntut C supaya dia dipecat, saya punya bukti rekaman percakapan saya dengan C dan didalam rekaman itu C mengakui kesalahannya dan apa yang dilakukan ke saya karena khilaf. Disisi lain saya kasihan sama C, saya tidak mau menghancurkan karirnya walaupun dia sudah mempermainkan saya, dia jadi PNS diusianya hampir 40 thn dan saya juga tidak mau kakaknya menanggung malu didepan teman-teman seprofesinya jika tahu bahwa adiknya adalah pelaku pelecehan.

3 bulan pertama mengenal C, C banyak bercerita tentang gaya berpacaran teman-temannya dan pergaulan teman seprofesinya, mayoritas teman-teman C bahkan yang seprofesi dengan C menghalalkan hubungan yang belum/tidak halal. Pandangan saya dan C tentang pernikahan berbeda. Bagi saya laki-laki dan perempuan menikah tidak dihitung dari seberapa lama sebuah perkenalan, tidak dihitung dari seberapa sering laki-laki bertandang kerumah siperempuan dan tidak dihitung dari seberapa sering jalan bareng. Bagi saya jika memang sudah meniatkan diri untuk melaksanakan ibadah(menikah) perkenalan sesingkat apapun pasti kedepannya akan membawa kebaikan asalkan keduanya saling jujur diawal perkenalan. Tapi bagi C tidak, bagi C untuk menikah diperlukan hubungan/perkenalan yang lama, bahkan bagi C hubungan yang putus nyambung adalah hal yang biasa. Orang tua saya selalu menekankan untuk berbuat jujur, dimanapun kami tinggal kami harus jujur. Orang tua saya tidak ingin anak-anaknya bermain petak umpet dibelakang orang tua.

Dari penjelasan diatas yang ingin saya tanyakan:

1. Apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki ibadah saya??

2. Apa yang harus saya lakukan agar saya benar-benar bisa melupakan kejadian buruk yang menimpa saya?? Terus terang semua kejadian itu masih teringat terus dalam pikiran saya, bahkan dalam sholat pun saya sering tidak bisa menahan air mata saya.

3. Apakah salah jika saya menuntut C melalui jalur hukum??

4. Apakah saya salah jika memberitahukan keluarganya tentang pergaulan C dikota tempat dia bekerja?? saya ingin memberitahukan ke keluarganya dengan tujuan supaya keluarganya bisa menasehati C dan supaya C bisa menghormati suatu hubungan yang terjalin dan bisa menghormati perempuan.

5. apakah larangan orang tua saya untuk tidak meneruskan hubungan saya dengan C karena ketidakjujuran C harus saya patuhi?? Dan apakah saya berdosa dan durhaka jika saya tetap minta dinikahkan dengan C??

6. Apakah saya salah dan berdosa memberitahukan perbuatan C ke kakaknya dan ke orang tua saya?? Alasan saya memberitahukan perbuatan C ke kakanya dan ke orang tua saya adalah supaya saya cepat dinikahkan dengan C supaya C tidak berpikiran macam-macam lagi.

7. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَحَبِيْبِنَا وَرَسُولِكَ الكَرِيْمِ وَبِأَلْفِ أَلْفٍ لاَحَولَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Saya menemukan ayat tersebut diinternet, kalau boleh tahu arti dari ayat tersebut apa dan bagaimana cara mengamalkannya???

8. Apakah salah Jika saya meminta C untuk meminta maaf ke kedua orang tua saya?

Mohon solusi dan penjelasannya, terima kasih


JAWABAN

1. Karena problema yang sedang anda hadapi disebabkan oleh kasus pelecehan yang dilakukan C dan tidak jelasnya pernikahan anda dengan C, maka solusinya adalah apabila anda sudah menemukan pengganti C dan menikah dengannya. Idealnya, pengganti C adalah pria yang taat dan seimbang dengan status sosial keluarga anda. Agar kepercayaan diri anda dan keluarga lebih terjaga.

2. Itu tak lepas dari kesalahan anda juga yang telah melanggar aturan syariah dengan berpacaran secara fisikal dan berduaan dengannya ke beberapa tempat. Jadikan itu pelajaran dari Allah dan ambil hikmahnya dengan tidak mengulangi cara pacaran seperti itu lagi di masa depan. Baca: Kholwat dalam Islam

3. Menuntut itu tidak salah itu hak anda, tapi itu tidak perlu. Itu tidak akan membuat trauma anda hilang. Sebaliknya, aib anda yang seharusnya tersimpan rapi malah jadi terbuka lebar.

4. Itu kurang tepat. Bagaimanapun keluarga C akan lebih mempercayai C daripada anda. Seandainya pun mereka percaya cerita anda, mereka akan menilai buruk pada anda sebagai wanita yang tidak bisa menjaga nama baik orang lain.

5. Perintah orang tua anda dalam hal ini sebaiknya ditaati. Dalam hal ini mereka benar. Justru kalau anda melawan dan bersikeras menikah dengannya, anda akan sangat mengecewakan orang tua dan akan dianggap sangat negatif. Baca: Huku Taat Orang Tua

6. Kurang tepat, itu namanya membuka aib orang lain. Dan itu yang dinilai oleh mereka.

7. Itu sholawat kepada Rasulullah, bukan ayat Al-Quran. Sebagaimana umumnya sholawat, isinya adalah doa kepada Allah supaya memberi rahmat dan keselataman pada Nabi Muhammad. Baca: Sholawat Nabi

8. Tidak salah kalau anda meminta C meminta maaf.

Baca juga: Cara Memilih Jodoh

____________________________


BAGIAN WARIS ISTRI DAN 4 ANAK KANDUNG

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pada saat meninggal orang tua saya (laki2) meninggalkan ahli waris sbb :

1. Istri
2. 2 (dua) anak laki2
3. 2 (dua) anak perempuan

Meninggalkan harta warisan berupa sebuah rumah dengan luas lebih kurang 96 meter.

Pasa saat ini ibu saya ingin menjual rumah tersebut kepada adik saya yang laki-laki sebesar 220 juta rupiah.

Akan tetapi adik saya yang perempuan mau meminta tanah saja selebar 18 meter.

Jadi dari uang yang 220 juta tersebut akan di bagi kepada : saya (anak laki2), ibu saya dan adik saya (prempuan), yang jadi permasalahan adalah bahwa ibu saya akan membaginya sebagai berikut : saya anak-laki dapat 75 juta, adik saya yang perempuan dapat 35 juta dan sisanya untuk ibu saya .

pertanyaan :

1. Apakah pembagian warisan tersebut dapat dibenarkan dalam hukum Islam.
2. Berapakah masing-masing Bagian menurut Hukum Islam (sekiranya uang 220 juta di bagi untuk saya, ibu dan adik saya).
3. Bagaimana sekiranya saya menolak tanah tersebut di jual kepada adik saya apakah saya ber dosa kepada orang tua saya.

Demikian pertanyaan saya mohon dapat jawaban segera tks

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

JAWABAN

1. Tidak benar menurut hukum waris Islam.

2. Pembagian yang benar adalah sebagai berikut:
(a) Istri dapat bagian 1/8 (seperdelapan) x 220 juta = 27.500.000.
(b) Sisanya yang 7/8 (atau 192.500.000) dibagikan kepada 2 anak kandung laki-laki dan 2 anak kandung perempuan di mana anak lelaki mendapat bagian dua kali lipat dari anak perempuan. Jadi, bagikan harta yang 7/8 (atau 192.500.000) menjadi 6 bagian. 2 anak lelaki masing-masing mendapat 2 (dua) bagian, sedangkan kedua anak perempuan masing-masing mendapat 1 (satu) bagian. Baca detail: Hukum Waris Islam

3. Tidak berdosa. Anda berhak menolak atau menerima karena anda bagian dari ahli waris. Status anda dan ibu anda sama dalam hal ini. Baca: Hukum Taat Orang Tua

CATATAN: Pembagian di atas apabila ayah atau ibu dari ayah anda (berarti kakek/nenek anda) sudah meninggal. Kalau ada salah satu yang masih hidup, maka masing-masing mereka dapat bagian 1/6 (seperenam)



Cari artikel lain:




Copy link berikut untuk referensi kutipan:

Jangan lupa baca yang ini juga ..